Posted by: mcenter | July 14, 2007

CeluriiiiiiiTTTTTT

Celurit memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Madura, Jawa Timur. Senjata tajam yang berbentuk melengkung ini begitu melegenda. Sejak dahulu kala hingga sekarang, hampir setiap orang di Tanah Air mengenal senjata khas etnis Madura ini. Saking populernya, celurit kerap diidentikkan dengan berbagai tindak kriminal. Bahkan celurit juga digunakan oleh massa saat terjadi kerusuhan maupun demonstrasi di pelosok Nusantara untuk menakuti lawannya.

Boleh jadi, begitu mendengar kata Madura, dalam benak sebagian orang bakal terbayang alam yang tandus, wajah yang keras dan perilaku menakutkan. Kesan itu seolah menjadi benar tatkala muncul kasus-kasus kekerasan yang menggunakan celurit dengan pelaku utamanya orang Madura.

Kendati demikian tak semua orang mengetahui sejarah dan proses sebuah celurit itu dibuat hingga dikenal luas. Di tempat asalnya, celurit pada mulanya hanyalah sebuah arit. Petani pun kerap menggunakan arit untuk menyabit rumput di ladang dan membuat pagar rumah. Dalam perkembangannya, arit itu diubah menjadi alat beladiri yang digunakan oleh rakyat jelata ketika menghadapi musuh.

Demikian pula pendapat D. Zawawi Imron. Seniman sekaligus budayawan Madura ini menuturkan, kalangan rakyat kecil memperlakukan celurit sebagai senjata tajam biasa. Dengan kata lain, celurit itu bukan dianggap senjata sakti.

Kini, masyarakat Madura masih memandang celurit sebagai senjata yang tak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Tak mengherankan, bila pusat kerajinan senjata tajam itu banyak bertebaran di Pulau Madura.

Tersebutlah sebuah desa kecil bernama Peterongan. Kampung ini terletak di Kecamatan Galis, sekitar 40 kilometer dari Kabupaten Bangkalan. Di sana, sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya sebagai pandai besi pembuat arit dan celurit. Keahlian mereka adalah warisan leluhur sejak ratusan tahun lampau.

Tak salah memang, bila desa ini menjadi kondang. Maklum, celurit buatan para perajin di Desa Peterongan itu dikenal kokoh dan halus pengerjaannya. Seorang di antara mereka adalah Salamun. Siang itu, lelaki berusia 54 tahun ini menemui Sunarto utusan dari sebuah padepokan silat terkenal di Kecamatan Kamal, Bangkalan.

Sunarto pun meminta Salamun mengerjakan sebilah celurit berjenis bulu ayam. Bagi Salamun, membuat celurit adalah bagian dari napas kehidupannya. Celurit tak hanya sekadar dimaknai sebagai benda tajam yang digunakan untuk melukai orang. Akan tetapi celurit adalah karya seni yang mesti dipertahankan dari warisan leluhurnya.

Pagi itu, Salamun didampingi putranya berbelanja membeli besi tua yang berada di sudut Desa Peterongan. Di antara tumpukan besi itu, Salamun memilih besi bekas rel kereta api dan per bekas jip sebagai bahan baku membuat celurit pesanan Sunarto.

Besi pilihan itu lantas dibawa menuju bengkel pandai besi miliknya yang berada tak jauh dari halaman rumahnya. Batangan besi tersebut kemudian dibelah dengan ditempa berkali-kali untuk mendapatkan lempengannya. Setelah memperoleh lempengan yang diinginkan, besi pipih itu lantas dipanaskan hingga mencapai titik derajat tertentu.

Logam yang telah membara itu lalu ditempa berulang kali sampai membentuk lengkungan celurit yang diinginkan. Dengan dibantu ketiga anaknya, Salamun membuat celurit pesanan padepokan silat tersebut dengan penuh ketelitian. Sebab dia memandang celurit harus mencirikan sebuah karya seni. Tak sekadar sepotong besi yang ditempa berkali kali, melainkan harus memiliki arti dan makna bagi yang memilikinya.

Lantaran itulah, sebelum mengerjakan sebilah celurit, Salamun biasa berpuasa terlebih dahulu. Bahkan saban tahun, tepatnya pada bulan Maulid, Salamun melakukan ritual kecil di bengkelnya. Menurut Salamun, ritual ini disertai sesajen berupa ayam panggang, nasi dan air bunga. Sesajen itu kemudian didoakan di musala. Baru setelah itu, air bunga disiramkan ke bantalan tempat menempa besi. &quotKalau ada yang melanggar (mengganggu), ia akan mendapatkan musibah sakit-sakitan,” ucap Salamun.

Hingga kini, tombuk atau bantalan menempa besi pantang dilangkahi terlebih diduduki oleh orang. Keahlian pak Salamun membuat celurit tak bisa dilepaskan dari warisan orang tua dan leluhur kakeknya. Semenjak kecil dirinya sudah dilibatkan cara membuat celurit yang benar.

Salamun mengungkapkan, buat mengerjakan sebuah celurit besar, dibutuhkan waktu sekitar dua hingga empat hari. Adapun harga celurit tergantung dari bahan dan ukuran motifnya. Celurit paling murah dilepas seharga Rp 100.000.

Pria itu termasuk produktif. Betapa tidak, sudah ribuan celurit yang dihasilkan dari tempaan Salamun. Namun kini, Salamun lebih berhati-hati menerima pesanan celurit. Dia beralasan, banyak orang yang tak memahami filosofi celurit. Minimnya pemahaman inilah yang mengakibatkan celurit lebih banyak digunakan untuk tindak kejahatan.

Sebaliknya, bagi yang mengerti, celurit itu tentunya digunakan lebih berhati-hati. Pendapat itu memang beralasan. Soalnya celurit juga diartikan sebagai lambang ksatria. Dan, bukan malah untuk sembarang menyabet orang.

Di Madura, banyak dijumpai perguruan pencak silat yang mengajarkan cara menggunakan celurit. Satu di antaranya Padepokan Pencak Silat Joko Tole, pimpinan Hasanuddin Buchori. Perguruan ini mengambil nama dari seorang ksatria asal Sumenep. Kala itu Madura dibagi menjadi dua wilayah kerajaan besar, yaitu Madura Timur di Sumenep dan Madura Barat di Arosbaya Bangkalan. Adapun peninggalan Kerajaan Madura Barat masih terlihat dalam situs makam-makam kuno di Arosbaya.

Dan hari ini, perguruan yang banyak mengorbitkan atlet pencak silat nasional itu secara rutin berlatih meneruskan cita-cita dan semangat leluhurnya, Joko Tole. Padepokan Silat Joko Tole selama ini cukup kesohor di kalangan pencak silat di Tanah Air. Terutama dalam mengajarkan penggunaan senjata tradisional celurit.

Walaupun hanya sebuah benda mati, celurit memiliki beragam cara penggunaannya. Ini tergantung dari niat pemakainya. Di Perguruan Joko Tole, misalnya. Celurit tidak sekadar diajarkan untuk melumpuhkan lawan. Namun seorang pemain silat harus memiliki batin yang bersih dengan berlandaskan agama.

Sebagian masyarakat menganggap celurit tak bisa dipisahkan dari tradisi carok yang dianut oleh sebagian orang Madura. Sayang, hingga kini, belum satu pun peneliti yang bisa menjelaskan awal mula carok menjadi bagian hidup orang Madura. Yang terang, pada dasarnya carok biasa dilakukan ketika seseorang merasa dipermalukan dan harga dirinya dilecehkan. Maka, penyelesaian yang terhormat adalah dengan berduel secara ksatria satu lawan satu.

Latar belakang perkelahian seperti itu diakui Zawawi Imron. Budayawan ini menerangkan, ada adigium Madura yang mengatakan: Dibandingkan dengan putih mata lebih bagus putih tulang. Artinya, daripada hidup malu lebih baik mati. Dengan kata lain, ketika orang Madura dipermalukan, maka ia berbuat pembalasan dengan melakukan carok terhadap yang menghinanya itu.

Namun dalam perkembangannya, arti carok sendiri menjadi tidak jelas. Terutama bila dihubungkan dengan nyelep, yakni menyerang musuh dari belakang atau ketika lawan sedang lengah. Dan, hal itu semakin tidak jelas manakala banyak kasus kekerasan yang bermotifkan sosial ekonomi.

Jadi, untuk mengubah stereotip itu, orang Madura harus melawan kebodohan dan ketertinggalan. Ini seperti kerinduan budayawan sekaligus penyair Madura Zawawi Imron dalam puisi berjudul Celurit Emas: Bila musim melabuh hujan tak turun, kubasahi kau dengan denyutku. Bila dadamu kerontang, kubajak kau dengan tanduk logamku. Di atas bukit garam kunyalakan otakku. Lantaran aku tahu, akulah anak sulung yang sekaligus anak bungsumu. Aku berani mengejar ombak. Aku terbang memeluk bulan. Dan memetik bintang gemintang di ranting-ranting roh nenek moyangku. Di bubung langit kuucapkan sumpah. Madura, akulah darahmu.(ANS/Soedjatmoko dan Bambang Triono)

JATIM pantas bangga mempunyai Pulau Madura sebab selain penghasil
garam juga menyimpan banyak potensi wisata. Tapi Pemda setempat masih
harus kerja keras jika potensi itu ingin dijadikan komoditas.
Kekayaan objek dan atraksi wisata yang ada di Madura masih perlu
dikemas menjadi paket wisata menarik. Pantai yang mengitari pulau itu
merupakan salah satu potensi yang bisa dikemas menjadi paket wisata
menarik itu.
Pantai-pantai potensial itu di antaranya Siring Kemuning di Kab.
Bangkalan; Camplong, Nipah, serta air terjun Toroan di Kab. Sampang;
Talangsiring, dan Jumiang di Kab. Pamekasan, serta Slopeng dan Lombang
di Kab. Sumenep.Sayangnya dari sejumlah pantai itu baru Pantai
Camplong yang dikelola dengan baik. Tempat wisata yang terletak
sekitar 10 km timur Kota Sampang itu telah dilengkapi pondok wisata
dengan 16 kamar VIP dan rumah makan.
Ongkos sewa kamar pondok wisata di Camplong berkisar Rp 25 wisata-Rp
50 ribu untuk tempat tidur tunggal. Sedangkan untuk tempat tidur ganda
berkisar Rp 28,5-Rp 55 ribu.
Taman wisata Camplong yang dikelola Surabaya Inn Group ini juga
dilengkapi kolam renang, dan tempat bermain anak-anak. Di sana
wisatawan juga bisa belanja suvenir serta kudapan dan minuman yang
disediakan pedagang.
Untuk menuju ke objek wisata ini pengunjung tidak terlalu sulit,
karena letaknya berada di jalur utama Madura. Wisatawan bisa menumpang
kendaraan umum Sampang-Pamekasan atau berasyik-asyik naik dokar.
Ongkos naik mobil penumpang umum (MPU) dari Sampang Rp 500,00 dan
dokar Rp 3.000,00.
Sedangkan air terjun Toroan di Ketapang dan Pantai Nipah masih
dibiarkan tetap “perawan”. Padahal kedua objek itu juga mempunyai daya
tarik tersendiri. Air terjun Toroan yang mengucurkan air langsung ke
pantai Laut Jawa masih dibiarkan apa adanya.

