<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SEMUA TENTANG MADURA - MADURA INDONESIA MANDIRI</title>
	<atom:link href="http://maduracenter.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://maduracenter.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Jul 2007 17:21:45 +0000</lastBuildDate>
	<language></language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='maduracenter.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SEMUA TENTANG MADURA - MADURA INDONESIA MANDIRI</title>
		<link>http://maduracenter.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://maduracenter.wordpress.com/osd.xml" title="SEMUA TENTANG MADURA - MADURA INDONESIA MANDIRI" />
	<atom:link rel='hub' href='http://maduracenter.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>CeluriiiiiiiTTTTTT</title>
		<link>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/celuriiiiiiitttttt/</link>
		<comments>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/celuriiiiiiitttttt/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 17:21:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcenter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/celuriiiiiiitttttt/</guid>
		<description><![CDATA[Celurit memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Madura, Jawa Timur. Senjata tajam yang berbentuk melengkung ini begitu melegenda. Sejak dahulu kala hingga sekarang, hampir setiap orang di Tanah Air mengenal senjata khas etnis Madura ini. Saking populernya, celurit kerap diidentikkan dengan berbagai tindak kriminal. Bahkan celurit juga digunakan oleh massa saat terjadi kerusuhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=51&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Verdana"><font size="2"><span class="newsText">Celurit  memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Madura, Jawa  Timur. Senjata tajam yang berbentuk melengkung ini begitu melegenda. Sejak  dahulu kala hingga sekarang, hampir setiap orang di Tanah Air mengenal senjata  khas etnis Madura ini. Saking populernya, celurit kerap diidentikkan dengan  berbagai tindak kriminal. Bahkan celurit juga digunakan oleh massa saat terjadi  kerusuhan maupun demonstrasi di pelosok Nusantara untuk menakuti  lawannya.</p>
<p>Boleh jadi, begitu mendengar kata Madura, dalam benak sebagian  orang bakal terbayang alam yang tandus, wajah yang keras dan perilaku  menakutkan. Kesan itu seolah menjadi benar tatkala muncul kasus-kasus kekerasan  yang menggunakan celurit dengan pelaku utamanya orang Madura.</p>
<p>Kendati  demikian tak semua orang mengetahui sejarah dan proses sebuah celurit itu dibuat  hingga dikenal luas. Di tempat asalnya, celurit pada mulanya hanyalah sebuah  arit. Petani pun kerap menggunakan arit untuk menyabit rumput di ladang dan  membuat pagar rumah. Dalam perkembangannya, arit itu diubah menjadi alat  beladiri yang digunakan oleh rakyat jelata ketika menghadapi  musuh.</p>
<p>Demikian pula pendapat D. Zawawi Imron. Seniman sekaligus  budayawan Madura ini menuturkan, kalangan rakyat kecil memperlakukan celurit  sebagai senjata tajam biasa. Dengan kata lain, celurit itu bukan dianggap  senjata sakti.</p>
<p>Kini, masyarakat Madura masih memandang celurit sebagai  senjata yang tak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Tak mengherankan, bila  pusat kerajinan senjata tajam itu banyak bertebaran di Pulau  Madura.</p>
<p>Tersebutlah sebuah desa kecil bernama Peterongan. Kampung ini  terletak di Kecamatan Galis, sekitar 40 kilometer dari Kabupaten Bangkalan. Di  sana, sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya sebagai pandai besi  pembuat arit dan celurit. Keahlian mereka adalah warisan leluhur sejak ratusan  tahun lampau.</p>
<p>Tak salah memang, bila desa ini menjadi kondang. Maklum,  celurit buatan para perajin di Desa Peterongan itu dikenal kokoh dan halus  pengerjaannya. Seorang di antara mereka adalah Salamun. Siang itu, lelaki  berusia 54 tahun ini menemui Sunarto utusan dari sebuah padepokan silat terkenal  di Kecamatan Kamal, Bangkalan.</p>
<p>Sunarto pun meminta Salamun mengerjakan  sebilah celurit berjenis bulu ayam. Bagi Salamun, membuat celurit adalah bagian  dari napas kehidupannya. Celurit tak hanya sekadar dimaknai sebagai benda tajam  yang digunakan untuk melukai orang. Akan tetapi celurit adalah karya seni yang  mesti dipertahankan dari warisan leluhurnya.</p>
<p>Pagi itu, Salamun didampingi  putranya berbelanja membeli besi tua yang berada di sudut Desa Peterongan. Di  antara tumpukan besi itu, Salamun memilih besi bekas rel kereta api dan per  bekas jip sebagai bahan baku membuat celurit pesanan Sunarto.</p>
<p>Besi  pilihan itu lantas dibawa menuju bengkel pandai besi miliknya yang berada tak  jauh dari halaman rumahnya. Batangan besi tersebut kemudian dibelah dengan  ditempa berkali-kali untuk mendapatkan lempengannya. Setelah memperoleh  lempengan yang diinginkan, besi pipih itu lantas dipanaskan hingga mencapai  titik derajat tertentu.</p>
<p>Logam yang telah membara itu lalu ditempa  berulang kali sampai membentuk lengkungan celurit yang diinginkan. Dengan  dibantu ketiga anaknya, Salamun membuat celurit pesanan padepokan silat tersebut  dengan penuh ketelitian. Sebab dia memandang celurit harus mencirikan sebuah  karya seni. Tak sekadar sepotong besi yang ditempa berkali kali, melainkan harus  memiliki arti dan makna bagi yang memilikinya.</p>
<p>Lantaran itulah, sebelum  mengerjakan sebilah celurit, Salamun biasa berpuasa terlebih dahulu. Bahkan  saban tahun, tepatnya pada bulan Maulid, Salamun melakukan ritual kecil di  bengkelnya. Menurut Salamun, ritual ini disertai sesajen berupa ayam panggang,  nasi dan air bunga. Sesajen itu kemudian didoakan di musala. Baru setelah itu,  air bunga disiramkan ke bantalan tempat menempa besi. &amp;quotKalau ada yang  melanggar (mengganggu), ia akan mendapatkan musibah <em>sakit-sakitan</em>,&#8221; ucap  Salamun.</p>
<p>Hingga kini, <em>tombuk</em> atau bantalan menempa besi pantang  dilangkahi terlebih diduduki oleh orang. Keahlian pak Salamun membuat celurit  tak bisa dilepaskan dari warisan orang tua dan leluhur kakeknya. Semenjak kecil  dirinya sudah dilibatkan cara membuat celurit yang benar.</p>
<p>Salamun  mengungkapkan, buat mengerjakan sebuah celurit besar, dibutuhkan waktu sekitar  dua hingga empat hari. Adapun harga celurit tergantung dari bahan dan ukuran  motifnya. Celurit paling murah dilepas seharga Rp 100.000.</p>
<p>Pria itu  termasuk produktif. Betapa tidak, sudah ribuan celurit yang dihasilkan dari  tempaan Salamun. Namun kini, Salamun lebih berhati-hati menerima pesanan  celurit. Dia beralasan, banyak orang yang tak memahami filosofi celurit.  Minimnya pemahaman inilah yang mengakibatkan celurit lebih banyak digunakan  untuk tindak kejahatan.</p>
<p>Sebaliknya, bagi yang mengerti, celurit itu  tentunya digunakan lebih berhati-hati. Pendapat itu memang beralasan. Soalnya  celurit juga diartikan sebagai lambang ksatria. Dan, bukan malah untuk sembarang  menyabet orang.</p>
<p>Di Madura, banyak dijumpai perguruan pencak silat yang  mengajarkan cara menggunakan celurit. Satu di antaranya Padepokan Pencak Silat  Joko Tole, pimpinan Hasanuddin Buchori. Perguruan ini mengambil nama dari  seorang ksatria asal Sumenep. Kala itu Madura dibagi menjadi dua wilayah  kerajaan besar, yaitu Madura Timur di Sumenep dan Madura Barat di Arosbaya  Bangkalan. Adapun peninggalan Kerajaan Madura Barat masih terlihat dalam situs  makam-makam kuno di Arosbaya.</p>
<p>Dan hari ini, perguruan yang banyak  mengorbitkan atlet pencak silat nasional itu secara rutin berlatih meneruskan  cita-cita dan semangat leluhurnya, Joko Tole. Padepokan Silat Joko Tole selama  ini cukup kesohor di kalangan pencak silat di Tanah Air. Terutama dalam  mengajarkan penggunaan senjata tradisional celurit.</p>
<p>Walaupun hanya sebuah  benda mati, celurit memiliki beragam cara penggunaannya. Ini tergantung dari  niat pemakainya. Di Perguruan Joko Tole, misalnya. Celurit tidak sekadar  diajarkan untuk melumpuhkan lawan. Namun seorang pemain silat harus memiliki  batin yang bersih dengan berlandaskan agama.</p>
<p>Sebagian masyarakat  menganggap celurit tak bisa dipisahkan dari tradisi <em>carok</em> yang dianut  oleh sebagian orang Madura. Sayang, hingga kini, belum satu pun peneliti yang  bisa menjelaskan awal mula carok menjadi bagian hidup orang Madura. Yang terang,  pada dasarnya carok biasa dilakukan ketika seseorang merasa dipermalukan dan  harga dirinya dilecehkan. Maka, penyelesaian yang terhormat adalah dengan  berduel secara ksatria satu lawan satu.</p>
<p>Latar belakang perkelahian  seperti itu diakui Zawawi Imron. Budayawan ini menerangkan, ada adigium Madura  yang mengatakan: Dibandingkan dengan putih mata lebih bagus putih tulang.  Artinya, daripada hidup malu lebih baik mati. Dengan kata lain, ketika orang  Madura dipermalukan, maka ia berbuat pembalasan dengan melakukan carok terhadap  yang menghinanya itu.</p>
<p>Namun dalam perkembangannya, arti carok sendiri  menjadi tidak jelas. Terutama bila dihubungkan dengan <em>nyelep</em>, yakni  menyerang musuh dari belakang atau ketika lawan sedang lengah. Dan, hal itu  semakin tidak jelas manakala banyak kasus kekerasan yang bermotifkan sosial  ekonomi.</p>
<p>Jadi, untuk mengubah stereotip itu, orang Madura harus melawan  kebodohan dan ketertinggalan. Ini seperti kerinduan budayawan sekaligus penyair  Madura Zawawi Imron dalam puisi berjudul <em>Celurit Emas</em>: <em>Bila musim  melabuh hujan tak turun, kubasahi kau dengan denyutku. Bila dadamu kerontang,  kubajak kau dengan tanduk logamku. Di atas bukit garam kunyalakan otakku.  Lantaran aku tahu, akulah anak sulung yang sekaligus anak bungsumu. Aku berani  mengejar ombak. Aku terbang memeluk bulan. Dan memetik bintang gemintang di  ranting-ranting roh nenek moyangku. Di bubung langit kuucapkan sumpah. Madura,  akulah darahmu</em>.(ANS/Soedjatmoko dan Bambang Triono)</span>  </font></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maduracenter.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maduracenter.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maduracenter.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maduracenter.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maduracenter.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maduracenter.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maduracenter.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maduracenter.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maduracenter.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maduracenter.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maduracenter.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maduracenter.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maduracenter.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maduracenter.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maduracenter.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maduracenter.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=51&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/celuriiiiiiitttttt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/68f0062c4be56801282728ec452d8c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcenter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>* Menggali Potensi Wisata MaduraAntara Pengelolaan, SDM, dan Ancaman</title>