Sedangkan Pantai Nipah yang berhutan pantai dan dihuni sekawanan kera
masih dibiarkan apa adanya. Padahal objek ini bisa dijadikan tontonan
menarik.
Nasib serupa juga dialami Pantai Siring Kemuning di Bangkalan,
Talangsiring, dan Jumiang di Pamekasan, serta Slopeng dan Lombang di
Sumenep. Pantai-pantai itu hingga kini masih dibiarkan apa adanya.
Pantai Siring Kemuning, Talangsiring, dan Slopeng sebenarnya pernah
disentuh Pemda setempat. Pantai Siring Kemuning telah dilengkapi gardu
pandang dan tempat bermain anak-anak. Tapi karena belum bisa menarik
wisatawan, keadaan pantai itu kini memprihatinkan.
Begitu pula Pantai Talangsiring di Pamekasan, objek wisata yang telah
dibangun Pemda setempat pada 1983 itu kini telantar. Padahal letak
pantai ini sebenarnya strategis karena berada di jalur utama Madura.
Apalagi Pantai Jumiang yang letaknya jauh dari jalur utama Madura
masih dibiarkan “perawan”. Untuk mendukung objek wisata ini Pemda
setempat baru mendukung jalan.
Sedangkan Pantai Slopeng yang berada di Kec. Dasuk, Kab. Sumenep yang
telah dilengkapi pondok wisata juga belum bisa menarik wisatawan.
Padahal tarif kamar yang dikelola UD Sumekar itu cuma Rp 15 ribu.
Pantai-pantai di Madura itu hanya ramai dikunjungi wisatawan lokal
saat Lebaran Ketupat (tujuh hari setelah Idul Fitri). Kesempatan ini
yang digunakan Pemda untuk ajang promosi dengan menggelar panggung
terbuka musik dangdut.
Pantai Lombang
Pantai yang kini memperoleh perhatian khusus Pemda Kab. Sumenep adalah
Lombang. Untuk mengembangkan pantai di Kec. Batang-Batang ini pemda
menjalin kerja sama dengan swasta.
Pantai Laut Jawa yang masih perawan ini mempunyai panorama alam yang
sangat indah. Lokasinya sekitar 30 km arah timur laut Kota Sumenep.
Pasir pantainya yang putih dan bersih cocok untuk menjemur badan. Di
pantai sepanjang 12 km ini wisatawan juga bisa menikmati matahari
terbit atau terbenam.
Ciri khas Pantai Lombang adalah “hutan” cemara udang. Tanaman yang
termasuk langka ini menjadi ciri khas Pantai Lombang karena jarang
didapati di daerah lain.
Sekwilda Kab. Sumenep, Drs H Dwiatmo Hadiyanto mengatakan, gagasan
pemda untuk mengembangkan Pantai Lombang ini telah mendapatkan
dukungan dari Montana Group. Investor putra daerah itu berencana
membangun cottage dan mini golf.
Rencananya Montana Group akan membebaskan lahan seluas 60 hektare.
Sayang, setelah membebaskan sebagian lahan, investor itu menghentikan
kegiatannya. Sampai kini Dwiatmo belum mengetahui kelanjutan rencana
itu.

Diperoleh keterangan, sejak ada rencana Pantai Lombang akan
dikembangkan menjadi kawasan wisata, penduduk setempat merasa
keberatan. Mereka –meski dengan cara pasif– menolak pembangunan
wisata di sana.
Sejumlah penduduk setempat melakukan aksi tahlil akbar di Pantai
Lombang. Dalam kesempatan itu mereka berikrar: “Masyarakat Madura
tidak menolak pembangunan wisata, tapi menolak kedatangan
kemaksiatan”.
Setelah terjadinya aksi itu Pemda Kab. Sumenep maupun investor saling
mawas diri. Investor menghentikan sementara kegiatannya sedangkan
Bupati Sumenep, Sukarno Marsaid, merencanakan membentuk Dewan
Pariwisata Daerah.
Dewan Pariwisata Daerah yang anggotanya akan melibatkan para ulama dan
tokoh masyarakat itu nantinya akan berfungsi mendampingi Dinas
Pariwisata Daerah setempat. Sehingga pengembangan wisata di Sumenep
bisa berkembang sesuai keinginan pemda dan bisa diterima masyarakat
setempat.
Sekwilda Kab. Sumenep ketika menerima peserta Wisata Pers 1996, Rabu
(24/1), mengakui jika pengelolaan pariwisata di daerahnya belum
optimal. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sumenep setiap tahunnya
rata-rata 200 orang dengan lama tinggal antara 1-3 hari.Pendapatan
daerah dari subsektor pariwisata baru Rp 6 juta/tahun. Pendapatan ini
berasal dari retribusi wisatawan yang masuk museum Keraton Sumenep.
Sedangkan makam Asta tinggi yang banyak dikunjungi wisatawan nusantara
hingga kini masih dikelola pihak keluarga.
Minimnya pendapatan dari subsektor pariwisata ini juga dialami Kab.
Sampang, yakni hanya Rp 9 juta/tahun. Pendapatan itu diperoleh dari
retribusi masuk kawasan wisata Pantai Camplong. Padahal untuk
membangun objek ini pemda setempat telah mengeluarkan dana Rp 250
juta.
“Objek wisata di Madura sebenarnya banyak tapi kondisinya belum
marak,” kata Bupati Sampang, H Fadhilah Budiono, ketika menerima
peserta Wisata Pers 1996 di peringgitan pendapa Kab. Sampang, Jumat
lalu.
Selain objek-objek wisata berpanorama alam pantai, Madura juga
memiliki objek wisata sejarah dan budaya. Di antaranya, atraksi
kerapan sapi dan sapi sonok yang terdapat hampir di seluruh desa.
Atraksi yang telah menjadi ciri khas Madura ini bisa disaksikan antara
Agustus-Oktober setiap tahunnya. Sedangkan acara puncak dilaksanakan
di Pamekasan.
Atraksi lainnya, tari topeng dalang, serta tari pecut di Sumenep.
Sedangkan objek wisata sejarah di antaranya makam Aer Mata Ebu di
Bangkalan, makam Ratu Ebu di Madegan Sampang, serta makam Asta Tinggi
di Sumenep.
Kendala utama pengembangan wisata di Madura kata Bupati Sampang karena
belum terbangunnya Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) yang bakal
menghubungkan Surabaya-Kamal.

Ia yakin jika jembatan itu terwujud, kondisi Madura akan jauh berubah.
“Masak akan berwisata harus bersusah-susah dulu,” kata Fadhilah
Budiono tentang kondisi Madura saat ini.

Kondisi penyeberangan Surabaya-Kamal sekarang –khususnya pada
hari-hari libur– selalu membentuk antrean mobil yang panjang. Calon
penyeberang terkadang bisa terjebak dalam antrean itu sekitar 2 jam.
Akar masalah lain yang juga menjadi kendala adalah sumber daya manusia
(SDM). Masyarakat Madura tampaknya belum mau mengawali melakukan
kegiatan wisata.
“Padahal kalau bukan orang Madura, siapa lagi yang harus memulai,”
kata mantan Kapolres Probolinggo ini. Ia memberikan contoh, peternakan
ayam bekisar yang sebenarnya bisa dijadikan andalan Madura kini malah
ditekuni orang Bali.
Fadhilah menyadari untuk membangun industri pariwisata di Madura perlu
sosialisasi terlebih dulu. “Tentu saja ini membutuhkan waktu yang
cukup lama. Keberadaan gedung bioskop di Sampang saja masih
ditentang,” katanya.
Tidak Dilarang
Benarkah Madura menolak industri pariwisata? Pengasuh Pondok Pesantren
Karongan Sampang, KH Alawy Muhammad, ketika ditemui wartawan di
peringgitan pendapa Sampang, Jumat lalu mengatakan, ulama tidak
melarang industri pariwisata masuk ke Madura. Syaratnya, asal tidak
membawa dampak kegiatan yang merugikan agama dan budaya Madura.
Didesak tentang kedekatannya industri pariwisata dengan dampak
kemaksiatan yang bakal timbul, Kiai Alawy secara diplomatis menjawab,
“Kemaksiatan bisa terjadi di mana-mana. Bisa di dalam industri
pariwisata atau di luar itu.”
Sedangkan ketika disinggung tentang belum adanya gedung bioskop di
Sampang, kiai menjelaskan karena kondisi masyarakatnya yang belum
siap. Tapi jika masyarakatnya sudah siap, tentu akan bisa menerimanya.
Kondisi yang dilematis ini agaknya yang juga menjadi salah satu
kendala pengembangan wisata Madura. Bahkan Pemda Kab. Bakalan dan
Pamekasan terkesan kurang greget.
Bupati Bangkalan, Djakfar Syafei, merasa pesimistis untuk
mengembangkan wisata di daerahnya. Begitu pula Bupati Pamekasan,
Subagio. Sehingga untuk mengembangkan wisata di Pamekasan masih
menunggu perkembangan Madura di masa mendatang.
Sedangkan Bupati Sumenep, Sukarno Marsaid, meski menyadari kendala itu
terus menghalang mengatakan, Pemda kini terus berupaya mengembangkan
potensi wisata Sumenep yang kaya itu. Tahun ini Pemda telah bekerja
sama dengan Vaya Tour mengemas paket wisata Madura untuk wisatawan
mancanegara.
Dalam setahun itu telah dijadwalkan 17 kali kunjungan. Setiap
rombongan yang bakal berkunjung sekitar 100 wisatawan. Wisatawan asal
Eropa dan AS itu bakal datang dengan kapal laut.
Para wisatawan itu bakal menikmati paket wisata Sumenep berupa atraksi
kerapan sapi, tari pecut, mengunjungi makam raja-raja Sumenep di Asta
Tinggi, dan melakukan wisata kota (city tour) untuk belanja hasil
kerajinan industri kecil yang banyak terdapat di kota paling ujung
timur Madura ini.
Paket kunjungan wisata ini telah berjalan lima kali. “Awalnya
wisatawan itu jadi tontonan, tapi lama-lama masyarakat Sumenep menjadi
terbiasa,” kata Sekwilda Kab. Sumenep, Dwiarmo Hadiyanto. (Musyawir)