		<link>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/menggali-potensi-wisata-maduraantara-pengelolaan-sdm-dan-ancaman/</link>
		<comments>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/menggali-potensi-wisata-maduraantara-pengelolaan-sdm-dan-ancaman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 17:21:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcenter</dc:creator>
				<category><![CDATA[San Rasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/menggali-potensi-wisata-maduraantara-pengelolaan-sdm-dan-ancaman/</guid>
		<description><![CDATA[JATIM pantas bangga mempunyai Pulau Madura sebab selain penghasil garam juga menyimpan banyak potensi wisata. Tapi Pemda setempat masih harus kerja keras jika potensi itu ingin dijadikan komoditas. Kekayaan objek dan atraksi wisata yang ada di Madura masih perlu dikemas menjadi paket wisata menarik. Pantai yang mengitari pulau itu merupakan salah satu potensi yang bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=50&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JATIM pantas bangga mempunyai Pulau Madura sebab selain penghasil<br />
garam juga menyimpan banyak potensi wisata. Tapi Pemda setempat masih<br />
harus kerja keras jika potensi itu ingin dijadikan komoditas.<br />
Kekayaan objek dan atraksi wisata yang ada di Madura masih perlu<br />
dikemas menjadi paket wisata menarik. Pantai yang mengitari pulau itu<br />
merupakan salah satu potensi yang bisa dikemas menjadi paket wisata<br />
menarik itu.<br />
Pantai-pantai potensial itu di antaranya Siring Kemuning di Kab.<br />
Bangkalan; Camplong, Nipah, serta air terjun Toroan di Kab. Sampang;<br />
Talangsiring, dan Jumiang di Kab. Pamekasan, serta Slopeng dan Lombang<br />
di Kab. Sumenep.Sayangnya dari sejumlah pantai itu baru Pantai<br />
Camplong yang dikelola dengan baik. Tempat wisata yang terletak<br />
sekitar 10 km timur Kota Sampang itu telah dilengkapi pondok wisata<br />
dengan 16 kamar VIP dan rumah makan.<br />
Ongkos sewa kamar pondok wisata di Camplong berkisar Rp 25 wisata-Rp<br />
50 ribu untuk tempat tidur tunggal. Sedangkan untuk tempat tidur ganda<br />
berkisar Rp 28,5-Rp 55 ribu.<br />
Taman wisata Camplong yang dikelola Surabaya Inn Group ini juga<br />
dilengkapi kolam renang, dan tempat bermain anak-anak. Di sana<br />
wisatawan juga bisa belanja suvenir serta kudapan dan minuman yang<br />
disediakan pedagang.<br />
Untuk menuju ke objek wisata ini pengunjung tidak terlalu sulit,<br />
karena letaknya berada di jalur utama Madura. Wisatawan bisa menumpang<br />
kendaraan umum Sampang-Pamekasan atau berasyik-asyik naik dokar.<br />
Ongkos naik mobil penumpang umum (MPU) dari Sampang Rp 500,00 dan<br />
dokar Rp 3.000,00.<br />
Sedangkan air terjun Toroan di Ketapang dan Pantai Nipah masih<br />
dibiarkan tetap &#8220;perawan&#8221;. Padahal kedua objek itu juga mempunyai daya<br />
tarik tersendiri. Air terjun Toroan yang mengucurkan air langsung ke<br />
pantai Laut Jawa masih dibiarkan apa adanya.</p>
<p>Sedangkan Pantai Nipah yang berhutan pantai dan dihuni sekawanan kera<br />
masih dibiarkan apa adanya. Padahal objek ini bisa dijadikan tontonan<br />
menarik.<br />
Nasib serupa juga dialami Pantai Siring Kemuning di Bangkalan,<br />
Talangsiring, dan Jumiang di Pamekasan, serta Slopeng dan Lombang di<br />
Sumenep. Pantai-pantai itu hingga kini masih dibiarkan apa adanya.<br />
Pantai Siring Kemuning, Talangsiring, dan Slopeng sebenarnya pernah<br />
disentuh Pemda setempat. Pantai Siring Kemuning telah dilengkapi gardu<br />
pandang dan tempat bermain anak-anak. Tapi karena belum bisa menarik<br />
wisatawan, keadaan pantai itu kini memprihatinkan.<br />
Begitu pula Pantai Talangsiring di Pamekasan, objek wisata yang telah<br />
dibangun Pemda setempat pada 1983 itu kini telantar. Padahal letak<br />
pantai ini sebenarnya strategis karena berada di jalur utama Madura.<br />
Apalagi Pantai Jumiang yang letaknya jauh dari jalur utama Madura<br />
masih dibiarkan &#8220;perawan&#8221;. Untuk mendukung objek wisata ini Pemda<br />
setempat baru mendukung jalan.<br />
Sedangkan Pantai Slopeng yang berada di Kec. Dasuk, Kab. Sumenep yang<br />
telah dilengkapi pondok wisata juga belum bisa menarik wisatawan.<br />
Padahal tarif kamar yang dikelola UD Sumekar itu cuma Rp 15 ribu.<br />
Pantai-pantai di Madura itu hanya ramai dikunjungi wisatawan lokal<br />
saat Lebaran Ketupat (tujuh hari setelah Idul Fitri). Kesempatan ini<br />
yang digunakan Pemda untuk ajang promosi dengan menggelar panggung<br />
terbuka musik dangdut.<br />
Pantai Lombang<br />
Pantai yang kini memperoleh perhatian khusus Pemda Kab. Sumenep adalah<br />
Lombang. Untuk mengembangkan pantai di Kec. Batang-Batang ini pemda<br />
menjalin kerja sama dengan swasta.<br />
Pantai Laut Jawa yang masih perawan ini mempunyai panorama alam yang<br />
sangat indah. Lokasinya sekitar 30 km arah timur laut Kota Sumenep.<br />
Pasir pantainya yang putih dan bersih cocok untuk menjemur badan. Di<br />
pantai sepanjang 12 km ini wisatawan juga bisa menikmati matahari<br />
terbit atau terbenam.<br />
Ciri khas Pantai Lombang adalah &#8220;hutan&#8221; cemara udang. Tanaman yang<br />
termasuk langka ini menjadi ciri khas Pantai Lombang karena jarang<br />
didapati di daerah lain.<br />
Sekwilda Kab. Sumenep, Drs H Dwiatmo Hadiyanto mengatakan, gagasan<br />
pemda untuk mengembangkan Pantai Lombang ini telah mendapatkan<br />
dukungan dari Montana Group. Investor putra daerah itu berencana<br />
membangun cottage dan mini golf.<br />
Rencananya Montana Group akan membebaskan lahan seluas 60 hektare.<br />
Sayang, setelah membebaskan sebagian lahan, investor itu menghentikan<br />
kegiatannya. Sampai kini Dwiatmo belum mengetahui kelanjutan rencana<br />
itu.</p>
<p>Diperoleh keterangan, sejak ada rencana Pantai Lombang akan<br />
dikembangkan menjadi kawasan wisata, penduduk setempat merasa<br />
keberatan. Mereka &#8211;meski dengan cara pasif&#8211; menolak pembangunan<br />
wisata di sana.<br />
Sejumlah penduduk setempat melakukan aksi tahlil akbar di Pantai<br />
Lombang. Dalam kesempatan itu mereka berikrar: &#8220;Masyarakat Madura<br />
tidak menolak pembangunan wisata, tapi menolak kedatangan<br />
kemaksiatan&#8221;.<br />
Setelah terjadinya aksi itu Pemda Kab. Sumenep maupun investor saling<br />
mawas diri. Investor menghentikan sementara kegiatannya sedangkan<br />
Bupati Sumenep, Sukarno Marsaid, merencanakan membentuk Dewan<br />
Pariwisata Daerah.<br />
Dewan Pariwisata Daerah yang anggotanya akan melibatkan para ulama dan<br />
tokoh masyarakat itu nantinya akan berfungsi mendampingi Dinas<br />
Pariwisata Daerah setempat. Sehingga pengembangan wisata di Sumenep<br />
bisa berkembang sesuai keinginan pemda dan bisa diterima masyarakat<br />
setempat.<br />
Sekwilda Kab. Sumenep ketika menerima peserta Wisata Pers 1996, Rabu<br />
(24/1), mengakui jika pengelolaan pariwisata di daerahnya belum<br />
optimal. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sumenep setiap tahunnya<br />
rata-rata 200 orang dengan lama tinggal antara 1-3 hari.Pendapatan<br />
daerah dari subsektor pariwisata baru Rp 6 juta/tahun. Pendapatan ini<br />
berasal dari retribusi wisatawan yang masuk museum Keraton Sumenep.<br />
Sedangkan makam Asta tinggi yang banyak dikunjungi wisatawan nusantara<br />
hingga kini masih dikelola pihak keluarga.<br />
Minimnya pendapatan dari subsektor pariwisata ini juga dialami Kab.<br />
Sampang, yakni hanya Rp 9 juta/tahun. Pendapatan itu diperoleh dari<br />
retribusi masuk kawasan wisata Pantai Camplong. Padahal untuk<br />
membangun objek ini pemda setempat telah mengeluarkan dana Rp 250<br />
juta.<br />
&#8220;Objek wisata di Madura sebenarnya banyak tapi kondisinya belum<br />
marak,&#8221; kata Bupati Sampang, H Fadhilah Budiono, ketika menerima<br />
peserta Wisata Pers 1996 di peringgitan pendapa Kab. Sampang, Jumat<br />
lalu.<br />
Selain objek-objek wisata berpanorama alam pantai, Madura juga<br />
memiliki objek wisata sejarah dan budaya. Di antaranya, atraksi<br />
kerapan sapi dan sapi sonok yang terdapat hampir di seluruh desa.<br />
Atraksi yang telah menjadi ciri khas Madura ini bisa disaksikan antara<br />
Agustus-Oktober setiap tahunnya. Sedangkan acara puncak dilaksanakan<br />
di Pamekasan.<br />
Atraksi lainnya, tari topeng dalang, serta tari pecut di Sumenep.<br />
Sedangkan objek wisata sejarah di antaranya makam Aer Mata Ebu di<br />
Bangkalan, makam Ratu Ebu di Madegan Sampang, serta makam Asta Tinggi<br />
di Sumenep.<br />
Kendala utama pengembangan wisata di Madura kata Bupati Sampang karena<br />
belum terbangunnya Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) yang bakal<br />
menghubungkan Surabaya-Kamal.</p>
<p>Ia yakin jika jembatan itu terwujud, kondisi Madura akan jauh berubah.<br />
&#8220;Masak akan berwisata harus bersusah-susah dulu,&#8221; kata Fadhilah<br />
Budiono tentang kondisi Madura saat ini.</p>
<p>Kondisi penyeberangan Surabaya-Kamal sekarang &#8211;khususnya pada<br />
hari-hari libur&#8211; selalu membentuk antrean mobil yang panjang. Calon<br />
penyeberang terkadang bisa terjebak dalam antrean itu sekitar 2 jam.<br />
Akar masalah lain yang juga menjadi kendala adalah sumber daya manusia<br />
(SDM). Masyarakat Madura tampaknya belum mau mengawali melakukan<br />
kegiatan wisata.<br />
&#8220;Padahal kalau bukan orang Madura, siapa lagi yang harus memulai,&#8221;<br />
kata mantan Kapolres Probolinggo ini. Ia memberikan contoh, peternakan<br />
ayam bekisar yang sebenarnya bisa dijadikan andalan Madura kini malah<br />
ditekuni orang Bali.<br />
Fadhilah menyadari untuk membangun industri pariwisata di Madura perlu<br />
sosialisasi terlebih dulu. &#8220;Tentu saja ini membutuhkan waktu yang<br />
cukup lama. Keberadaan gedung bioskop di Sampang saja masih<br />
ditentang,&#8221; katanya.<br />
Tidak Dilarang<br />
Benarkah Madura menolak industri pariwisata? Pengasuh Pondok Pesantren<br />
Karongan Sampang, KH Alawy Muhammad, ketika ditemui wartawan di<br />
peringgitan pendapa Sampang, Jumat lalu mengatakan, ulama tidak<br />
melarang industri pariwisata masuk ke Madura. Syaratnya, asal tidak<br />
membawa dampak kegiatan yang merugikan agama dan budaya Madura.<br />
Didesak tentang kedekatannya industri pariwisata dengan dampak<br />
kemaksiatan yang bakal timbul, Kiai Alawy secara diplomatis menjawab,<br />
&#8220;Kemaksiatan bisa terjadi di mana-mana. Bisa di dalam industri<br />
pariwisata atau di luar itu.&#8221;<br />
Sedangkan ketika disinggung tentang belum adanya gedung bioskop di<br />
Sampang, kiai menjelaskan karena kondisi masyarakatnya yang belum<br />
siap. Tapi jika masyarakatnya sudah siap, tentu akan bisa menerimanya.<br />
Kondisi yang dilematis ini agaknya yang juga menjadi salah satu<br />
kendala pengembangan wisata Madura. Bahkan Pemda Kab. Bakalan dan<br />
Pamekasan terkesan kurang greget.<br />
Bupati Bangkalan, Djakfar Syafei, merasa pesimistis untuk<br />
mengembangkan wisata di daerahnya. Begitu pula Bupati Pamekasan,<br />
Subagio. Sehingga untuk mengembangkan wisata di Pamekasan masih<br />
menunggu perkembangan Madura di masa mendatang.<br />
Sedangkan Bupati Sumenep, Sukarno Marsaid, meski menyadari kendala itu<br />