 

28th April 2006

<– Index | Showing 1-15 of 15 pictures | Index –>
Keris Luk 5
Dapur : Pandawa
Pamor : Buntel Mayit
Tangguh : Sumenep Madura Tua (estimasi abad ke 17)
Wrangka : Capil Madura (buatan baru)
Bahan Wrangka : Kayu Trenggulun Madura
Pendok : Topengan Madura (buatan lama)
Bahan Pendok : Alpaka
Mendak : Meniran Jawa Timuran (buatan lama)
Bahan Mendak : Perak
Deder : Donoriko (buatan lama)
Bahan Mendak : Gading Gajah
Panjang Bilah : 37 Cm.
Panjang Disarungkan : 48 Cm.
Mas Kawin : Rp. 9.500.000
   
Posted by: mcenter | July 14, 2007

SUMENEP


Madura island

 


TAMAN SARE

Taman Sari adalah pemandian para putri raja zaman dahulu yang terlak di timur Pendopo Agung Kraton Sumenep. Pemandian ini sampai sekarang masih dilestarikan.

“TAMAN SARE” PARK

Taman Sare is a park with a bathing place located at east of Pendopo Agung in the Sumenep Palace. It was used by the King’s princesses, while the king was watching them from a tower.

click on the picture too see an enlargement

100_0924_kopie.jpg (157683 bytes) 100_0926_kopie.jpg (183717 bytes)
 


MUSIUM SUMENEP

Musium Sumenep yang terletak di depan Kraton digunakan untuk menyimpan benda-benda peninggalan Raja-Raja Sumenep termasuk di dalamnya kereta kencana Raja.


SUMENEP MUSEUM

The tiny museum of Sumenep is located in front of the kraton in an old building that was formerly used to store the royal carriages. Now one can find here the historical remnants of the Sumenep kings, like old carriages and furniture.

 

100_0917_kopie.jpg (126274 bytes)

100_0916_kopie.jpg (129055 bytes)

 


ASTA TINGGI

Asta Tinggi adalah tempat kuburan raja-taja Sumenep yang mulai berdiri pada tahun 1644 M. Makam ini berada di desa Kebun Agung 2,5 kilometer barat laut Sumenep.

THE ROYAL CEMETERY “ASTA TINGGI”

The royal cemetery is located 2,5 kilometers northwest of Sumenep City. The construction of this place was started in 1644 AD. To enter the cemetery one goes through some high spectacular gates.

 
100_0927_kopie.jpg (157652 bytes) 100_0928_kopie.jpg (115264 bytes)
 
100_0929_kopie.jpg (240128 bytes) 100_0930_kopie.jpg (226596 bytes)
Posted by: mcenter | July 14, 2007

Nasi Bebek Madura


Nasi Bebek yang khas Surabaya, dengan pengolahan yang tepat siapapun pasti bisa memasaknya dengan bebas amis dan enaaakkkk…. Kebetulan penjual Nasi Bebek yang enak di Surabaya rata2 orang madura, sayang penyajiannya kurang khas madura.
Gue bereksperimen mereka2 sendiri resep Nasi Bebek agar brasa khas madura, melalui pemilihan bumbu & rempah2nya, ga ketinggalan pelengkap yang khas madura: POYAH KELAPA KUNING ! :D

Tips menghindari amis:
Pilih yang jantan, unggas jantan lemaknya jauh lebih dikit daripada betina, otomatis kemungkinan amis karena lemak pun minimal.
Buangin bagian ekor (termasuk aneka bentuk kelenjar disekitarnya) dan segala bentuk usus.

NASI BEBEK MADURA ala Lia
Bahan:

1 ekor bebek yang udah dibersihkan (sekitar 800 gram), potong2 sesue slera
2 sdm cuka
400 ml air matang
2 tangkai sereh, masing2 potong dua, geprak
6 lembar daun jeruk, buang tulang daunnya
Bumbu Halus:
5 siung bawang putih
8 butir bawang merah
1.5 sdt ketumbar sangrai
0.5 sdt merica butiran sangrai
4 cm jahe (diameter skitar 2 cm)
3 cm kunyit (diameter 1.5 cm)
4 lembar daun jeruk, buang tulang daunnya
4 cm lengkuas muda (diameter sekitar 2cm)
5cm pangkal sereh (bagian putih yang muda), iris2
8 butir kemiri
2 sdt garam
Cara:
Lumuri potongan bebek dengan cuka, diamkan 20-30 menit di kulkas. Cuci sampe benar2 bersih.
Aduk bersama bumbu halus dan rempah2 lainnya, diamkan di kulkas 30 menit.
Masukin panci presto, tuangi air lalu masak 20 menit terhitung dari waktu berdesis.
Matikan api dan diamkan sampe tekanan & uapnya habis, buka dan tiriskan bebek dari bumbunya.
Goreng bebek sampe kuning kecoklatan ato kering bila suka.
Tips:
Kalo ngga ada panci presto, diungkep biasa sampe empuk (mungkin perlu nambah air beberapa kali sampe bener2 empuk).

Saus Kuning
300 ml bumbu perebus bebek (kalo kurang bisa ditambah air secukupnya) ditumis dengan sedikit minyak sampe kental, buang ampas rempah2nya (sereh dan daun jeruk). Sisihkan.

Sambal Bawang
Bahan:

3 butir bawang merah, iris kasar
4 buah cabe merah, iris halus
Cabe rawit secukupnya
1 buah tomat matang ukuran sedang, cincang kasar
½ sdt terasi goreng
½ sdt garam /secukupnya
1 sdt gula /secukupnya
4 sdm minyak
100 ml air matang
Cara:
Panasin minyak, tumis bawang merah, cabe merah & cabe rawit sampe aromanya kluar.
Masukin tomat, tuangin air. Masak sampe air menyusut.
Pindahkan semua ke cobek, ulek bersama terasi, garam & gula.
Note:
Terus terang kalo dibandingin ibu gue lom jagoan bikin sambel. Jadi selain sambel bawang diatas, silakan pake sambel andalan masing2 :D

Poyah Kelapa Kuning
Bahan:

200 gr kelapa setengah tua, parut memanjang
Bumbu halus:
1 siung bawang putih
½ sdt garam
1 cm kunyit
2 lembar daun jeruk, buang tulang daunnya
Cara:
Tebarkan kelapa di loyang lalu jemur d panas matahari sampe setengah kering.
Aduk kelapa parut dengan bumbu halus sampe rata.
Sangrai dengan api keciiil sampe bener2 kering, matikan api. Diamkan sambil diangin2 sampe adem, simpan di stoples.

Pelengkap lain:
Nasi hangat
Irisan tomat & mentimun
Petikan daun kemangi
Irisan jeruk nipis
Lalapan lain sesue slera

Penyelesaian:
Taruh nasi anget di piring, tuangi 1 sdm bumbu kuning diatasnya, taburi poyah kelapa.
Sajikan bebek goreng, sambel & lalapan di tempat terpisah.
Nyaaaaaaaammmm……………..

WARNING !!
Bebek mengandung kolesterol tinggi. Yang diet kolesterol makannya secuiiiilllll aja ya, banyakin lalapannya ajah :P

Posted by: mcenter | July 14, 2007

POTENSI DAN KERAGAMAN SUMBERDAYA GENETIK

DIDI BUDI WIJONO1 dan BAMBANG SETIADI2
1Loka Penelitian Sapi Potong, Grati, Pasuruan 67184
2Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002
ABSTRAK
Sapi Madura adalah sapi potong tipe kecil merupakan salah satu plasma nutfah sapi potong indigenus dan
suseptable pada lingkungan agroekosistem kering dan berkembang baik di pulau Madura. issue menunjukkan
terjadinya penurunan produktivitasakibat seleksi negatif yaitu pemotongan sapi produktif/tampilan yang baik,
faktor inbreeding yang disebabkan selama ini pulau Madura merupakan wilayah tertutup untuk sapi potong
lain. Upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kemampuan
produktivitas komoditas sapi Madura yang telah tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan lahan
kering, relatih tahan terhadap penyakit dan kesuaian selera masyarakat. Keragaman genotip sapi Madura
cukup beragam dan memiliki kisaran berat badan 300 kg dan pada pemeliharaan kondisi baik untuk
perlombaan mampu mencapai > 500 kg, dan memiliki persentase karkas sampai 60 %, efsiensi reproduksi
cukup rendah, disamping itu sapi Madura memiliki nilai sosiobudaya digunakan atau dilombakan sebagai sapi
Kerapan dan sapi Sonok (pajangan). Sapi Kerapan dan Sonok adalah sapi yang memiliki performan terpilih
dan kondisinya sangat baik. Perbaikan mutu sapi Madura untuk mendukung peningkatan produktivitas dapat
dilaksankan seleksi in-situ dan yang telah cocok lingkungannya dengan alternatif lain melalui grading up
yaitu mengkombinasikan genotip dengan perkawinan silang yang diharapkan mampu meningkatan
produktivitas secara cepat dalam waktu relatif pendek. Pelestarian sebagai plasma nutfah Indonesia dan
kebanggan memiliki genotip sapi potong yang perlu dipertimbangkan secara hati-hati dan bijaksana guna
menghindari kerusakan genotip yang telah memiliki kemapanan homogenitasnya sebagai bangsa dan
penyesalan dikemudian hari. Demikian pula penghargaan terhadap PP perlindungan ternak yang masih
berlaku dan diperlukan penegasan dan peninjauan kembali terhadap kebijakan lain. Dengan demikian
penanganan sapi Madura sebagai plasma nutfah ditindak lajuti secara bijaksana.
Kata kunci: Sapi Madura, performans, pelestarian, genotip
PENDAHULUAN
Sapi potong merupakan komoditas strategis
yang perkembangannya sangat mendukung
perkembangan ekonomi masyarakat, dikarenakan
sebagian besar dipelihara dan dikembangkan
oleh petani sehingga gejolak dollar tidak
memberikan efek yang berarti. Pengembangan
komoditas sapi potong paling tidak sebagai
upaya yang diharapkan mampu mencukupi
kebutuhannya sendiri dari sapi potong lokal
atau mengurangi secara betahap kebutuhan
produk ternak melalui import.
Sapi Madura merupakan salah satu plasma
nutfah sapi potong indigenus dan suseptable
pada lingkungan agroekosistem kering dan
berkembang baik di pulau Madura.
Sebagaimana sapi potong lain menunjukkan
terjadinya penurunan produktivitasnya yang
dapat diakibatkan oleh seleksi negatif yaitu
pemotongan sapi produktif/tampilan yang baik,
faktor inbreeding akibat pulau Madura merupakan
wilayah tertutup untuk sapi potong lain.
Kontribusi sapi Madura sebagai sapi
potong yang berkembang dengan baik di Jawa
Timur khususnya di pulau Madura mempunyai
kontribusi yang cukup besar sampai 24 % dari
kebutuhan suply sapi potong yang bersalaj dari
Jawa Timur.
Perubahan lingkungan global secara
langsung maupun tidak akan mempengaruhi
lingkungan ternak antara lain akibat
pembangunan fisik yang berkembang dengan
pesat, perkembangan pengetahuan/pendidikan
akan merubah sosiobudaya masyarakat, pada
akhirnya dapat terjadi penurunan SDA, ketidak
seimbangan antara ketersediaan sumber pakan
dengan populasi (“over crowded ?”).
Salah satu upaya meningkatkan pendapatan
dan kesejahteraan masyarakat melalui
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004
43
komoditas sapi potong melalui peningkatan
kemampuan produktivitas ternak local yang
telah tumbuh dan berkembang dengan baik
pada lingkungan lahan kering dan terdapat
kesuaian selera masyarakat madura.
Perbaikan mutu sapi Madura untuk
mendukung peningkatan produktivitas dapat
dilaksankan seleksi pada komunitas in-situ
yang telah cocok lingkungannya, dengan
alternatif lain melalui grading up yaitu upaya
mengkombinasikan genotip dengan perkawinan
silang yang diharakan mampu meningkatan
produktivitas secara cepat dalam waktu relatif
pendek. Pengembangan ternak potong secara
croosbreeding dengan perkawinan silang sapi
potong temperet yang memiliki mutu genetik
unggul dan produktivitas yang tinggi
mengakibatkan perubahan perilaku ternak
sehingga perlu diimbangi dengan perbaikan
pemberian pakan dan pengendalian penyakit.
Sebagaimana diketahui bahwa pengaruh
lingkungan terhadap produktivitas ternak
mencapai 70% dibandingkan dengan pengaruh
faktor genetik sebesar 30% dan pengaruh
perlakuan pakan sendiri dapat mencapai 60%
dari pengaruh lingkungan.
Dengan demikian perbaikan mutu sapi
Madura dapat dilakukan dengan seleksi dan
atau perkawinan silang (crossbreeding) melalui
grading up untuk dapat menghimpun genotipik
unggul pada keturunan yang memiliki
kemampuan produksi lebih tinggi dan
diimbangi penyesuaian pengaruh lingkungan
terhadap tatalaksana pemeliharaan terutama
pemenuhan kebutuhan pakan dan pencegahan
penyakit. Penyediaan keturunan murni sebagai
cikal bakal atau komunitas atau populasai dasar
pembentukan bibit “baru” dengan program
sistem pemuliabiakan yang mapan.
Akan tetapi upaya perkawinan silang
(crossbreeding) perlu ditindak lanjuti dengan
strategi pemuliabiakan yang terkendali dan
berkelanjutan dalam upaya menekan efek
samping crossbreeding yang mengarah
perubahan mutu ternak kearah perkembangan
negatif
POTENSI SAPI MADURA
Morfologi
Sapi potong lokal (indigenus) yang
berkembang di Indonesia cukup banyak
ragamnya salah satunya adalah sapi Madura,
dan termasuk sapi potong type kecil. Sapi
Madura dalam perjalanan perkembangannya
merupakan hasil pembauran berbagai bangsa
type sapi potong yaitu antara sapi Bali (Bos
sondaicus) dengan Zebu (Bos indicus).
Pejantan yang pernah dimasukkan ke pulau
Madura termasu bangsa Bos taurus antara lain
Red Denis, Santa Gestrudis dan pejantan
persilangan antara Shorthorn dengan Brahman
yang kesemuanya memiliki warna merahcoklat;
Komunitas yang dihasilkan melalui
isolasi dan seleksi alamiah yang ketat
menghasilkan sapi yang relatif memberikan
keseragaman genotip yang mantap dan
berkembang sebagai sapi Madura sekarang ini.
Bahkan sapi potong Limousin juga
diperkenalkan sebagai pejantan unggul dalam
upaya meningkatkan produktivitas sapi Madura
(SOEHADJI, 1993 dan SOERJOATMODJO, 2002).
Strategi pemasukan genotipe baru tidak jelas
kelanjutannya dan merupakan tindakan
langkah-langkah jangka pendek atau produksi
sesaat, tidak mempunyai arah, sasaran dan
target yang jelas yang ingin dicapai maupun
permasalahan yang akan timbul dari akibat
perkawinan silang.
Komformasi sapi Madura pada bagian
kepala bertanduk yang mengarah dorsolateral,
beradasar tanduk besar dan pada sapi jantan
memiliki gumba (punuk) sedangkan yang
betina tidak tampak adanya punuk (kecil).
Warna bulu merah bata–merah coklat, warna
sapi jantan dan betina sama sejak lahir sampai
dewasa; garis punggung (linea spinosum)
kehitaman-coklat tua masih ditemukan, warna
keputih2an pada daerah bawah kaki
(metacarpus–phalanx) dan twist/sekitar pantat
(ANONIMUS, 2001).
Populasi sapi Madura di pulau Madura dari
tahun ketahun relatif statis dengan kisaran
600.000–700.000 ekor dan populasi tertinggi
terjadi pada tahun 1932 sebanyak 735.922
ekor. Populasi sapi Madura di Indonesia
hingga tahun 1991 dilaporkan sebanyak
1.279.000 ekor atau sekitar 12% dari populasi
sapi potong di Indonesia, sebanyak 691.092
ekor (54%) terdapat di Pulau Madura dengan
tingkat pertumbuhan mencapai 1,7% pertahun
(SOEHADJI, 1992).
Penyebarannya hampir di seluruh
Nusantara, ditemukan mencapai sekitar18
propinsi yaitu di Sumatra, Kalimantan,
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004
44
Sulawesi, NTT dan NTB. Pengembangannya
di luar pulau Madura, tidak menunjukkan
adanya perkembangan yang signifikans
walaupun wilayahnya memiliki kondisi
lingkungan yang hampir sama. Dengan
demikian perlu dilakukan pengamatan terhadap
faktor kendala dan permasalahan yang timbul
pada saat pengembangan di luar pulau
Madura/Jawa Timur.
Produktivitas sapi Madura
Sapi Madura termasuk sapi potong yang
memiliki kemampuan daya adaptasi yang baik
terhadap stress pada lingkungan tropis,
keadaan pakan yang kurang baik mampu
hidup, tumbuh dan berkembang dengan baik;
serta tahan terhadap infestasi caplak.
Sapi Madura sebagai sapi potong tipe kecil
memiliki variasi berat badan sekitar 300 kg dan
pemeliharaan yang baik dengan pemenuhan
kebutuhan pakan dengan pakan yang baik
mampu mencapai berat badan ≥ 500 kg,
ditemukan pada sapi Madura yang menang
kontes (SOEHAJI, 2001).
Pengaruh nilai sosiobudaya masyarakat
Madura terhadap ternak sapi Madura memiliki
nilai tersendiri terutama terhadap tradisi sapi
betina pajangan yang dikenal sebagai sapi
Sonok dan lomba sapi jantan yang dikenal
sebagai Kerapan. Sapi yang dilombakan
merupakan sapi pilihan yang memiliki
tampilan performans yang sangat baik. Selain
itu peranan pemeliharaan sapi Madura seperti
pemeliharaan sapi potong lainnya yaitu sebagai