terus menghalang mengatakan, Pemda kini terus berupaya mengembangkan<br />
potensi wisata Sumenep yang kaya itu. Tahun ini Pemda telah bekerja<br />
sama dengan Vaya Tour mengemas paket wisata Madura untuk wisatawan<br />
mancanegara.<br />
Dalam setahun itu telah dijadwalkan 17 kali kunjungan. Setiap<br />
rombongan yang bakal berkunjung sekitar 100 wisatawan. Wisatawan asal<br />
Eropa dan AS itu bakal datang dengan kapal laut.<br />
Para wisatawan itu bakal menikmati paket wisata Sumenep berupa atraksi<br />
kerapan sapi, tari pecut, mengunjungi makam raja-raja Sumenep di Asta<br />
Tinggi, dan melakukan wisata kota (city tour) untuk belanja hasil<br />
kerajinan industri kecil yang banyak terdapat di kota paling ujung<br />
timur Madura ini.<br />
Paket kunjungan wisata ini telah berjalan lima kali. &#8220;Awalnya<br />
wisatawan itu jadi tontonan, tapi lama-lama masyarakat Sumenep menjadi<br />
terbiasa,&#8221; kata Sekwilda Kab. Sumenep, Dwiarmo Hadiyanto. (Musyawir)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maduracenter.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maduracenter.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maduracenter.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maduracenter.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maduracenter.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maduracenter.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maduracenter.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maduracenter.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maduracenter.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maduracenter.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maduracenter.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maduracenter.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maduracenter.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maduracenter.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maduracenter.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maduracenter.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=50&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/menggali-potensi-wisata-maduraantara-pengelolaan-sdm-dan-ancaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/68f0062c4be56801282728ec452d8c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcenter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keris Luk 5 Dapur Pandawa Pamor Buntel Mayit (Gubet) Tangguh Sumenep Madura</title>
		<link>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/keris-luk-5-dapur-pandawa-pamor-buntel-mayit-gubet-tangguh-sumenep-madura/</link>
		<comments>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/keris-luk-5-dapur-pandawa-pamor-buntel-mayit-gubet-tangguh-sumenep-madura/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 17:20:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcenter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Handy Craft]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/keris-luk-5-dapur-pandawa-pamor-buntel-mayit-gubet-tangguh-sumenep-madura/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; 28th April 2006 &#60;&#8211; Index &#124; Showing 1-15 of 15 pictures &#124; Index &#8211;&#62; Keris Luk 5 Dapur : Pandawa Pamor : Buntel Mayit Tangguh : Sumenep Madura Tua (estimasi abad ke 17) Wrangka : Capil Madura (buatan baru) Bahan Wrangka : Kayu Trenggulun Madura Pendok : Topengan Madura (buatan lama) Bahan Pendok : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=49&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="title">&nbsp;</p>
<p class="subtitle">28th April 2006</p>
<p><!-- thing=http://www.google.co.id/search?q=%22madura%22&amp;hl=id&amp;client=firefox-a&amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;start=150&amp;sa=N  backto=/ --></p>
<p class="collectionlist-navbar">
<table class="collectionlist-navbar">
<tr>
<td class="collectionlist-navbar"><a href="http://keris.fotopic.net/">&lt;&#8211; Index</a> | Showing 1-15 of 15 pictures | <a href="http://keris.fotopic.net/">Index &#8211;&gt;</a></td>
</tr>
</table>
<table class="thumbs">
<tr class="thumbs">
<td style="vertical-align:top;" width="25%">
<table class="maxibox">
<tr>
<td class="maxibox">Keris Luk 5<br />
Dapur : Pandawa<br />
Pamor : Buntel Mayit<br />
Tangguh : Sumenep Madura Tua (estimasi abad ke 17)<br />
Wrangka : Capil Madura (buatan baru)<br />
Bahan Wrangka : Kayu Trenggulun Madura<br />
Pendok : Topengan Madura (buatan lama)<br />
Bahan Pendok : Alpaka<br />
Mendak : Meniran Jawa Timuran (buatan lama)<br />
Bahan Mendak : Perak<br />
Deder : Donoriko (buatan lama)<br />
Bahan Mendak : Gading Gajah<br />
Panjang Bilah : 37 Cm.<br />
Panjang Disarungkan : 48 Cm.<br />
Mas Kawin : Rp. 9.500.000</td>
</tr>
</table>
</td>
<td class="thumbs" width="75%">
<table class="thumbs">
<tr class="thumbs">
<td class="thumbs" width="33%"><a href="http://keris.fotopic.net/p34473742.html"><img src="http://thumbs.fotopic.net/742034000473.jpg" class="thumbs" height="150" width="112" /></a></td>
<td class="thumbs" width="33%"><a href="http://keris.fotopic.net/p34473743.html"><img src="http://thumbs.fotopic.net/743034000473.jpg" class="thumbs" height="150" width="112" /></a></td>
<td class="thumbs" width="33%"><a href="http://keris.fotopic.net/p34473744.html"><img src="http://thumbs.fotopic.net/744034000473.jpg" class="thumbs" height="150" width="112" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td class="thumbs">&nbsp;</td>
<td class="thumbs">&nbsp;</td>
</tr>
</table>
</td>
</tr>
</table>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maduracenter.wordpress.com/49/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maduracenter.wordpress.com/49/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maduracenter.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maduracenter.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maduracenter.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maduracenter.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maduracenter.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maduracenter.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maduracenter.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maduracenter.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maduracenter.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maduracenter.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maduracenter.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maduracenter.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maduracenter.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maduracenter.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=49&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/keris-luk-5-dapur-pandawa-pamor-buntel-mayit-gubet-tangguh-sumenep-madura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/68f0062c4be56801282728ec452d8c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcenter</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thumbs.fotopic.net/742034000473.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://thumbs.fotopic.net/743034000473.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://thumbs.fotopic.net/744034000473.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SUMENEP</title>
		<link>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/sumenep/</link>
		<comments>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/sumenep/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 17:19:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcenter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/sumenep/</guid>
		<description><![CDATA[Madura island &#160; TAMAN SARE Taman Sari adalah pemandian para putri raja zaman dahulu yang terlak di timur Pendopo Agung Kraton Sumenep. Pemandian ini sampai sekarang masih dilestarikan. &#8220;TAMAN SARE&#8221; PARK Taman Sare is a park with a bathing place located at east of Pendopo Agung in the Sumenep Palace. It was used by the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=48&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" width="80%">
<tr>
<td colspan="2" width="100%">
<p align="center"><font color="#2b969b" face="Trebuchet MS"><br />
Madura island</font></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="100%">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" bgcolor="#a0dce2" width="100%">
<p align="center">
<table border="0" width="96%">
<tr>
<td width="100%">
<p class="MsoNormal"><font color="#2b969b" face="Trebuchet MS"><span><strong><br />
TAMAN SARE</strong></p>
<p>Taman Sari adalah pemandian para putri raja zaman dahulu yang                 terlak di timur Pendopo Agung Kraton Sumenep. Pemandian ini                 sampai sekarang masih dilestarikan.</p>
<p></span></font></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%">
<p class="MsoNormal"><span><font color="#2b969b" face="Trebuchet MS"><strong>&#8220;TAMAN                 SARE&#8221; PARK</strong>                                  </font></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><font color="#2b969b" face="Trebuchet MS">Taman                 Sare is a park with a bathing place located at east of Pendopo                 Agung in the Sumenep Palace. It was used by the King’s                 princesses, while the king was watching them from a tower.</p>
<p></font></span></td>
</tr>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="100%">
<p align="center">
<font color="#2b969b" face="Trebuchet MS"><u>click on the picture too see         an enlargement</u></font></td>
</tr>
<tr>
<td align="center" width="50%"><a href="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0924_kopie.jpg">       <img src="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0924_kopie_small.jpg" alt="100_0924_kopie.jpg (157683 bytes)" border="0" height="250" width="333" /></a></td>
<td align="center" width="50%"><a href="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0926_kopie.jpg">       <img src="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0926_kopie_small.jpg" alt="100_0926_kopie.jpg (183717 bytes)" border="0" height="250" width="333" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="100%">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" bgcolor="#a0dce2" width="100%">
<p align="center">
<table border="0" width="96%">
<tr>
<td width="100%">
<p class="MsoNormal"><span><font color="#2b969b" face="Trebuchet MS"><br />
<strong>MUSIUM SUMENEP</strong>                                  </font></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><font color="#2b969b" face="Trebuchet MS">Musium                 Sumenep yang terletak di depan Kraton digunakan untuk menyimpan                 benda-benda peninggalan Raja-Raja Sumenep termasuk di dalamnya                 kereta kencana Raja.                                  </font></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%">
<p align="center">                 <img src="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_karcis_museum.jpg" border="0" height="174" width="292" /></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%"><span><font color="#2b969b" face="Trebuchet MS"><strong><br />
SUMENEP                 MUSEUM</strong></p>