sumber penghasil daging, tenaga kerja, dan
kebutuhan ekonomi.
Pola pemeliharaan sapi Madura jantan dari
hasil pengamatan WAHYONO dan YUSRAN
(1992) sebanyak 94% dimanfaatkan sebagai
tabungan yang diharapkan mampu mendukung
kebutuhan ekonomi dan nilai jual cepat atau
pemeliharaan rearing (pembesaraan) sampai
rataan 25,5 bulan.
Performans Produksi
1. Berat badan
Informasi performans laju pertumbuhan
atau besar tubuh berperanan penting sebagai
salah satu faktor yang dapat diukur didalam
pelaksanaan seleksi dan memiliki nilai
heritabilitas tinggi yaitu antara 0,40–0,70
(WARWICK et al., 1983).
Performans berat badan sapi Madura
mempunyai keragaman yang cukup luas,
didapatkan berat badan yang tinggi (± 500 kg)
dan didominasi oleh berat badan yang cukup
rendah (± 300 kg). Pencapaian performans
berat badan cukup beragam yang diakibatkan
oleh keragaman tatalaksana pemeliharaan.
Tampilan performans dipengaruhi oleh faktor
genetik dan lingkungan, termasuk lingkungan
pakan dan kesehatan.
Keragaman berat badan dari ahsil
pengamtan sebelumnya juga menunjukkan
adanya variai yang cukup lebar. DJATI dan
KARNAEN (1993) melakukan pengamatan
terhadap respon status fisiologis dengan
memanfaatkan sapi Madura yang memiliki
berat badan antara 125−290 kg. Rataan berat
badan pada pola pembibitan peternakan rakyat
yang berumur sekitar 1,5−2 tahun 209 kg dan
3−3,5 tahun mencapai berat badan 239 kg
(AINUR RASYID dan UMIYASIH, 1993); dengan
tinggi badan masing-masing 105 cm dan 115
cm, dan berat badan jantan muda s/d 2 tahun
rataan 209 ± 24,1 (177−281) kg (WIJONO,
1998). MUHAMAD SASMITO (1993)
menginformasikan berat badan 125−150
kg;195−220 kg dan 265−290 kg, demikian pula
sapi Madura dara yang diamati UMAR dan
RISZQINa (1993) mendapatkan berat badan
pada umur Io sekitar115−207 kg dan I2
sekitar134−275 kg.
Data yang didapat dari hail pengamatan
menunjukkan variasi umur muda sampai
dewasa mempunyai kemampuan pencapaian
berat badan kurang dari 300 kg. Walaupun
demikian dari hasil penelitian lain memberikan
respon yang berbeda yaitu sapi Madura yang
dipelihara dengan baik dan biasanya sapi yang
d diperuntukkan untuk lomba keindahan yang
dikenal sapi sapi Sonok memiliki kisran berat
badan dengan umur I1–I2 adalah 178,75–
236,64 kg dan I3–I4 sekitar 311,33–335,72 kg
dengan tinggi badan masing-masing adalah
118,42–127,76 cm dan 130,58–132,42 cm;
demikian pula sapi Madura yang diperbaiki
pola pakannya pada sapi yang dikerjakan berat
badannya mencapai 436–449 kg (BAKRI et al.,
1993).
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004
45
Berat badan tertinggi yang dilaporkan
SUHADJI (1993) dari hasil pengamatan
performans sapi Maduta yang dilombakan
mencapai berat badan 521 kg. Sedangkan sapi
pejantan yang digunakan sebagai sumber
semen beku yang dipelihara di BIB Singosari
memiliki barat badan sekitar 367–483 kg
(HEDAH, 1993).
Informasi ini merupakan peluang yang
cukup tinggi bagi sapi Madura untuk diperbaiki
mutu genetiknya untuk mendapatkan
performans produksi yang lebih tinggi, baik
dari factor laju pertumbuhan baik berat badan
dan pertambahan berat badan hariannya.
Sebagaimana ungkapan hasil penelitian
MUSOFIE et al. (1993), pada dasarnya dengan
pemberian pakan yang baik mampu
meningkatkan berat badan harian sebesar > 0,8
kg/ekor/hari. Sapi madura memiliki respon
pertumbuhan yang positif terhadap perbaikan
pakan. Demikian pula MOORE (1994) bahwa
angka pertambahan berat badan harian yang
dicapai sapi-sapi lokal di Indonesia berkisar
antara 0,5–0,8 kg/ekor/hari dan sebagian besar
peternakan rakyat lebih rendah.
Sedangkan HARMADJI (1993) mendapatkan
pertambahan berat badan harian pola
pemeliharaan peternakan rakyat yang mampu
dicapai sekitar 0,23–0,47 kg/ekor/hari, dan
KOMARUDIN-MA’SUM (1993) menginformasikan
pengaruh ketinggian tempat terhadap
pertambahan berat badan harian yang
diimbangi dengan peningkatan konsumsi pakan
mampu meningkatkan pertamabahan berat
badan lebih tinggi masing-2 untuk daerah
tinggi dan temperatur rendah dengan daerah
rendah dan temperatur tinggi sebesar 0,45 dan
0,641−0,727 kg/ekor/hari dan konsumsi
pakannya lebih tinggi pada daerah dataran
tinggi.
Kemampuan laju pertumbuhan sapi Madura
mempunyai peluang untuk ditingkatkan dengan
peningkatan potensi genetik yang dimiliki
secara optimal.
2. Karkas
Sapi madura memiliki persentase karkas
yang cukup baik, mampu mencapai 60% yang
didapatkan pada ternak yang dilakukan dengan
pengelolaan dan kecukupan pakan yang
mempengaruhi kondisi ternak.
KOMARUDIN-MA’SUM (1993) mendapatkan
persentase karkas pada sapi Madura dengan
kisarana umur Io–I1 antara 50,96–51,72%
dengan kisaran berat badan 211,7–241,5 kg,
dengan bertambahnya umur akan meningkatkan
persentase karkas akan tetapi peningkatannya
tidak signifikans. Sedangkan HAKIM (1993)
mensiter sebesar 48%; dan HARMADJI 1993
melaporkan persentase karkas jantan dan
betina masing-masing sebesar 48,9 dan 52,7%
(50,9%); demikian pula yang disiter SUHADJI
(1993) pencapaian karkas sebesar 55%
(THAYIB, 1953) dan 50% (AMINUDIN, 1972)
yaitu hasil pengamatan tahun 1953 dan 1972.
Tampaknya terjadi degradasi persentase karkas
yang semakin menurun dan adanya keragaman
yang cukup tinggi.
Performans reproduksi
Aktivitas reproduksi sangat mempengaruhi
peningkatan populasi yang perlu diperhitungkan
walaupun dari segi pemuliabiakan didalam
seleksi lebih ditekankan kepada performans
yang dapat diukur dan menggambarkan
genotype ternak (KINGHORN dan SIMM, 1999).
Data reproduksi yang baru mengenai sapi
Madura sangat kurang. SIREGAR (1985)
melaporkan bahwa sapi Madura beranak pada
umur antara 28–41 bulan, sedangkan
HARMADJI (1992) melaporkan bahwa sapi
Madura beranak pertama pada umur 37 bulan
dengan S/C 1,7–2,0. Siklus birahi sapi Madura
adalah selama 21 hari dengan lama estrus 36
jam. Penyapihan pedet sapi Madura umumnya
pada umur 5 bulan. Data angka kelahiran
pernah dilaporkan oleh KNAP (1934) dengan
rata-rata 45,9% dari tahun 1923 sampai dengan
1929. Tahun 1988 dilaporkan bahwa angka
kelahiran masih berkisar 40% dan pada tahun
1992 angka kelahiran dilaporkan 46,96%.
HARDJOSUBROTO et al. (1993) mendapatkan
umur pertama dikawinkan 2,6 tahun, jantan
dan betina 2,1 tahun, SC baik kawin alam
maupun IB adalah 3,3 ± 0,6; jarak beranak
14,9 bulan, angka kelahiran 46,96 ± 14,96,
kematian pedet 2,22 dan muda-dewasa 1,87,
umumnya akibat penyakit gangguan
pencernaan atau pakan yang jelek yaitu
tympani (kembung). Faktor tatalaksana, pakan
dan kesehatan perlu diperhatikan karena
sebesar 95% gangguan aktivitas reproduksi
tergantung pada faktor ini (TOELIHERe, 1983).
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004
46
Penyebaran sapi Madura juga pernah
dilakukan di Kabupaten Bulungan Kalimantan
Timur namun data yang menggambarkan
secara kuantitatif sifat reproduksi dan
produksinya masih belum banyak dilaporkan.
Penyebaran sapi Madura di mulai tahun 1989
di Kec. Tanjung Palas dan Malinau, angka
kelahiran sapi hingga bulan Agustus 1992
dilaporkan 27,72% di Kec. Tanjung Palas dan
30,46% di Kec. Malinau (DINAS PETERNAKAN
TARAKAN, 1992). Pengembangan sapi Madura
di lahan kering di daerah transmigrasi
Sumatera Selatan menunjukkan nilai produksi
dan reproduksi rata-rata masih dibawah sapi
Ongole maupun sapi Bali (KUSNADI et al.,
1992); akan tetapi memiliki sifat keindukan
(mathering ability) yang baik.
Pemberian pakan yang jelek yang
mengakibatkan kondisi badannya sangat jelek
(score kondisi Badan 3) masih mampu
mempertahankan aktivitas reproduksinya dan
lebih baik dari sapi PO maupun Bali (score
Kondisi Badan 4) (WIJONO et al., 1992);
demikian pula sapi Madura yang dipelihara
sangat baik dengan nilai skor kondisi badan >
7–9 mempengaruhi respon aktivitas reproduksi
estrus post partum dengan fertilitas mencapai
95,59% dan infertilitas terjadi pada sapi yang
mempunyai skor kondisi badan 8−9 sebesar
4,47 % (WIJONO dan AFFANDHY, 1996).
Penurunan kondisi badan dan berat badan
yang ekstrim merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan gangguan terhadap perkembangan
dan aktivitas reproduksi, juga terhadap
kondisi badan yang terlalu gemuk terjadi
infertilitas sementara (TOELIHERE, 1980).
3. Kesehatan
Sapi Madura pada dasarnya relatif lebih
tahan terhadap lingkungan kekurangan pakan
maupun infeksi penyakit, walaupun demikian
penyakit yang mampu menyerang ternak
pernah terjangkit juga pada sapi Madura
(DARMONO et al., 1993).
Kasus penyakit yang pernah terjangkit pada
sapi Madura adalah penyakit Surra, ngorok,
ingusan, distomatosis, scabies dan gangguan
reproduksi dan defisiensi nutrisi. Pengamatan
terhadap penyakit menular yang pernah
dilakukan terhadap sapi Madura yaitu SUDANA
et al. (1983) melaporkan dari hasil uji penyakit
ngorok dengan sampel dari RPH Surabaya
didapatkan isolat yang menunjukkan positif
sebanyak 1% dari 758 sampel), sedangkan
SUKAMTO et al. (1988) menemukan kasus
penyakit surra sebanyak 1,3 % dari 130 sampel
yang diamati pada saat terjadinya wabah surra
pada tahun 1988. SOESETYA (1993) melakukan
pengamatan terhadap prevalensi Faciolasis
terahap sapi Madura didapatkan sebesar
2,63%, masih jauh lebih rendah dibanding
kejadian pada sapi lain.
Kejadian penyakit yang terjadi didaerah
pengembangan di luar pulau Madura
dilaporkan adanya penyakit parasiter internal,
hepatitis, enteritis dan paru-paru yang
ditemukan pada kejadian kematian ternak;
disamping itu didapatkan juga penghambat