<p>The tiny museum of Sumenep is located in front of the kraton in                 an old building that was formerly used to store the royal                 carriages. Now one can find here the historical remnants of<span> </span>the Sumenep kings, like                 old carriages and furniture.</p>
<p></font></span></td>
</tr>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="100%">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="50%">
<p align="center"><a href="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0917_kopie.jpg">         <img src="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0917_kopie_small.jpg" alt="100_0917_kopie.jpg (126274 bytes)" border="0" height="250" width="333" /></a></p>
</td>
<td width="50%">
<p align="center"><a href="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0916_kopie.jpg">         <img src="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0916_kopie_small.jpg" alt="100_0916_kopie.jpg (129055 bytes)" border="0" height="250" width="333" /></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="100%">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" bgcolor="#a0dce2" width="100%">
<p align="center">
<table border="0" width="96%">
<tr>
<td width="100%">
<p class="MsoNormal"><span><font color="#2b969b" face="Trebuchet MS"><strong><br />
ASTA TINGGI</strong>                                  </font></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><font color="#2b969b" face="Trebuchet MS">Asta                 Tinggi adalah tempat kuburan raja-taja Sumenep yang mulai                 berdiri pada tahun 1644 M. Makam ini berada di desa Kebun Agung                 2,5 kilometer barat laut Sumenep.</p>
<p></font></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%">
<p class="MsoNormal"><span><font color="#2b969b" face="Trebuchet MS"><strong>THE                 ROYAL CEMETERY &#8220;ASTA TINGGI&#8221;</strong></p>
<p>The royal cemetery is located 2,5 kilometers northwest of                 Sumenep City. The construction of this place was started in 1644 AD.                 To enter the cemetery one goes through some high spectacular                 gates.                                  </font></span></td>
</tr>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="100%">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" width="50%"><a href="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0927_kopie.jpg">       <img src="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0927_kopie_small.jpg" alt="100_0927_kopie.jpg (157652 bytes)" border="0" height="250" width="333" /></a></td>
<td align="center" width="50%"><a href="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0928_kopie.jpg">       <img src="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0928_kopie_small.jpg" alt="100_0928_kopie.jpg (115264 bytes)" border="0" height="250" width="333" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="100%">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" width="50%"><a href="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0929_kopie.jpg">       <img src="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0929_kopie_small.jpg" alt="100_0929_kopie.jpg (240128 bytes)" border="0" height="250" width="333" /></a></td>
<td align="center" width="50%"><a href="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0930_kopie.jpg">       <img src="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0930_kopie_small.jpg" alt="100_0930_kopie.jpg (226596 bytes)" border="0" height="250" width="333" /></a></td>
</tr>
</table>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maduracenter.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maduracenter.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maduracenter.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maduracenter.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maduracenter.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maduracenter.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maduracenter.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maduracenter.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maduracenter.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maduracenter.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maduracenter.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maduracenter.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maduracenter.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maduracenter.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maduracenter.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maduracenter.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=48&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/sumenep/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/68f0062c4be56801282728ec452d8c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcenter</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0924_kopie_small.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">100_0924_kopie.jpg (157683 bytes)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0926_kopie_small.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">100_0926_kopie.jpg (183717 bytes)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_karcis_museum.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0917_kopie_small.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">100_0917_kopie.jpg (126274 bytes)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0916_kopie_small.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">100_0916_kopie.jpg (129055 bytes)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0927_kopie_small.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">100_0927_kopie.jpg (157652 bytes)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0928_kopie_small.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">100_0928_kopie.jpg (115264 bytes)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0929_kopie_small.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">100_0929_kopie.jpg (240128 bytes)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.londoh.com/images/fotindo/fotindo_100_0930_kopie_small.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">100_0930_kopie.jpg (226596 bytes)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasi Bebek Madura</title>
		<link>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/nasi-bebek-madura/</link>
		<comments>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/nasi-bebek-madura/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 17:18:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcenter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/nasi-bebek-madura/</guid>
		<description><![CDATA[Nasi Bebek yang khas Surabaya, dengan pengolahan yang tepat siapapun pasti bisa memasaknya dengan bebas amis dan enaaakkkk&#8230;. Kebetulan penjual Nasi Bebek yang enak di Surabaya rata2 orang madura, sayang penyajiannya kurang khas madura. Gue bereksperimen mereka2 sendiri resep Nasi Bebek agar brasa khas madura, melalui pemilihan bumbu &#38; rempah2nya, ga ketinggalan pelengkap yang khas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=47&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="post-title">                          <a href="http://dapurgue.blogspot.com/2005/09/poultry-nasi-bebek-madura.html"><br />
</a></h3>
<p>Nasi Bebek yang khas Surabaya, dengan pengolahan yang tepat siapapun pasti bisa memasaknya dengan bebas amis dan enaaakkkk&#8230;. Kebetulan penjual Nasi Bebek yang enak di Surabaya rata2 orang madura, sayang penyajiannya kurang khas madura.<br />
Gue bereksperimen mereka2 sendiri resep Nasi Bebek agar brasa khas madura, melalui pemilihan bumbu &amp; rempah2nya, ga ketinggalan pelengkap yang khas madura: <span style="font-weight:bold;">POYAH KELAPA KUNING ! </span> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Tips menghindari amis:</strong><br />
Pilih yang jantan, unggas jantan lemaknya jauh lebih dikit daripada betina, otomatis kemungkinan amis karena lemak pun minimal.<br />
Buangin bagian ekor (termasuk aneka bentuk kelenjar disekitarnya) dan segala bentuk usus.</p>
<p><strong>NASI BEBEK MADURA ala Lia<br />
Bahan:</strong><br />
1 ekor bebek yang udah dibersihkan (sekitar 800 gram), potong2 sesue slera<br />
2 sdm cuka<br />
400 ml air matang<br />
2 tangkai sereh, masing2 potong dua, geprak<br />
6 lembar daun jeruk, buang tulang daunnya<br />
<strong>Bumbu Halus:</strong><br />
5 siung bawang putih<br />
8 butir bawang merah<br />
1.5 sdt ketumbar sangrai<br />
0.5 sdt merica butiran sangrai<br />
4 cm jahe (diameter skitar 2 cm)<br />
3 cm kunyit (diameter 1.5 cm)<br />
4 lembar daun jeruk, buang tulang daunnya<br />
4 cm lengkuas muda (diameter sekitar 2cm)<br />
5cm pangkal sereh (bagian putih yang muda), iris2<br />
8 butir kemiri<br />
2 sdt garam<br />
<strong>Cara:</strong><br />
Lumuri potongan bebek dengan cuka, diamkan 20-30 menit di kulkas. Cuci sampe benar2 bersih.<br />
Aduk bersama bumbu halus dan rempah2 lainnya, diamkan di kulkas 30 menit.<br />
Masukin panci presto, tuangi air lalu masak 20 menit terhitung dari waktu berdesis.<br />
Matikan api dan diamkan sampe tekanan &amp; uapnya habis, buka dan tiriskan bebek dari bumbunya.<br />
Goreng bebek sampe kuning kecoklatan ato kering bila suka.<br />
<strong><em>Tips:</em></strong><br />
Kalo ngga ada panci presto, diungkep biasa sampe empuk (mungkin perlu nambah air beberapa kali sampe bener2 empuk).</p>
<p><strong>Saus Kuning</strong><br />
300 ml bumbu perebus bebek (kalo kurang bisa ditambah air secukupnya) ditumis dengan sedikit minyak sampe kental, buang ampas rempah2nya (sereh dan daun jeruk). Sisihkan.</p>
<p><strong>Sambal Bawang<br />
Bahan:</strong><br />
3 butir bawang merah, iris kasar<br />
4 buah cabe merah, iris halus<br />
Cabe rawit secukupnya<br />
1 buah tomat matang ukuran sedang, cincang kasar<br />
½ sdt terasi goreng<br />
½ sdt garam /secukupnya<br />
1 sdt gula /secukupnya<br />
4 sdm minyak<br />
100 ml air matang<br />
<strong>Cara:</strong><br />
Panasin minyak, tumis bawang merah, cabe merah &amp; cabe rawit sampe aromanya kluar.<br />
Masukin tomat, tuangin air. Masak sampe air menyusut.<br />
Pindahkan semua ke cobek, ulek bersama terasi, garam &amp; gula.<br />
<strong><em>Note:</em></strong><br />
Terus terang kalo dibandingin ibu gue lom jagoan bikin sambel. Jadi selain sambel bawang diatas, silakan pake sambel andalan masing2 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Poyah Kelapa Kuning<br />
Bahan:</strong><br />
200 gr kelapa setengah tua, parut memanjang<br />
<strong>Bumbu halus:</strong><br />
1 siung bawang putih<br />
½ sdt garam<br />
1 cm kunyit<br />
2 lembar daun jeruk, buang tulang daunnya<br />
<strong>Cara:</strong><br />
Tebarkan kelapa di loyang lalu jemur d panas matahari sampe setengah kering.<br />
Aduk kelapa parut dengan bumbu halus sampe rata.<br />
Sangrai dengan api keciiil sampe bener2 kering, matikan api. Diamkan sambil diangin2 sampe adem, simpan di stoples.</p>
<p><strong>Pelengkap lain:</strong><br />
Nasi hangat<br />
Irisan tomat &amp; mentimun<br />
Petikan daun kemangi<br />
Irisan jeruk nipis<br />
Lalapan lain sesue slera</p>
<p><strong>Penyelesaian:</strong><br />
Taruh nasi anget di piring, tuangi 1 sdm bumbu kuning diatasnya, taburi poyah kelapa.<br />
Sajikan bebek goreng, sambel &amp; lalapan di tempat terpisah.<br />
Nyaaaaaaaammmm&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>WARNING !!</strong><br />
Bebek mengandung kolesterol tinggi. Yang diet kolesterol makannya secuiiiilllll aja ya, banyakin lalapannya ajah <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maduracenter.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maduracenter.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maduracenter.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maduracenter.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maduracenter.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maduracenter.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maduracenter.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maduracenter.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maduracenter.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maduracenter.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maduracenter.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maduracenter.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maduracenter.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maduracenter.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maduracenter.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maduracenter.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=47&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/nasi-bebek-madura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/68f0062c4be56801282728ec452d8c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcenter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>POTENSI DAN KERAGAMAN SUMBERDAYA GENETIK</title>
		<link>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/potensi-dan-keragaman-sumberdaya-genetik/</link>
		<comments>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/potensi-dan-keragaman-sumberdaya-genetik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 17:16:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcenter</dc:creator>
				<category><![CDATA[IPTEK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/potensi-dan-keragaman-sumberdaya-genetik/</guid>
		<description><![CDATA[DIDI BUDI WIJONO1 dan BAMBANG SETIADI2 1Loka Penelitian Sapi Potong, Grati, Pasuruan 67184 2Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002 ABSTRAK Sapi Madura adalah sapi potong tipe kecil merupakan salah satu plasma nutfah sapi potong indigenus dan suseptable pada lingkungan agroekosistem kering dan berkembang baik di pulau Madura. issue menunjukkan terjadinya penurunan produktivitasakibat seleksi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=46&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DIDI BUDI WIJONO1 dan BAMBANG SETIADI2<br />
1Loka Penelitian Sapi Potong, Grati, Pasuruan 67184<br />
2Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002<br />
ABSTRAK<br />
Sapi Madura adalah sapi potong tipe kecil merupakan salah satu plasma nutfah sapi potong indigenus dan<br />
suseptable pada lingkungan agroekosistem kering dan berkembang baik di pulau Madura. issue menunjukkan<br />
terjadinya penurunan produktivitasakibat seleksi negatif yaitu pemotongan sapi produktif/tampilan yang baik,<br />
faktor inbreeding yang disebabkan selama ini pulau Madura merupakan wilayah tertutup untuk sapi potong<br />
lain. Upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kemampuan<br />
produktivitas komoditas sapi Madura yang telah tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan lahan<br />
kering, relatih tahan terhadap penyakit dan kesuaian selera masyarakat. Keragaman genotip sapi Madura<br />
cukup beragam dan memiliki kisaran berat badan 300 kg dan pada pemeliharaan kondisi baik untuk<br />
perlombaan mampu mencapai &gt; 500 kg, dan memiliki persentase karkas sampai 60 %, efsiensi reproduksi<br />
cukup rendah, disamping itu sapi Madura memiliki nilai sosiobudaya digunakan atau dilombakan sebagai sapi<br />
Kerapan dan sapi Sonok (pajangan). Sapi Kerapan dan Sonok adalah sapi yang memiliki performan terpilih<br />
dan kondisinya sangat baik. Perbaikan mutu sapi Madura untuk mendukung peningkatan produktivitas dapat<br />
dilaksankan seleksi in-situ dan yang telah cocok lingkungannya dengan alternatif lain melalui grading up<br />
yaitu mengkombinasikan genotip dengan perkawinan silang yang diharapkan mampu meningkatan<br />
produktivitas secara cepat dalam waktu relatif pendek. Pelestarian sebagai plasma nutfah Indonesia dan<br />
kebanggan memiliki genotip sapi potong yang perlu dipertimbangkan secara hati-hati dan bijaksana guna<br />
menghindari kerusakan genotip yang telah memiliki kemapanan homogenitasnya sebagai bangsa dan<br />
penyesalan dikemudian hari. Demikian pula penghargaan terhadap PP perlindungan ternak yang masih<br />
berlaku dan diperlukan penegasan dan peninjauan kembali terhadap kebijakan lain. Dengan demikian<br />
penanganan sapi Madura sebagai plasma nutfah ditindak lajuti secara bijaksana.<br />
Kata kunci: Sapi Madura, performans, pelestarian, genotip<br />
PENDAHULUAN<br />
Sapi potong merupakan komoditas strategis<br />
yang perkembangannya sangat mendukung<br />
perkembangan ekonomi masyarakat, dikarenakan<br />
sebagian besar dipelihara dan dikembangkan<br />
oleh petani sehingga gejolak dollar tidak<br />
memberikan efek yang berarti. Pengembangan<br />
komoditas sapi potong paling tidak sebagai<br />
upaya yang diharapkan mampu mencukupi<br />
kebutuhannya sendiri dari sapi potong lokal<br />
atau mengurangi secara betahap kebutuhan<br />
produk ternak melalui import.<br />
Sapi Madura merupakan salah satu plasma<br />
nutfah sapi potong indigenus dan suseptable<br />
pada lingkungan agroekosistem kering dan<br />
berkembang baik di pulau Madura.<br />
Sebagaimana sapi potong lain menunjukkan<br />
terjadinya penurunan produktivitasnya yang<br />
dapat diakibatkan oleh seleksi negatif yaitu<br />
pemotongan sapi produktif/tampilan yang baik,<br />
faktor inbreeding akibat pulau Madura merupakan<br />
wilayah tertutup untuk sapi potong lain.<br />
Kontribusi sapi Madura sebagai sapi<br />
potong yang berkembang dengan baik di Jawa<br />
Timur khususnya di pulau Madura mempunyai<br />
kontribusi yang cukup besar sampai 24 % dari<br />
kebutuhan suply sapi potong yang bersalaj dari<br />
Jawa Timur.<br />
Perubahan lingkungan global secara<br />
langsung maupun tidak akan mempengaruhi<br />
lingkungan ternak antara lain akibat<br />
pembangunan fisik yang berkembang dengan<br />
pesat, perkembangan pengetahuan/pendidikan<br />
akan merubah sosiobudaya masyarakat, pada<br />
akhirnya dapat terjadi penurunan SDA, ketidak<br />
seimbangan antara ketersediaan sumber pakan<br />
dengan populasi (“over crowded ?”).<br />
Salah satu upaya meningkatkan pendapatan<br />
dan kesejahteraan masyarakat melalui<br />
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004<br />
43<br />
komoditas sapi potong melalui peningkatan<br />
kemampuan produktivitas ternak local yang<br />
telah tumbuh dan berkembang dengan baik<br />
pada lingkungan lahan kering dan terdapat<br />
kesuaian selera masyarakat madura.<br />
Perbaikan mutu sapi Madura untuk<br />
mendukung peningkatan produktivitas dapat<br />
dilaksankan seleksi pada komunitas in-situ<br />
yang telah cocok lingkungannya, dengan<br />
alternatif lain melalui grading up yaitu upaya<br />
mengkombinasikan genotip dengan perkawinan<br />
silang yang diharakan mampu meningkatan<br />
produktivitas secara cepat dalam waktu relatif<br />
pendek. Pengembangan ternak potong secara<br />
croosbreeding dengan perkawinan silang sapi<br />
potong temperet yang memiliki mutu genetik<br />
unggul dan produktivitas yang tinggi<br />
mengakibatkan perubahan perilaku ternak<br />
sehingga perlu diimbangi dengan perbaikan<br />
pemberian pakan dan pengendalian penyakit.<br />
Sebagaimana diketahui bahwa pengaruh<br />
lingkungan terhadap produktivitas ternak<br />
mencapai 70% dibandingkan dengan pengaruh<br />
faktor genetik sebesar 30% dan pengaruh<br />
perlakuan pakan sendiri dapat mencapai 60%<br />
dari pengaruh lingkungan.<br />
Dengan demikian perbaikan mutu sapi<br />
Madura dapat dilakukan dengan seleksi dan<br />
atau perkawinan silang (crossbreeding) melalui<br />
grading up untuk dapat menghimpun genotipik<br />
unggul pada keturunan yang memiliki<br />
kemampuan produksi lebih tinggi dan<br />
diimbangi penyesuaian pengaruh lingkungan<br />
terhadap tatalaksana pemeliharaan terutama<br />
pemenuhan kebutuhan pakan dan pencegahan<br />
penyakit. Penyediaan keturunan murni sebagai<br />
cikal bakal atau komunitas atau populasai dasar<br />
pembentukan bibit “baru” dengan program<br />
sistem pemuliabiakan yang mapan.<br />
Akan tetapi upaya perkawinan silang<br />
(crossbreeding) perlu ditindak lanjuti dengan<br />
strategi pemuliabiakan yang terkendali dan<br />
berkelanjutan dalam upaya menekan efek<br />
samping crossbreeding yang mengarah<br />
perubahan mutu ternak kearah perkembangan<br />
negatif<br />
POTENSI SAPI MADURA<br />
Morfologi<br />
Sapi potong lokal (indigenus) yang<br />
berkembang di Indonesia cukup banyak<br />
ragamnya salah satunya adalah sapi Madura,<br />
dan termasuk sapi potong type kecil. Sapi<br />
Madura dalam perjalanan perkembangannya<br />
merupakan hasil pembauran berbagai bangsa<br />
type sapi potong yaitu antara sapi Bali (Bos<br />
sondaicus) dengan Zebu (Bos indicus).<br />
Pejantan yang pernah dimasukkan ke pulau<br />
Madura termasu bangsa Bos taurus antara lain<br />
Red Denis, Santa Gestrudis dan pejantan<br />
persilangan antara Shorthorn dengan Brahman<br />
yang kesemuanya memiliki warna merahcoklat;<br />
Komunitas yang dihasilkan melalui<br />
isolasi dan seleksi alamiah yang ketat<br />
menghasilkan sapi yang relatif memberikan<br />
keseragaman genotip yang mantap dan<br />
berkembang sebagai sapi Madura sekarang ini.<br />
Bahkan sapi potong Limousin juga<br />
diperkenalkan sebagai pejantan unggul dalam<br />
upaya meningkatkan produktivitas sapi Madura<br />
(SOEHADJI, 1993 dan SOERJOATMODJO, 2002).<br />
Strategi pemasukan genotipe baru tidak jelas<br />
kelanjutannya dan merupakan tindakan<br />
langkah-langkah jangka pendek atau produksi<br />
sesaat, tidak mempunyai arah, sasaran dan<br />
target yang jelas yang ingin dicapai maupun<br />
permasalahan yang akan timbul dari akibat<br />
perkawinan silang.<br />
Komformasi sapi Madura pada bagian<br />
kepala bertanduk yang mengarah dorsolateral,<br />
beradasar tanduk besar dan pada sapi jantan<br />
memiliki gumba (punuk) sedangkan yang<br />
betina tidak tampak adanya punuk (kecil).<br />
Warna bulu merah bata–merah coklat, warna<br />
sapi jantan dan betina sama sejak lahir sampai<br />
dewasa; garis punggung (linea spinosum)<br />
kehitaman-coklat tua masih ditemukan, warna<br />
keputih2an pada daerah bawah kaki<br />
(metacarpus–phalanx) dan twist/sekitar pantat<br />
(ANONIMUS, 2001).<br />
Populasi sapi Madura di pulau Madura dari<br />
tahun ketahun relatif statis dengan kisaran<br />
600.000–700.000 ekor dan populasi tertinggi<br />
terjadi pada tahun 1932 sebanyak 735.922<br />
ekor. Populasi sapi Madura di Indonesia<br />
hingga tahun 1991 dilaporkan sebanyak<br />
1.279.000 ekor atau sekitar 12% dari populasi<br />
sapi potong di Indonesia, sebanyak 691.092<br />
ekor (54%) terdapat di Pulau Madura dengan<br />