perkembangan sapi Madura yang diakibatkan
adanya penyakit gangguan akrivitas reproduksi
terutama disfungsi ovarium (ANONIMUS,
1993).
Kasus penyakit insidental yang umum
terjadi adalah akibat gangguan pencernaan
antara lain kembung , diare, dll.
PERBAIKAN MUTU GENETIK SAPI
MADURA
Sapi Madura berkembang secara murni di
pulau Madura dan dilindungi keberadaannya
dari tahun ketahun, mutasi keluar pulau terjadi
untuk memenuhi kebutuhan daging cukup
besar mencapai 24% kebutuhan supply dari
Jawa Timur. Secara berangsur terdapat
kecenderungan penurunan kualitasnya
sebagaimana sapi potong lain.
Peranan sosiobudaya masyarakat Madura
terhadap keberadaan sapi Madura disamping
pemanfaatan sebagai tenaga kerja, kebutuhan
ekonomi yang mampu mendukung perbaikan
mutu genetic ternak adalah aspek budaya
pemeliharaan secara khusus pada sapi yang
terpilih untuk diperlombakan, pajangan dan
memberikan kebanggan tersendiri serta
memiliki nilai ekonomis tinggi (harga jual
tinggi). Sapi betina dipelihara secara baik yang
disiapkan untuk dilombakan sebagai sapi
pajangan yang dikenal sebagai sapi Sonok,
sedangkan sapi jantan digunakan untuk pacuan
sebagai sapi Karapan.
Penggunaan pejantan milik peternak yang
digunakan sebagi pemacek pelayanannya rataLokakarya
Nasional Sapi Potong 2004
47
rata sekitar 12 kali perbulan, tanpa
memperhitungkan mutu pejantan yang
digunakan dan pada prinsipnya mampu
menghasilkan keturunan; hal ini juga sebagai
salah satu faktor penyebab penurunan genotipe
sapi Maduran.
Disamping ketersediaan pejantan berkualitas
yang terbatas, pemotongan betina produktif
dan penyediaan perbibitan sapi Madura belum
tersedia yang diharapkan mampu bertindak
sebagai replacement stock.
Tampaknya peluang pejantan yang
berkualitas untuk digunakan sebagai pejantan
sangat terbatas, pejantan yang dipelihara
dengan baik dimanfaatkan hanya sekedar hoby
atau kebanggan untuk kerapan (kesenangan
3%). Sayangnya sapi jantan yang dipelihara
sebagai sapi karapan tidak digunakan sebagai
pejantan pemacek, walau kondisi performans
sangat baik. Hal ini dilakukan untuk
menghindari karakter sapi pejantan berubah
bertemperamen tinggi (liar, ganas) yang sulit
dikendalikan, sehingga perbaikan mutu melalui
Inseminasi buatan memiliki peluang yang
cukup besar untuk mendukung meningkatkan
perbaikan mutu sapi Madura.
Perkawinan sapi dengan cara Inseminasi
Buatan (IB) telah dikenalkan sejak tahun 1983.
Namun perkembangan program perkawinan
secara IB ini pun di kalangan petani ternak di
Madura sangat lambat. Demikian pula
ketersediaan pejantan unggul hasil seleksi di
BIB terbatas adanya, tidak mencukupi/kurang.
Perbaikan mutu genetik sapi Madura
melalui strategi pemulia biakan ternak yang
dituangkan dalam arah dan tujuan yang ingin
dicapai dari perbaikan mutu genetik itu sendiri
ditinjau dari segala aspek baik aspek produksi,
reproduksi maupun aspek sosiobudaya.
Keberhasilan perbaikan mutu genetik ternak
secara garis besar dapat diukur dengan
pengamatan parameter fenotipik atau sifat-sifat
karakteristik berupa daya hidup (survival), laju
pertumbuhan, efisiensi reproduksi dan
persentase karkas.
Seleksi (pemurnian)
Perbaikan mutu genetik sapi Madura
melalui program seleksi guna mendapatkan
sumber bibit pejantan unggul dan merupakan
pilihan yang paling memungkinkan dengan
memanfaatkan populasi dan keunggulan sapi
lokal yang adaptif pada lingkungan kering dan
kondisi sumber pakan yang jelek.
Pengembangan sapi Madura pada kondisi
lingkungan yang sesuai pada habitat asli,
merupakan peluang keberhasilan tanpa harus
melakukan manipulasi penyesuaian
lingkungan; untuk itu pengambangannnya
dibutuhkan program pemulaibiakan sapi
Madura yang jelas, terarah, terkontrol dan
monitoring berkelanjutan.
Aspek sosiobudaya masyarakat Madura
yang mengembangkan hoby, kesenangan
memelihara sapi yang baik untuk dilombakan,
merupakan faktor pendukung didalam upaya
perbaikan mutu ternak. Pemanfaatan tradisi
budidaya masyarakat ini, merupakan bahan
pertimbangan yang perlu diperhatikan didalam
pelaksanaan seleksi yang memiliki performan
yang sesuai dengan selera masyarakat.
Perbaikan mutu genetik dengan pola
Peternakan Inti Terbuka (Open Nucleus
Breeding Plan) yang mempunyai kebaikan
selalu memasukkan gen baru didalam
kelompok pembibitan, sehingga dapat
mengurangi depresi silang dalam (inbreeding)
MARTOYO (1991).
Pembentukan pembibitan melalui seleksi/
penjaringan sapi Madura jantan dan betina dari
populasi umum yaitu populasi sapi Madura
yang dikembangkan oleh peternakan rakyat.
Hasil penjaringan dipersiapkan sebagai
kelompok pembibitan untuk menghasilkan
pejantan berkualitas sebagai sumber genetik
dan dikembangkan sebagai kelompok “elite”.
Seleksi sapi jantan dilakukan terhadap
keturunan kelompok pembibitan pada setiap
generasi dan diikuti penyisihan (culling) sapi
jantan dan betina yang menunjukkan
performans yang jelek.
Pejantan per generasi hasil seleksi (unggul)
dikembalikan ke populasi umum yaitu
peternakan rakyat untuk mengawini sapi
betina. Sapi jantan di populasi umum yang
tidak terseleksi dikeluarkan dari populasi
sebagi terminal sire sehingga memutus
genotype keturunan yang tidak diharapkan.
Kelompok pembibitan “elite” yang pada
dasarnya tidak menguntungkan dan
pengembalian modal jangka panjang, sehingga
kelompok atau pusat pembibitan penghasil
pejantan unggul dikelola oleh pemerintah atau
bekejasama dengan pemodal (swasta). Pola
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004
48
Gambar 1. Bagan perbaikan mutu genetik sapi Madura melalui perkawinan pejantan unggul pergenerasi
Sumber: HAKIM (1993)
pernaikan mutu ini dilakukan berkelanjutan
sampai diperoleh populasi umum dengan mutu
genetic semakin meningkat.
Perkawinan silang/grading up
Perkawinan silang merupakan cara
perkawinan antara individu yang tidak
memiliki hubungan keluarga dekat yang
bertujuan perbaikan mutu ternak secara cepat
dan hasilnya nyata dengan memanfaatkan
hybride vigour (heterosis), apabila heterosis
menunjukkan dampak positif dibanding
tetuanya. Menurut HARDJOSUBROTO (2002)
dan KINGHORN dan SIMM (1999) bahwa
perkawinan silang dua bangsa hanya dilakukan
dan akan memberikan manfaat yang baik
apabila efek heterosis tampak lebih baik.
Faktor heterosis dimanfaatkan yang
penekanannya diarahkan kepada peningkatan
produktivitas, sedangkan arah untuk
mendapatkan bangsa baru merupakan hal yang
tidak mungkin karena diperlukan waktu
panjang, materi, dan keragaman faktor genetik
cukup besar.
Pengalaman hasil pemuliabiakan
perkawanan silang untuk mendapatkan bangsa
baru dengan produktivitas optimal terjadi
setelah perkawainan silang dengan ratio darah
3/8 lokal + 5/8 exotic. Sedangkan faktor
heterosis dari generasi kegenerasi akan selalu
semakin menurun 100%, 75%, 50%, 25% dan
pada akhirnya heterosis negative, akan terjadi
perubahan produktivitas. Produktivitas yang
paling optimal dari grading up dengan
pemanfaatan heterosis adalah ratio darah 50%,
F1 dikembangkan sebagai terminal breed.
Kebijakan Dinas Peternakan Propinsi Jawa
Timur melalui Semiloka dalam rangka
pemberdayaan dan grading up sapi Madura
guna mendukung program intan sejati Jawa
Timur, dengan arah pengembangan sapi
Madura melalui pemberdayaan, pelestarian dan
peningkatan produktivitas sapi Madura dengan
grading up melalui perkawinan silang (exotic
breed).
Kelanjutan grading up sapi Madura melalui
persilangan rotasi dengan pemanfaatan
pejantan hasil perkawinan silang (F1) akan
merubah struktur ratio darah turunan
pergenerasi. Ratio darah lokal (sapi Madura
Pusat pembibitan untuk
menghasilkan pejantan
(Pemeliharaan intensif
Populasi umum
Populasi umum betina
Populasi umum betina
Populasi umum betina
Populasi umum betina
Dinas Peternakan
atau UPT
Di Pedesaan
Seleksi jantan dan betina
Generasi 1 X
Generasi 1 X
Generasi 1 X
Generasi 4 X
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004
49
semakin menurun dan akan diikuti perubahan
gen keunggulan sapi lokal yang memiliki
kemampuan adaptasi lingkungan.
Perlu adanya evaluasi/identifikasi/analisis
dampak pascacrossing pada lokasi/wilayah
pengembngan persilangan (crossing) untuk
memprediksikan strategi perkawinan silang
berikutnya yang sesuai dengan kendala teknis
maupun sosiobudaya masyarakat., prediksi
yang kurang tepat penyebab terjadinya
kehancuran suatu bangsa.
Perkawinan silang yang terkendali,
pengawasan tidak ketat program tidak jelas
kelanjutannya yang selama ini selalu terjadi
didalam pelaksanaan program perkawinan
silang (program ongolisasi misalnya) ,dapat
terjadi kekacauan genetik yang pada akhirnya
tidak memberikan dampak posisitif, demikian
pula maraknya program IB bangsa sapi
temperate sampai sekarang belum banyak data
tentang hasil dan pengaruh perkawinan silang
yang akurat.
Perkawinan silang terhadap sapi Madura
dibutuhkan perwilayahan yang seyogyanya
tidak mengganggu perkembangan sapi murni
yang memiliki kompetensi dan keunggulan
tersendiri sebagai indigenus breed.
Gambar 2. Bagan grading up sapi Madura dengan pejantan persilangan
F-1 jantan dan betina
(50 % import : 50% lokal
Kelompok betina
terseleksi dari
populasi umum
Pejantan
unggul import
Populasi umum betina
Interse mating untuk menghasilkan
pejantan persilangan (F-1)
75% lokal
25% impor
(betina)
62% lokal
38% impor
(betina)
56% lokal
44% impor
(betina)
Interse mating untuk menghasilkan
pejantan persilangan (F-1)
Interse mating untuk menghasilkan
pejantan persilangan (F-1)