tingkat pertumbuhan mencapai 1,7% pertahun<br />
(SOEHADJI, 1992).<br />
Penyebarannya hampir di seluruh<br />
Nusantara, ditemukan mencapai sekitar18<br />
propinsi yaitu di Sumatra, Kalimantan,<br />
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004<br />
44<br />
Sulawesi, NTT dan NTB. Pengembangannya<br />
di luar pulau Madura, tidak menunjukkan<br />
adanya perkembangan yang signifikans<br />
walaupun wilayahnya memiliki kondisi<br />
lingkungan yang hampir sama. Dengan<br />
demikian perlu dilakukan pengamatan terhadap<br />
faktor kendala dan permasalahan yang timbul<br />
pada saat pengembangan di luar pulau<br />
Madura/Jawa Timur.<br />
Produktivitas sapi Madura<br />
Sapi Madura termasuk sapi potong yang<br />
memiliki kemampuan daya adaptasi yang baik<br />
terhadap stress pada lingkungan tropis,<br />
keadaan pakan yang kurang baik mampu<br />
hidup, tumbuh dan berkembang dengan baik;<br />
serta tahan terhadap infestasi caplak.<br />
Sapi Madura sebagai sapi potong tipe kecil<br />
memiliki variasi berat badan sekitar 300 kg dan<br />
pemeliharaan yang baik dengan pemenuhan<br />
kebutuhan pakan dengan pakan yang baik<br />
mampu mencapai berat badan ≥ 500 kg,<br />
ditemukan pada sapi Madura yang menang<br />
kontes (SOEHAJI, 2001).<br />
Pengaruh nilai sosiobudaya masyarakat<br />
Madura terhadap ternak sapi Madura memiliki<br />
nilai tersendiri terutama terhadap tradisi sapi<br />
betina pajangan yang dikenal sebagai sapi<br />
Sonok dan lomba sapi jantan yang dikenal<br />
sebagai Kerapan. Sapi yang dilombakan<br />
merupakan sapi pilihan yang memiliki<br />
tampilan performans yang sangat baik. Selain<br />
itu peranan pemeliharaan sapi Madura seperti<br />
pemeliharaan sapi potong lainnya yaitu sebagai<br />
sumber penghasil daging, tenaga kerja, dan<br />
kebutuhan ekonomi.<br />
Pola pemeliharaan sapi Madura jantan dari<br />
hasil pengamatan WAHYONO dan YUSRAN<br />
(1992) sebanyak 94% dimanfaatkan sebagai<br />
tabungan yang diharapkan mampu mendukung<br />
kebutuhan ekonomi dan nilai jual cepat atau<br />
pemeliharaan rearing (pembesaraan) sampai<br />
rataan 25,5 bulan.<br />
Performans Produksi<br />
1. Berat badan<br />
Informasi performans laju pertumbuhan<br />
atau besar tubuh berperanan penting sebagai<br />
salah satu faktor yang dapat diukur didalam<br />
pelaksanaan seleksi dan memiliki nilai<br />
heritabilitas tinggi yaitu antara 0,40–0,70<br />
(WARWICK et al., 1983).<br />
Performans berat badan sapi Madura<br />
mempunyai keragaman yang cukup luas,<br />
didapatkan berat badan yang tinggi (± 500 kg)<br />
dan didominasi oleh berat badan yang cukup<br />
rendah (± 300 kg). Pencapaian performans<br />
berat badan cukup beragam yang diakibatkan<br />
oleh keragaman tatalaksana pemeliharaan.<br />
Tampilan performans dipengaruhi oleh faktor<br />
genetik dan lingkungan, termasuk lingkungan<br />
pakan dan kesehatan.<br />
Keragaman berat badan dari ahsil<br />
pengamtan sebelumnya juga menunjukkan<br />
adanya variai yang cukup lebar. DJATI dan<br />
KARNAEN (1993) melakukan pengamatan<br />
terhadap respon status fisiologis dengan<br />
memanfaatkan sapi Madura yang memiliki<br />
berat badan antara 125−290 kg. Rataan berat<br />
badan pada pola pembibitan peternakan rakyat<br />
yang berumur sekitar 1,5−2 tahun 209 kg dan<br />
3−3,5 tahun mencapai berat badan 239 kg<br />
(AINUR RASYID dan UMIYASIH, 1993); dengan<br />
tinggi badan masing-masing 105 cm dan 115<br />
cm, dan berat badan jantan muda s/d 2 tahun<br />
rataan 209 ± 24,1 (177−281) kg (WIJONO,<br />
1998). MUHAMAD SASMITO (1993)<br />
menginformasikan berat badan 125−150<br />
kg;195−220 kg dan 265−290 kg, demikian pula<br />
sapi Madura dara yang diamati UMAR dan<br />
RISZQINa (1993) mendapatkan berat badan<br />
pada umur Io sekitar115−207 kg dan I2<br />
sekitar134−275 kg.<br />
Data yang didapat dari hail pengamatan<br />
menunjukkan variasi umur muda sampai<br />
dewasa mempunyai kemampuan pencapaian<br />
berat badan kurang dari 300 kg. Walaupun<br />
demikian dari hasil penelitian lain memberikan<br />
respon yang berbeda yaitu sapi Madura yang<br />
dipelihara dengan baik dan biasanya sapi yang<br />
d diperuntukkan untuk lomba keindahan yang<br />
dikenal sapi sapi Sonok memiliki kisran berat<br />
badan dengan umur I1–I2 adalah 178,75–<br />
236,64 kg dan I3–I4 sekitar 311,33–335,72 kg<br />
dengan tinggi badan masing-masing adalah<br />
118,42–127,76 cm dan 130,58–132,42 cm;<br />
demikian pula sapi Madura yang diperbaiki<br />
pola pakannya pada sapi yang dikerjakan berat<br />
badannya mencapai 436–449 kg (BAKRI et al.,<br />
1993).<br />
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004<br />
45<br />
Berat badan tertinggi yang dilaporkan<br />
SUHADJI (1993) dari hasil pengamatan<br />
performans sapi Maduta yang dilombakan<br />
mencapai berat badan 521 kg. Sedangkan sapi<br />
pejantan yang digunakan sebagai sumber<br />
semen beku yang dipelihara di BIB Singosari<br />
memiliki barat badan sekitar 367–483 kg<br />
(HEDAH, 1993).<br />
Informasi ini merupakan peluang yang<br />
cukup tinggi bagi sapi Madura untuk diperbaiki<br />
mutu genetiknya untuk mendapatkan<br />
performans produksi yang lebih tinggi, baik<br />
dari factor laju pertumbuhan baik berat badan<br />
dan pertambahan berat badan hariannya.<br />
Sebagaimana ungkapan hasil penelitian<br />
MUSOFIE et al. (1993), pada dasarnya dengan<br />
pemberian pakan yang baik mampu<br />
meningkatkan berat badan harian sebesar &gt; 0,8<br />
kg/ekor/hari. Sapi madura memiliki respon<br />
pertumbuhan yang positif terhadap perbaikan<br />
pakan. Demikian pula MOORE (1994) bahwa<br />
angka pertambahan berat badan harian yang<br />
dicapai sapi-sapi lokal di Indonesia berkisar<br />
antara 0,5–0,8 kg/ekor/hari dan sebagian besar<br />
peternakan rakyat lebih rendah.<br />
Sedangkan HARMADJI (1993) mendapatkan<br />
pertambahan berat badan harian pola<br />
pemeliharaan peternakan rakyat yang mampu<br />
dicapai sekitar 0,23–0,47 kg/ekor/hari, dan<br />
KOMARUDIN-MA’SUM (1993) menginformasikan<br />
pengaruh ketinggian tempat terhadap<br />
pertambahan berat badan harian yang<br />
diimbangi dengan peningkatan konsumsi pakan<br />
mampu meningkatkan pertamabahan berat<br />
badan lebih tinggi masing-2 untuk daerah<br />
tinggi dan temperatur rendah dengan daerah<br />
rendah dan temperatur tinggi sebesar 0,45 dan<br />
0,641−0,727 kg/ekor/hari dan konsumsi<br />
pakannya lebih tinggi pada daerah dataran<br />
tinggi.<br />
Kemampuan laju pertumbuhan sapi Madura<br />
mempunyai peluang untuk ditingkatkan dengan<br />
peningkatan potensi genetik yang dimiliki<br />
secara optimal.<br />
2. Karkas<br />
Sapi madura memiliki persentase karkas<br />
yang cukup baik, mampu mencapai 60% yang<br />
didapatkan pada ternak yang dilakukan dengan<br />
pengelolaan dan kecukupan pakan yang<br />
mempengaruhi kondisi ternak.<br />
KOMARUDIN-MA’SUM (1993) mendapatkan<br />
persentase karkas pada sapi Madura dengan<br />
kisarana umur Io–I1 antara 50,96–51,72%<br />
dengan kisaran berat badan 211,7–241,5 kg,<br />
dengan bertambahnya umur akan meningkatkan<br />
persentase karkas akan tetapi peningkatannya<br />
tidak signifikans. Sedangkan HAKIM (1993)<br />
mensiter sebesar 48%; dan HARMADJI 1993<br />
melaporkan persentase karkas jantan dan<br />
betina masing-masing sebesar 48,9 dan 52,7%<br />
(50,9%); demikian pula yang disiter SUHADJI<br />
(1993) pencapaian karkas sebesar 55%<br />
(THAYIB, 1953) dan 50% (AMINUDIN, 1972)<br />
yaitu hasil pengamatan tahun 1953 dan 1972.<br />
Tampaknya terjadi degradasi persentase karkas<br />
yang semakin menurun dan adanya keragaman<br />
yang cukup tinggi.<br />
Performans reproduksi<br />
Aktivitas reproduksi sangat mempengaruhi<br />
peningkatan populasi yang perlu diperhitungkan<br />
walaupun dari segi pemuliabiakan didalam<br />
seleksi lebih ditekankan kepada performans<br />
yang dapat diukur dan menggambarkan<br />
genotype ternak (KINGHORN dan SIMM, 1999).<br />
Data reproduksi yang baru mengenai sapi<br />
Madura sangat kurang. SIREGAR (1985)<br />
melaporkan bahwa sapi Madura beranak pada<br />
umur antara 28–41 bulan, sedangkan<br />
HARMADJI (1992) melaporkan bahwa sapi<br />
Madura beranak pertama pada umur 37 bulan<br />
dengan S/C 1,7–2,0. Siklus birahi sapi Madura<br />
adalah selama 21 hari dengan lama estrus 36<br />
jam. Penyapihan pedet sapi Madura umumnya<br />
pada umur 5 bulan. Data angka kelahiran<br />
pernah dilaporkan oleh KNAP (1934) dengan<br />
rata-rata 45,9% dari tahun 1923 sampai dengan<br />
1929. Tahun 1988 dilaporkan bahwa angka<br />
kelahiran masih berkisar 40% dan pada tahun<br />
1992 angka kelahiran dilaporkan 46,96%.<br />
HARDJOSUBROTO et al. (1993) mendapatkan<br />
umur pertama dikawinkan 2,6 tahun, jantan<br />
dan betina 2,1 tahun, SC baik kawin alam<br />
maupun IB adalah 3,3 ± 0,6; jarak beranak<br />
14,9 bulan, angka kelahiran 46,96 ± 14,96,<br />
kematian pedet 2,22 dan muda-dewasa 1,87,<br />
umumnya akibat penyakit gangguan<br />
pencernaan atau pakan yang jelek yaitu<br />
tympani (kembung). Faktor tatalaksana, pakan<br />
dan kesehatan perlu diperhatikan karena<br />
sebesar 95% gangguan aktivitas reproduksi<br />
tergantung pada faktor ini (TOELIHERe, 1983).<br />
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004<br />
46<br />
Penyebaran sapi Madura juga pernah<br />
dilakukan di Kabupaten Bulungan Kalimantan<br />
Timur namun data yang menggambarkan<br />
secara kuantitatif sifat reproduksi dan<br />
produksinya masih belum banyak dilaporkan.<br />
Penyebaran sapi Madura di mulai tahun 1989<br />
di Kec. Tanjung Palas dan Malinau, angka<br />
kelahiran sapi hingga bulan Agustus 1992<br />
dilaporkan 27,72% di Kec. Tanjung Palas dan<br />
30,46% di Kec. Malinau (DINAS PETERNAKAN<br />
TARAKAN, 1992). Pengembangan sapi Madura<br />
di lahan kering di daerah transmigrasi<br />
Sumatera Selatan menunjukkan nilai produksi<br />
dan reproduksi rata-rata masih dibawah sapi<br />
Ongole maupun sapi Bali (KUSNADI et al.,<br />
1992); akan tetapi memiliki sifat keindukan<br />
(mathering ability) yang baik.<br />
Pemberian pakan yang jelek yang<br />
mengakibatkan kondisi badannya sangat jelek<br />
(score kondisi Badan 3) masih mampu<br />
mempertahankan aktivitas reproduksinya dan<br />
lebih baik dari sapi PO maupun Bali (score<br />
Kondisi Badan 4) (WIJONO et al., 1992);<br />
demikian pula sapi Madura yang dipelihara<br />
sangat baik dengan nilai skor kondisi badan &gt;<br />
7–9 mempengaruhi respon aktivitas reproduksi<br />
estrus post partum dengan fertilitas mencapai<br />
95,59% dan infertilitas terjadi pada sapi yang<br />
mempunyai skor kondisi badan 8−9 sebesar<br />
4,47 % (WIJONO dan AFFANDHY, 1996).<br />
Penurunan kondisi badan dan berat badan<br />
yang ekstrim merupakan salah satu faktor yang<br />
menyebabkan gangguan terhadap perkembangan<br />
dan aktivitas reproduksi, juga terhadap<br />
kondisi badan yang terlalu gemuk terjadi<br />
infertilitas sementara (TOELIHERE, 1980).<br />
3. Kesehatan<br />
Sapi Madura pada dasarnya relatif lebih<br />
tahan terhadap lingkungan kekurangan pakan<br />
maupun infeksi penyakit, walaupun demikian<br />
penyakit yang mampu menyerang ternak<br />
pernah terjangkit juga pada sapi Madura<br />
(DARMONO et al., 1993).<br />
Kasus penyakit yang pernah terjangkit pada<br />
sapi Madura adalah penyakit Surra, ngorok,<br />
ingusan, distomatosis, scabies dan gangguan<br />
reproduksi dan defisiensi nutrisi. Pengamatan<br />
terhadap penyakit menular yang pernah<br />
dilakukan terhadap sapi Madura yaitu SUDANA<br />
et al. (1983) melaporkan dari hasil uji penyakit<br />
ngorok dengan sampel dari RPH Surabaya<br />
didapatkan isolat yang menunjukkan positif<br />
sebanyak 1% dari 758 sampel), sedangkan<br />
SUKAMTO et al. (1988) menemukan kasus<br />
penyakit surra sebanyak 1,3 % dari 130 sampel<br />
yang diamati pada saat terjadinya wabah surra<br />
pada tahun 1988. SOESETYA (1993) melakukan<br />
pengamatan terhadap prevalensi Faciolasis<br />
terahap sapi Madura didapatkan sebesar<br />
2,63%, masih jauh lebih rendah dibanding<br />
kejadian pada sapi lain.<br />
Kejadian penyakit yang terjadi didaerah<br />
pengembangan di luar pulau Madura<br />
dilaporkan adanya penyakit parasiter internal,<br />
hepatitis, enteritis dan paru-paru yang<br />
ditemukan pada kejadian kematian ternak;<br />
disamping itu didapatkan juga penghambat<br />
perkembangan sapi Madura yang diakibatkan<br />
adanya penyakit gangguan akrivitas reproduksi<br />
terutama disfungsi ovarium (ANONIMUS,<br />
1993).<br />
Kasus penyakit insidental yang umum<br />
terjadi adalah akibat gangguan pencernaan<br />
antara lain kembung , diare, dll.<br />
PERBAIKAN MUTU GENETIK SAPI<br />
MADURA<br />
Sapi Madura berkembang secara murni di<br />
pulau Madura dan dilindungi keberadaannya<br />
dari tahun ketahun, mutasi keluar pulau terjadi<br />
untuk memenuhi kebutuhan daging cukup<br />
besar mencapai 24% kebutuhan supply dari<br />
Jawa Timur. Secara berangsur terdapat<br />
kecenderungan penurunan kualitasnya<br />
sebagaimana sapi potong lain.<br />
Peranan sosiobudaya masyarakat Madura<br />
terhadap keberadaan sapi Madura disamping<br />
pemanfaatan sebagai tenaga kerja, kebutuhan<br />
ekonomi yang mampu mendukung perbaikan<br />
mutu genetic ternak adalah aspek budaya<br />
pemeliharaan secara khusus pada sapi yang<br />
terpilih untuk diperlombakan, pajangan dan<br />
memberikan kebanggan tersendiri serta<br />
memiliki nilai ekonomis tinggi (harga jual<br />
tinggi). Sapi betina dipelihara secara baik yang<br />
disiapkan untuk dilombakan sebagai sapi<br />
pajangan yang dikenal sebagai sapi Sonok,<br />
sedangkan sapi jantan digunakan untuk pacuan<br />
sebagai sapi Karapan.<br />
Penggunaan pejantan milik peternak yang<br />
digunakan sebagi pemacek pelayanannya rataLokakarya<br />
Nasional Sapi Potong 2004<br />
47<br />
rata sekitar 12 kali perbulan, tanpa<br />
memperhitungkan mutu pejantan yang<br />
digunakan dan pada prinsipnya mampu<br />
menghasilkan keturunan; hal ini juga sebagai<br />
salah satu faktor penyebab penurunan genotipe<br />
sapi Maduran.<br />
Disamping ketersediaan pejantan berkualitas<br />
yang terbatas, pemotongan betina produktif<br />
dan penyediaan perbibitan sapi Madura belum<br />
tersedia yang diharapkan mampu bertindak<br />
sebagai replacement stock.<br />
Tampaknya peluang pejantan yang<br />
berkualitas untuk digunakan sebagai pejantan<br />
sangat terbatas, pejantan yang dipelihara<br />
dengan baik dimanfaatkan hanya sekedar hoby<br />
atau kebanggan untuk kerapan (kesenangan<br />
3%). Sayangnya sapi jantan yang dipelihara<br />
sebagai sapi karapan tidak digunakan sebagai<br />
pejantan pemacek, walau kondisi performans<br />
sangat baik. Hal ini dilakukan untuk<br />
menghindari karakter sapi pejantan berubah<br />
bertemperamen tinggi (liar, ganas) yang sulit<br />
dikendalikan, sehingga perbaikan mutu melalui<br />
Inseminasi buatan memiliki peluang yang<br />
cukup besar untuk mendukung meningkatkan<br />
perbaikan mutu sapi Madura.<br />
Perkawinan sapi dengan cara Inseminasi<br />
Buatan (IB) telah dikenalkan sejak tahun 1983.<br />
Namun perkembangan program perkawinan<br />
secara IB ini pun di kalangan petani ternak di<br />
Madura sangat lambat. Demikian pula<br />
ketersediaan pejantan unggul hasil seleksi di<br />
BIB terbatas adanya, tidak mencukupi/kurang.<br />
Perbaikan mutu genetik sapi Madura<br />
melalui strategi pemulia biakan ternak yang<br />
dituangkan dalam arah dan tujuan yang ingin<br />
dicapai dari perbaikan mutu genetik itu sendiri<br />
ditinjau dari segala aspek baik aspek produksi,<br />
reproduksi maupun aspek sosiobudaya.<br />
Keberhasilan perbaikan mutu genetik ternak<br />
secara garis besar dapat diukur dengan<br />
pengamatan parameter fenotipik atau sifat-sifat<br />
karakteristik berupa daya hidup (survival), laju<br />
pertumbuhan, efisiensi reproduksi dan<br />
persentase karkas.<br />
Seleksi (pemurnian)<br />
Perbaikan mutu genetik sapi Madura<br />
melalui program seleksi guna mendapatkan<br />
sumber bibit pejantan unggul dan merupakan<br />
pilihan yang paling memungkinkan dengan<br />
memanfaatkan populasi dan keunggulan sapi<br />
lokal yang adaptif pada lingkungan kering dan<br />
kondisi sumber pakan yang jelek.<br />
Pengembangan sapi Madura pada kondisi<br />
lingkungan yang sesuai pada habitat asli,<br />
merupakan peluang keberhasilan tanpa harus<br />
melakukan manipulasi penyesuaian<br />
lingkungan; untuk itu pengambangannnya<br />
dibutuhkan program pemulaibiakan sapi<br />
Madura yang jelas, terarah, terkontrol dan<br />
monitoring berkelanjutan.<br />
Aspek sosiobudaya masyarakat Madura<br />
yang mengembangkan hoby, kesenangan<br />
memelihara sapi yang baik untuk dilombakan,<br />
merupakan faktor pendukung didalam upaya<br />
perbaikan mutu ternak. Pemanfaatan tradisi<br />
budidaya masyarakat ini, merupakan bahan<br />
pertimbangan yang perlu diperhatikan didalam<br />
pelaksanaan seleksi yang memiliki performan<br />
yang sesuai dengan selera masyarakat.<br />
Perbaikan mutu genetik dengan pola<br />
Peternakan Inti Terbuka (Open Nucleus<br />
Breeding Plan) yang mempunyai kebaikan<br />
selalu memasukkan gen baru didalam<br />
kelompok pembibitan, sehingga dapat<br />
mengurangi depresi silang dalam (inbreeding)<br />
MARTOYO (1991).<br />
Pembentukan pembibitan melalui seleksi/<br />
penjaringan sapi Madura jantan dan betina dari<br />
populasi umum yaitu populasi sapi Madura<br />
yang dikembangkan oleh peternakan rakyat.<br />
Hasil penjaringan dipersiapkan sebagai<br />
kelompok pembibitan untuk menghasilkan<br />
pejantan berkualitas sebagai sumber genetik<br />
dan dikembangkan sebagai kelompok “elite”.<br />
Seleksi sapi jantan dilakukan terhadap<br />
keturunan kelompok pembibitan pada setiap<br />
generasi dan diikuti penyisihan (culling) sapi<br />
jantan dan betina yang menunjukkan<br />
performans yang jelek.<br />
Pejantan per generasi hasil seleksi (unggul)<br />
dikembalikan ke populasi umum yaitu<br />
peternakan rakyat untuk mengawini sapi<br />
betina. Sapi jantan di populasi umum yang<br />
tidak terseleksi dikeluarkan dari populasi<br />
sebagi terminal sire sehingga memutus<br />
genotype keturunan yang tidak diharapkan.<br />
Kelompok pembibitan “elite” yang pada<br />
dasarnya tidak menguntungkan dan<br />
pengembalian modal jangka panjang, sehingga<br />
kelompok atau pusat pembibitan penghasil<br />
pejantan unggul dikelola oleh pemerintah atau<br />
bekejasama dengan pemodal (swasta). Pola<br />
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004<br />
48<br />
Gambar 1. Bagan perbaikan mutu genetik sapi Madura melalui perkawinan pejantan unggul pergenerasi<br />
Sumber: HAKIM (1993)<br />
pernaikan mutu ini dilakukan berkelanjutan<br />
sampai diperoleh populasi umum dengan mutu<br />
genetic semakin meningkat.<br />
Perkawinan silang/grading up<br />
Perkawinan silang merupakan cara<br />
perkawinan antara individu yang tidak<br />
memiliki hubungan keluarga dekat yang<br />
bertujuan perbaikan mutu ternak secara cepat<br />
dan hasilnya nyata dengan memanfaatkan<br />
hybride vigour (heterosis), apabila heterosis<br />
menunjukkan dampak positif dibanding<br />
tetuanya. Menurut HARDJOSUBROTO (2002)<br />
dan KINGHORN dan SIMM (1999) bahwa<br />
perkawinan silang dua bangsa hanya dilakukan<br />
dan akan memberikan manfaat yang baik<br />
apabila efek heterosis tampak lebih baik.<br />
Faktor heterosis dimanfaatkan yang<br />
penekanannya diarahkan kepada peningkatan<br />
produktivitas, sedangkan arah untuk<br />
mendapatkan bangsa baru merupakan hal yang<br />
tidak mungkin karena diperlukan waktu<br />
panjang, materi, dan keragaman faktor genetik<br />
cukup besar.<br />
Pengalaman hasil pemuliabiakan<br />
perkawanan silang untuk mendapatkan bangsa<br />
baru dengan produktivitas optimal terjadi<br />
setelah perkawainan silang dengan ratio darah<br />
3/8 lokal + 5/8 exotic. Sedangkan faktor<br />
heterosis dari generasi kegenerasi akan selalu<br />
semakin menurun 100%, 75%, 50%, 25% dan<br />
pada akhirnya heterosis negative, akan terjadi<br />
perubahan produktivitas. Produktivitas yang<br />
paling optimal dari grading up dengan<br />
pemanfaatan heterosis adalah ratio darah 50%,<br />
F1 dikembangkan sebagai terminal breed.<br />
Kebijakan Dinas Peternakan Propinsi Jawa<br />
Timur melalui Semiloka dalam rangka<br />
pemberdayaan dan grading up sapi Madura<br />
guna mendukung program intan sejati Jawa<br />
Timur, dengan arah pengembangan sapi<br />
Madura melalui pemberdayaan, pelestarian dan<br />
peningkatan produktivitas sapi Madura dengan<br />
grading up melalui perkawinan silang (exotic<br />
breed).<br />
Kelanjutan grading up sapi Madura melalui<br />
persilangan rotasi dengan pemanfaatan<br />
pejantan hasil perkawinan silang (F1) akan<br />
merubah struktur ratio darah turunan<br />
pergenerasi. Ratio darah lokal (sapi Madura<br />
Pusat pembibitan untuk<br />
menghasilkan pejantan<br />
(Pemeliharaan intensif<br />
Populasi umum<br />
Populasi umum betina<br />
Populasi umum betina<br />
Populasi umum betina<br />
Populasi umum betina<br />
Dinas Peternakan<br />
atau UPT<br />
Di Pedesaan<br />
Seleksi jantan dan betina<br />
Generasi 1 X<br />
Generasi 1 X<br />
Generasi 1 X<br />
Generasi 4 X<br />
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004<br />
49<br />
semakin menurun dan akan diikuti perubahan<br />
gen keunggulan sapi lokal yang memiliki<br />
kemampuan adaptasi lingkungan.<br />
Perlu adanya evaluasi/identifikasi/analisis<br />
dampak pascacrossing pada lokasi/wilayah<br />
pengembngan persilangan (crossing) untuk<br />
memprediksikan strategi perkawinan silang<br />
berikutnya yang sesuai dengan kendala teknis<br />
maupun sosiobudaya masyarakat., prediksi<br />
yang kurang tepat penyebab terjadinya<br />
kehancuran suatu bangsa.<br />
Perkawinan silang yang terkendali,<br />
pengawasan tidak ketat program tidak jelas<br />
kelanjutannya yang selama ini selalu terjadi<br />
didalam pelaksanaan program perkawinan<br />
silang (program ongolisasi misalnya) ,dapat<br />
terjadi kekacauan genetik yang pada akhirnya<br />
tidak memberikan dampak posisitif, demikian<br />
pula maraknya program IB bangsa sapi<br />
temperate sampai sekarang belum banyak data<br />
tentang hasil dan pengaruh perkawinan silang<br />
yang akurat.<br />
Perkawinan silang terhadap sapi Madura<br />
dibutuhkan perwilayahan yang seyogyanya<br />
tidak mengganggu perkembangan sapi murni<br />