Perkawinan secara kontinyu dengan diikutiseleksi
Dinas Peternakan
atau UPT
Di Pedesaan
X
X
X
X
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004
50
PELESTARIAN PLASMA NUTFAH SAPI
MADURA
Penyebaran sapi Maduran diluar pulau
Madura tidak menunjukkan perkembangan
yang siknifikans sehingga dalam upaya
pelestariannya lebih memungkinkan dilaksanakan
di pulau Madura, yang selama ini masih
dilindungi atau diatur oleh perundangan.
Sapi Madura sebagai plasma nutfah sapi
potong indigenus merupakan salah satu
kebanggaan secara nasional yang perlu
dipertahankan keberadaannya.
Layaknya sapi Bali, sapi Madura juga
merupakan sapi potong yang dilindungi
keberadaannya di pulau Madura. Mengacu
kepada Lembaran Negara (Staadblad) No.226
tahun 1923, No.1465 tahun 1925, No. 368
tahun 1927, No. 57 tahun 1934 dan No. 115
tahun 1937; serta tersirat didalam UU Nomor 6
tahun 1967 tentang pokok-pokok Peternakan
dan Kesehatan Hewan. Peraturan-peraturan
tersebut menybutkan antara lain ditetapkan
bahwa pulau Madura dan Bali sebagai tempat
pengembangan murni (pure breed) masingmasing
untuk sapi Madura dan sapi Bali;
pelarangan keluar dan masuknya jenis sapi lain
dari pulau, pengeluaran dapat dilakukan
dengan syarat khususnya diberikan bagi sapi
yang tidak produktif atau bukan sebagai bibit.
Kebijakan untuk kepentingan yang khusus
maka pengeculian hanya dapat diberikan oleh
Mentri Pertanian dengan pengawasan yang
ketat dan terjamin tidak akan terjadi
pencemaran kemurnian sapi di lingkungannya
(DARMADJA, 1990).
Konsistensi penerapan peraturan tersebut
sebagai salah satu faktor yang dapat
menyebabkan kemajuan atau kemerosotan
sumberdaya genetik sapi Madura di habitat
aslinya pulau Madura, Jangka panjangnya
kemungkinan untuk mendapatkan sapi yang
baik, murni, dengan produktivitas tinggi justru
“berada diluar” pulau Madura.
Kebijakan Dinas Peternakan Propinsi Jawa
Timur dalam rangka pemberdayaan, pelestarian
dan grading up sapi Madura dengan sapi
bangsa Bos taurus yang berwarna merah
dengan syarat antara lain minat masyarakat dan
wilayah yang berkecukupan pakan atau
peternak mampu. Sedangkan untuk pemurnian
diprediksikan akan dikembangkan di
kepulauan sekitar Pulau Madura, akan tetapi
seberapa jauh dampak pemuliabiakan dengan
wilayah pengembangan yang relatif kecil baik
wilayah dan populasinya. Pada akhirnya akan
memberikan dampak yang lebih mengenaskan
bagi sapi Madura sebagai sapi indigenus
kebanggan bangsa. Namun demikian perlu
adanya jaminan tidak akan terjadi pencemaran
terhadap “bangsa” ternak murni (BUDIMAN,
1991).
Sebagai pengimbang paling tidak dilakukan
atau ditentukan peluasan area pembibitan di
wilayah lain yang mampu mengisolasi
komunitas yang cukup besar dan diikuti
program seleksi pemurnian sapi Madura untuk
meningkatkan produktivitas yang diissuekan
cenderung semakin menurun.
Dukungan kebijakan yang konsisten,
peninjauan dan penegasan kembali peraturan
pemerintah yang ada, guna tindak lanjut dalam
pelaksanaan pelindungan, pemanfaatan dan
pengembangan sapi Madura yang lebih nyata.
Seyogyanya pemanfaatan sapi madura murni di
pulau Madura sebagai populasi dasar yang
memungkinkan dikembangkan sebagai bahan
dasar untuk membentuk bangsa baru yang
unggul dan adaptif untuk daerah tropis, untuk
itu program pembibitan kearah pembentukan
bangsa baru dilaksanakan diluar Pulau Madura.
KESIMPULAN
1. Perlu dilakukan pelestarian sapi Madura
sebagai bangsa sapi indigenus Indonesia
dan dibutuhkan penyiapan bibit pejantan
berkualitas (unggul) melalui pembibitan
dan performans test.
2. Produktivitasnya beragam berpeluang
ditingkatkan dengan pemanfaatan potensi
kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap
lingkungan yang berat dan tahan penyakit.
3. Seleksi dan atau grading up dapat
dilakukan dengan pertimbangan pelestarian,
perwilayahan pengembangan dan
monitoring berkelanjutan terhadap genotipe.
4. Keterbatasan populasi pada wilayah
pembibitan dapat sebagai faktor percepatan
inbreeding.
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004
51
DAFTAR PUSTAKA
ANONIMUS. 2001. Penetapan standard bibit ternak
regional Jawa Timur. Dinas Peternakan
Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Sumenep.
ANONIMUS. 1993. Pengembangan sapi Madura di
kabupaten Bulungan Kalimantan Timur. Pros.
Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan
Pengembangan Sapi Madura. Sub Balitnak
Grati. Sumenep. hlm. 35–44.
BAKRI, B., KOMARUDIN-MA’SUM dan E. TELENI.
1993. Peningkatan kemampuan kerja sapi
Madura melalui perbaikan kondisi fisik
sebelum masa kerja. Pros. Pertemuan Ilmiah
Hasil Penelitian dan Pengembangan Sapi
Madura. Sub Balitnak Grati. Sumenep. hlm.
211–215.
BUDIMAN, S. 1991. Peraturan dan kebijakan
pemuliaan di Indonesia serat permasalahannya.
Direktorat Bina Produksi Peternakan.
Makalah pada seminar sehari Bersama
pemuliaan Ternak. Fak Peternakan. IPB.
Bogor. 26 September 1991.
DARMONO, N. GINTING dan SUDARISMAN. 1993.
Penyakit pada sapi Madura dan peneltian
penyakit yang telah dilakukan. Pros.
Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan
Pengembangan Sapi Madura. Sub Balitnak
Grati. Sumenep. hlm. 55−58.
DJATI, M.S. dan KARNAEN. 1993. Evaluasi
kemampuan sapi Madura untk mengolah lahan
pertanian lahan kering. Pros. Pertemuan
Ilmiah Hasil Penelitian dan Pengembangan
Sapi Madura. Sub Balitnak Grati. Sumenep.
hlm. 221−230.
HARDJOSUBROTO, W., ENDANG. B. dan SIDQI-ZAUD.
1993. Kapasitas suplai sapi Madura dari pulau
Madura. Pros. Pertemuan Ilmiah Hasil
Penelitian dan Pengembangan Sapi Madura.
Sub Balitnak Grati. Sumenep. hlm. 198−210.
HEDAH, J. 1993. Peranan Balai inseminasi Buatan
Singosari dalm meningkatkan mutu sapi
Madura melalui inseminasi buatan. Pros.
Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan
Pengembangan Sapi Madura. Sub Balitnak
Grati. Sumenep.Hal :92−100.
KINGHORN, B.P. and G. SIMM. 1999. The genetics of
cattle. Ed. R Fries and A. Ruvinsky. Cabi
Publishing 577−603.
KOMARUDIN-MA’Sum. 1993. Hasil-hasil
penelitian sapi Madura di Sub Balai Penelitian
Ternak Grati, Pasuruan. Pros. Pertemuan
Ilmiah Hasil Penelitian dan Pengembangan
Sapi Madura. Sub Balitnak Grati. Sumenep.
hlm. 45–54.
Hakim, L. 1993. Program pemuliaan sapi Madura
dalam rangka meningkatkan performans
produksinya. Pros. Pertemuan Pembahasan
Hasil Penelitian Bibit Sapi Madura Guna
meningkatkan Mutu Sapi Madura. Malang.
Sub Balitnak Grati. Hal : 49 – 58.
Martoyo, H. 1991. Program pemuliaan dalam usaha
pembibitan ternak sapi pedaging dan
permasalahannya. Makalah pada seminar
sehari Bersama pemuliaan Ternak. Fak
Peternakan. IPB. Bogor. 26 September 1991.
Siregar, A. R. 1995. Potensi dan karakteristik sapi
Madura. J. Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Vol. IV. No. 2.
Rasyid, A. dan U. Umiyasih, 1993. Study tentang
prestasi berat badan dan ukuran tubuh sapi
sonok. Proc. Pertemuan Ilmiah Hasil
Penelitian dan Pengembangan Sapi Madura.
Sub Balitnak Grati. Sumenep. Hal. 236-240.
Soehadji. 1993. Kebijakan pengembangan ternak
potong di Indonesia tinjauan khusus sapi
Madura. Pros. Pertemuan Ilmiah
HasilPenelitian dan Pengembangan Sapi
Madura. Sumenep. Hal.1-12.
Soerjoatmodjo, M. 2002. Tinjauan potensi sapi
Madura dan kajian program grading up
menuju tercapainya kecukupan daging tahun
2005. Semiloka dalam rangka pemberdayaan
dan grading up guna mendukung program
intan sejati Jawa Timur. Dispet Prop. Jatim.
Sumenep.
Soesetya, R. H. B. 1993. Prevalensi fasciolasis pada
sapi Madura yang disembelih di wilayah
pembantu Gubernur Jawa Timur di Madura.
Pros. Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan
Pengembangan Sapi Madura. Sub Balitnak
Grati. Sumenep. Hal.257-261.
Sudana, I.G. S., S. Witono, Soeharsono, D. N.,
Darma dan I. N. Suendra. 1993. Survei situasi
penyakit ngorok (haemirrhagic septichaemi) di
Pulau Madura. Dalam Pros. Laporan Tahunan
Hasil Penyidikan Penyakit Hewan di
Indonesia., periode 1981/1982 : 51-57.
Sukanto, I. P., R. C. Payne dan R. Graydon. 1988.
Trypanosomiasis di Madura. Survei
parasitologi. Penyakit Hewan 20 (36) : 85-87.
Susilawati, T. 2002. Strategi dan peran inseminasi
buatan dalam grading up sapi Madura.
Semiloka dalam rangka pemberdayaan dan
grading up guna mendukung program intan
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004
52
sejati Jawa Timur. Dispet Prop. Jatim.
Sumenep.
Umar, M. dan Riszqina. 1993. Perbandingan antara
pemakaian formula berat hidup dan berat
ditimbang pada sapi Madura dara. Pros.
Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan
Pengembangan Sapi Madura. Sub Balitnak
Grati. Sumenep. Hal.252-256.
Warwck, E. J. Astutik, dan W. Hardjosubroro. 1983.
Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada Univ. Press.
Yogyakarta.
Wijono D. B. dan Lukman Affandhy. 1993.
Tampilan reproduksi sapi “Sonok” di
Kabupaten Sumenep, Madura. Pros.
Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan
Pengembangan Sapi Madura. Sub Balitnak
Grati. Sumenep. Hal.106-109.
Wijono D. B.. 1998. Peran bobot badan dan ukuran
testes sapi potong pejantan terhadap
kemampuan produksi dan tingkat kualitas
semen. Pros. Seminar Nasional Peternakan
dan Veteriner. Jilid I. Puslitbangnak. Bogor.
Hal. 228-232.
Wijono, D. B. dan Apffandhy, L.1996. Peranan skor
kondisi badan induk dalam pemanfaatan
potensi g netik sapi Madura. Pros. Temu
Ilmiah Hasil-hasil Penelitian Peternakan.
Puslitbangnak. Ciawi-Bogor. Hal : 223 -228.

Posted by: mcenter | July 14, 2007

Ojung dari Madura Terancam Punah

 



Sumenep, Rabu
Seni adu ketangkasan dan kekebalan khas Madura, ojung, yang dimainkan satu lawan satu dengan menggunakan alat pemukul dari rotan sepanjang 1,5 meter, terancam punah. Atas dasar itu, sebuah stasiun radio dengan siaran-siaran bernuansa Madura di Sumenep menggelar pertunjukan seni tersebut pada Rabu ini (14/6).

Untuk menampilkan ojung sebagai tontonan umum di Lapangan Kecamatan Gapura, Sumenep, pihak stasiun radio itu mengalami kesulitan dalam mendapatkan para pemain ojung di Kabupaten Sumenep.

Menurut dra Juli Rumiana, Direktris PT Radio Pesona Wisatama Sumenep, stasiun radio dimaksud, di wilayah tersebut kini hanya ada dua kelompok pemain, yaitu di Kecamatan Batuputih dan Kecamatan Batang-batang, Sumenep utara. Para pemain ojung haruslah orang-orang yang tangguh, termasuk dalam menahan rasa sakit akibat pukulan rotan.

Pengatur pelaksanaan ojung itu memberi waktu 30 menit untuk para pemain saling menundukkan lawan. Ketika digelar, ojung membuat merinding para penonton. Maklum, alat pukul rotan itu bisa membuat pemain yang belum kebal dan tangkas mengalami lecet dan memar pada tubuh bagian belakang.

Meskipun tak ada juri dalam pertandingan tersebut, pemain yang lebih banyak terkena pukulan rotan dianggap kalah oleh para penonton. Ada pemain yang sampai roboh karena tidak kuat menahan pukulan lawan.

“Sepintas, sangat mengerikan. Tapi, para pemain yang tidak luka dan lebih sedikit terkena pukulan rotan lawan menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga mereka,” ujar Juli. Lanjut Juli, hubungan antarpemain tetap baik di luar pertandingan.

Ojung digelar dengan iringan permainan alat-alat musik tradisional Madura seperti tong-tong, seruling, dan gendang kecil. Musik tersebut disajikan oleh 12 orang. Tepuk tangan dan seruan penyemangat dari para penonton pun memeriahkan suasana.

Salah satu tokoh ojung, Madra’e, mengatakan bahwa seni itu lahir di zaman emas Kerajaan Sumenep (Soengenep).

“Tempo dulu, pria yang ingin menyunting wanita, salah satu persyaratannya adalah memiliki kemampuan olah tanding dan kekebalan. Ini dimaksudkan, supaya sang calon istri merasa aman dari gangguan penjahat dengan memiliki suami seperti itu,” ucapnya.

Kata Madra’e lagi, dalam perkembangannya ojung sampai ke pelosok-pelosok Sumenep. Pada 1980-an pun masih mudah didapati pertunjukan ojung. Namun demikian, kemudian, dengan semakin sedikitnya orang di sana yang mendalami ilmu kekebalan, ojung kian tak terdengar.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sumenep Edi Mustika mengatakan, ojung sangat sulit untuk dikembangkan lagi. Walaupun begitu, sambung Edi, ojung perlu dipertahankan. “Minimal kita pertahankan tetap ada ojung Madura, yakni dengan cara sesering mungkin menggelar pertunjukannya, ujarnya.

Sumber: Antara
Penulis: Ati Kamil

Posted by: mcenter | July 14, 2007

HASIL-HASIL PENELITIAN SAPI MADURA


Sapi Madura adalah salah satu bangsa sapi asli Indonesia, banyak didapatkan di Pulau Madura. Salah satu kelebihan sapi Madura adalah tahan terhadap kondisi-pakan yang berkualitas rendah. Namun ada kecenderungan bahwa mutu sapi Madura menurun produktivitasnya atau terjadi pergeseran nilai (produktivitas) dari waktu ke waktu, yang sanipai saat ini pertyebabnya belum diketahui dengan jelas.
Telah dilakukan penelitian yang diarahkan kepada peningkatan produktivitas melalui seleksi bibit dan perbaikan pakan, tatalaksana pemeliharaan dan penanganan faktor sosial ekonomi pemeliharaan sapi Madura.
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa dari 535 ekor sapi jantan muda yang diamati di P.Madura, ternyata sapi yang baik terseleksi sebanyak 30 ekor. Libido sapi Madura calon pejantan sangat kuat, tetapi produksi semen masih agak rendah, yaitu: rata-rata 1,0-1,3 ml/ejakulasi dengan konsentrasi 409 juta spermatozoa. Pemberian gliricidia sebanyak20% + dedak 1,5%bobotbadandenganjerami kedelaiad libitum meningkatkan bobot badan 451 gr/ekor/hari. Hasil pengamatar di Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya menunjukkan, bobot hidup dari sapi yang dipotong masih dibawah 250 kg dengan bobot karkas antara 50,96% – 51,72%. Dari segi tatalaksana pemeliharaan menunjukkan, sekitar 80% petani pemelihara menggunakan sapi Madura sebagai sapi kerja denganjumlah kisaran pemeliharaan 1,25-2,5 unitternak. Status pemilikan sapi Madura di peternak, antara lain: sebagai sapi sendiri dan sapi gaduhan. Ratio antara jumlah sapi gaduhan dengan jumlah tenaga kerja keluarga produktif masih rendah, berkisar antara 1,0 – 1,5.
Disimpulkan bahwa seleksi calon pejantan sapi Madura merupakan salah satu cara untuk meningkatkan mutu sapi Madura yang cenderung menurun. Gliricidia merupakan salah satu jenis tana man yang dapat dipakai untuk memperbaiki penampilansapi Madura.

Posted by: mcenter | July 14, 2007

Kek Lapis Ketan Madura


Sumber: Majalah Jelita, April 1991

   
Bahan-Bahan:
20 biji kuning telur, disejukkan
5 biji putih telur
230 gm gula halus
160 gm tepung pulut
1 camca teh serbuk penaik
350 gm mentega
2 sudu besar madu
2 sudu besar susu pekat
1 camca teh esen pandan
1 camca teh esen limau
1 camca teh esen pisang
Cara:
Pukul mentega bersama susu dan madu hingga putih.

Pukul telur bersama gula hingga naik. Masukkan tepung dicampur serbuk penaik. Pukul lagi hingga pekat.

Masukkan adunan mentega. Gaul rata.

Bahagikan adunan kepada tiga bahagian. Satu campurkan esen pandan, esen limau dan juga esen pisang.

Bakar adunan berselang-seli hingga habis.

Posted by: mcenter | July 14, 2007

Soto Ayam Madura

Udara mulai dingin…suasana Ramadhan masih terasa…untuk menu buka puasa, enak juga makan Soto ayam…

Soto Ayam Madura

Image hosted by Photobucket.com

Bahan:
1 ekor ayam, belah 2-4

2 liter kaldu ayam

1 batang sereh, memarkan

3 lbr daun jeruk purut

3 batang daun bawang

2 batang daun seledri (jika ada)

75 gr keripik kentang (bisa diganti dgn chips:-))

50 gr soun, potong-potong, rendam hingga lunak, tiriskan

4 butir telur rebus belah 2-4

1-2 sdm bawang goreng

100 gram taoge, seduh air mendidih, tiriskan

2 buah jeruk nipis & kecap manis
Bumbu:
3 buah bawang merah
5 siung bawang putih
1 cm jahe
2 sdt kunir bubuk
4 buah kemiri, yang sudah disangrai
1 sdt ketumbar bubuk

Cara membuat:
1. Rebus ayam dengan 2 liter air hingga lunak.
2. Semua bumbu dirajang (iris) halus. kemudian ditumis bersama dengan sereh & daun jeruk, tumis setengah matang hingga harum. Kemudian diulek dgn garam & merica. Masukkan ke dalam panci yang berisi rebusan ayam & kaldu. Lanjutkan, masak dengan api kecil. *Angkat ayam. Masukkan 1 blok kaldu sapi Maggi (jika suka) serta sebagian irisan daun bawang kedalam kuah rebusan ayam tadi.
3. *Angkat ayam, suwir-suwir. Kemudian goreng hingga kecoklatan & agak mengering.

Cara menghidangkan:
Susun dalam mangkuk: soun, taoge, daging ayam, daun bawang, seledri & bawang goreng. Tuangi kuah panas, taburi keripik kentang dan irisan telur. Hidangkan dengan sambal, kecap dan jeruk nipis.

Sambal Soto:
Rebus 10 buah cabe merah, tiriskan. Ulek kasar bersama kemiri & garam. Tuangi edikit kuah soto, aduk rata.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.