yang memiliki kompetensi dan keunggulan<br />
tersendiri sebagai indigenus breed.<br />
Gambar 2. Bagan grading up sapi Madura dengan pejantan persilangan<br />
F-1 jantan dan betina<br />
(50 % import : 50% lokal<br />
Kelompok betina<br />
terseleksi dari<br />
populasi umum<br />
Pejantan<br />
unggul import<br />
Populasi umum betina<br />
Interse mating untuk menghasilkan<br />
pejantan persilangan (F-1)<br />
75% lokal<br />
25% impor<br />
(betina)<br />
62% lokal<br />
38% impor<br />
(betina)<br />
56% lokal<br />
44% impor<br />
(betina)<br />
Interse mating untuk menghasilkan<br />
pejantan persilangan (F-1)<br />
Interse mating untuk menghasilkan<br />
pejantan persilangan (F-1)<br />
Perkawinan secara kontinyu dengan diikutiseleksi<br />
Dinas Peternakan<br />
atau UPT<br />
Di Pedesaan<br />
X<br />
X<br />
X<br />
X<br />
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004<br />
50<br />
PELESTARIAN PLASMA NUTFAH SAPI<br />
MADURA<br />
Penyebaran sapi Maduran diluar pulau<br />
Madura tidak menunjukkan perkembangan<br />
yang siknifikans sehingga dalam upaya<br />
pelestariannya lebih memungkinkan dilaksanakan<br />
di pulau Madura, yang selama ini masih<br />
dilindungi atau diatur oleh perundangan.<br />
Sapi Madura sebagai plasma nutfah sapi<br />
potong indigenus merupakan salah satu<br />
kebanggaan secara nasional yang perlu<br />
dipertahankan keberadaannya.<br />
Layaknya sapi Bali, sapi Madura juga<br />
merupakan sapi potong yang dilindungi<br />
keberadaannya di pulau Madura. Mengacu<br />
kepada Lembaran Negara (Staadblad) No.226<br />
tahun 1923, No.1465 tahun 1925, No. 368<br />
tahun 1927, No. 57 tahun 1934 dan No. 115<br />
tahun 1937; serta tersirat didalam UU Nomor 6<br />
tahun 1967 tentang pokok-pokok Peternakan<br />
dan Kesehatan Hewan. Peraturan-peraturan<br />
tersebut menybutkan antara lain ditetapkan<br />
bahwa pulau Madura dan Bali sebagai tempat<br />
pengembangan murni (pure breed) masingmasing<br />
untuk sapi Madura dan sapi Bali;<br />
pelarangan keluar dan masuknya jenis sapi lain<br />
dari pulau, pengeluaran dapat dilakukan<br />
dengan syarat khususnya diberikan bagi sapi<br />
yang tidak produktif atau bukan sebagai bibit.<br />
Kebijakan untuk kepentingan yang khusus<br />
maka pengeculian hanya dapat diberikan oleh<br />
Mentri Pertanian dengan pengawasan yang<br />
ketat dan terjamin tidak akan terjadi<br />
pencemaran kemurnian sapi di lingkungannya<br />
(DARMADJA, 1990).<br />
Konsistensi penerapan peraturan tersebut<br />
sebagai salah satu faktor yang dapat<br />
menyebabkan kemajuan atau kemerosotan<br />
sumberdaya genetik sapi Madura di habitat<br />
aslinya pulau Madura, Jangka panjangnya<br />
kemungkinan untuk mendapatkan sapi yang<br />
baik, murni, dengan produktivitas tinggi justru<br />
“berada diluar” pulau Madura.<br />
Kebijakan Dinas Peternakan Propinsi Jawa<br />
Timur dalam rangka pemberdayaan, pelestarian<br />
dan grading up sapi Madura dengan sapi<br />
bangsa Bos taurus yang berwarna merah<br />
dengan syarat antara lain minat masyarakat dan<br />
wilayah yang berkecukupan pakan atau<br />
peternak mampu. Sedangkan untuk pemurnian<br />
diprediksikan akan dikembangkan di<br />
kepulauan sekitar Pulau Madura, akan tetapi<br />
seberapa jauh dampak pemuliabiakan dengan<br />
wilayah pengembangan yang relatif kecil baik<br />
wilayah dan populasinya. Pada akhirnya akan<br />
memberikan dampak yang lebih mengenaskan<br />
bagi sapi Madura sebagai sapi indigenus<br />
kebanggan bangsa. Namun demikian perlu<br />
adanya jaminan tidak akan terjadi pencemaran<br />
terhadap “bangsa” ternak murni (BUDIMAN,<br />
1991).<br />
Sebagai pengimbang paling tidak dilakukan<br />
atau ditentukan peluasan area pembibitan di<br />
wilayah lain yang mampu mengisolasi<br />
komunitas yang cukup besar dan diikuti<br />
program seleksi pemurnian sapi Madura untuk<br />
meningkatkan produktivitas yang diissuekan<br />
cenderung semakin menurun.<br />
Dukungan kebijakan yang konsisten,<br />
peninjauan dan penegasan kembali peraturan<br />
pemerintah yang ada, guna tindak lanjut dalam<br />
pelaksanaan pelindungan, pemanfaatan dan<br />
pengembangan sapi Madura yang lebih nyata.<br />
Seyogyanya pemanfaatan sapi madura murni di<br />
pulau Madura sebagai populasi dasar yang<br />
memungkinkan dikembangkan sebagai bahan<br />
dasar untuk membentuk bangsa baru yang<br />
unggul dan adaptif untuk daerah tropis, untuk<br />
itu program pembibitan kearah pembentukan<br />
bangsa baru dilaksanakan diluar Pulau Madura.<br />
KESIMPULAN<br />
1. Perlu dilakukan pelestarian sapi Madura<br />
sebagai bangsa sapi indigenus Indonesia<br />
dan dibutuhkan penyiapan bibit pejantan<br />
berkualitas (unggul) melalui pembibitan<br />
dan performans test.<br />
2. Produktivitasnya beragam berpeluang<br />
ditingkatkan dengan pemanfaatan potensi<br />
kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap<br />
lingkungan yang berat dan tahan penyakit.<br />
3. Seleksi dan atau grading up dapat<br />
dilakukan dengan pertimbangan pelestarian,<br />
perwilayahan pengembangan dan<br />
monitoring berkelanjutan terhadap genotipe.<br />
4. Keterbatasan populasi pada wilayah<br />
pembibitan dapat sebagai faktor percepatan<br />
inbreeding.<br />
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004<br />
51<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
ANONIMUS. 2001. Penetapan standard bibit ternak<br />
regional Jawa Timur. Dinas Peternakan<br />
Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Sumenep.<br />
ANONIMUS. 1993. Pengembangan sapi Madura di<br />
kabupaten Bulungan Kalimantan Timur. Pros.<br />
Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan<br />
Pengembangan Sapi Madura. Sub Balitnak<br />
Grati. Sumenep. hlm. 35–44.<br />
BAKRI, B., KOMARUDIN-MA’SUM dan E. TELENI.<br />
1993. Peningkatan kemampuan kerja sapi<br />
Madura melalui perbaikan kondisi fisik<br />
sebelum masa kerja. Pros. Pertemuan Ilmiah<br />
Hasil Penelitian dan Pengembangan Sapi<br />
Madura. Sub Balitnak Grati. Sumenep. hlm.<br />
211–215.<br />
BUDIMAN, S. 1991. Peraturan dan kebijakan<br />
pemuliaan di Indonesia serat permasalahannya.<br />
Direktorat Bina Produksi Peternakan.<br />
Makalah pada seminar sehari Bersama<br />
pemuliaan Ternak. Fak Peternakan. IPB.<br />
Bogor. 26 September 1991.<br />
DARMONO, N. GINTING dan SUDARISMAN. 1993.<br />
Penyakit pada sapi Madura dan peneltian<br />
penyakit yang telah dilakukan. Pros.<br />
Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan<br />
Pengembangan Sapi Madura. Sub Balitnak<br />
Grati. Sumenep. hlm. 55−58.<br />
DJATI, M.S. dan KARNAEN. 1993. Evaluasi<br />
kemampuan sapi Madura untk mengolah lahan<br />
pertanian lahan kering. Pros. Pertemuan<br />
Ilmiah Hasil Penelitian dan Pengembangan<br />
Sapi Madura. Sub Balitnak Grati. Sumenep.<br />
hlm. 221−230.<br />
HARDJOSUBROTO, W., ENDANG. B. dan SIDQI-ZAUD.<br />
1993. Kapasitas suplai sapi Madura dari pulau<br />
Madura. Pros. Pertemuan Ilmiah Hasil<br />
Penelitian dan Pengembangan Sapi Madura.<br />
Sub Balitnak Grati. Sumenep. hlm. 198−210.<br />
HEDAH, J. 1993. Peranan Balai inseminasi Buatan<br />
Singosari dalm meningkatkan mutu sapi<br />
Madura melalui inseminasi buatan. Pros.<br />
Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan<br />
Pengembangan Sapi Madura. Sub Balitnak<br />
Grati. Sumenep.Hal :92−100.<br />
KINGHORN, B.P. and G. SIMM. 1999. The genetics of<br />
cattle. Ed. R Fries and A. Ruvinsky. Cabi<br />
Publishing 577−603.<br />
KOMARUDIN-MA’Sum. 1993. Hasil-hasil<br />
penelitian sapi Madura di Sub Balai Penelitian<br />
Ternak Grati, Pasuruan. Pros. Pertemuan<br />
Ilmiah Hasil Penelitian dan Pengembangan<br />
Sapi Madura. Sub Balitnak Grati. Sumenep.<br />
hlm. 45–54.<br />
Hakim, L. 1993. Program pemuliaan sapi Madura<br />
dalam rangka meningkatkan performans<br />
produksinya. Pros. Pertemuan Pembahasan<br />
Hasil Penelitian Bibit Sapi Madura Guna<br />
meningkatkan Mutu Sapi Madura. Malang.<br />
Sub Balitnak Grati. Hal : 49 – 58.<br />
Martoyo, H. 1991. Program pemuliaan dalam usaha<br />
pembibitan ternak sapi pedaging dan<br />
permasalahannya. Makalah pada seminar<br />
sehari Bersama pemuliaan Ternak. Fak<br />
Peternakan. IPB. Bogor. 26 September 1991.<br />
Siregar, A. R. 1995. Potensi dan karakteristik sapi<br />
Madura. J. Penelitian dan Pengembangan<br />
Pertanian. Vol. IV. No. 2.<br />
Rasyid, A. dan U. Umiyasih, 1993. Study tentang<br />
prestasi berat badan dan ukuran tubuh sapi<br />
sonok. Proc. Pertemuan Ilmiah Hasil<br />
Penelitian dan Pengembangan Sapi Madura.<br />
Sub Balitnak Grati. Sumenep. Hal. 236-240.<br />
Soehadji. 1993. Kebijakan pengembangan ternak<br />
potong di Indonesia tinjauan khusus sapi<br />
Madura. Pros. Pertemuan Ilmiah<br />
HasilPenelitian dan Pengembangan Sapi<br />
Madura. Sumenep. Hal.1-12.<br />
Soerjoatmodjo, M. 2002. Tinjauan potensi sapi<br />
Madura dan kajian program grading up<br />
menuju tercapainya kecukupan daging tahun<br />
2005. Semiloka dalam rangka pemberdayaan<br />
dan grading up guna mendukung program<br />
intan sejati Jawa Timur. Dispet Prop. Jatim.<br />
Sumenep.<br />
Soesetya, R. H. B. 1993. Prevalensi fasciolasis pada<br />
sapi Madura yang disembelih di wilayah<br />
pembantu Gubernur Jawa Timur di Madura.<br />
Pros. Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan<br />
Pengembangan Sapi Madura. Sub Balitnak<br />
Grati. Sumenep. Hal.257-261.<br />
Sudana, I.G. S., S. Witono, Soeharsono, D. N.,<br />
Darma dan I. N. Suendra. 1993. Survei situasi<br />
penyakit ngorok (haemirrhagic septichaemi) di<br />
Pulau Madura. Dalam Pros. Laporan Tahunan<br />
Hasil Penyidikan Penyakit Hewan di<br />
Indonesia., periode 1981/1982 : 51-57.<br />
Sukanto, I. P., R. C. Payne dan R. Graydon. 1988.<br />
Trypanosomiasis di Madura. Survei<br />
parasitologi. Penyakit Hewan 20 (36) : 85-87.<br />
Susilawati, T. 2002. Strategi dan peran inseminasi<br />
buatan dalam grading up sapi Madura.<br />
Semiloka dalam rangka pemberdayaan dan<br />
grading up guna mendukung program intan<br />
Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004<br />
52<br />
sejati Jawa Timur. Dispet Prop. Jatim.<br />
Sumenep.<br />
Umar, M. dan Riszqina. 1993. Perbandingan antara<br />
pemakaian formula berat hidup dan berat<br />
ditimbang pada sapi Madura dara. Pros.<br />
Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan<br />
Pengembangan Sapi Madura. Sub Balitnak<br />
Grati. Sumenep. Hal.252-256.<br />
Warwck, E. J. Astutik, dan W. Hardjosubroro. 1983.<br />
Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada Univ. Press.<br />
Yogyakarta.<br />
Wijono D. B. dan Lukman Affandhy. 1993.<br />
Tampilan reproduksi sapi “Sonok” di<br />
Kabupaten Sumenep, Madura. Pros.<br />
Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan<br />
Pengembangan Sapi Madura. Sub Balitnak<br />
Grati. Sumenep. Hal.106-109.<br />
Wijono D. B.. 1998. Peran bobot badan dan ukuran<br />
testes sapi potong pejantan terhadap<br />
kemampuan produksi dan tingkat kualitas<br />
semen. Pros. Seminar Nasional Peternakan<br />
dan Veteriner. Jilid I. Puslitbangnak. Bogor.<br />
Hal. 228-232.<br />
Wijono, D. B. dan Apffandhy, L.1996. Peranan skor<br />
kondisi badan induk dalam pemanfaatan<br />
potensi g netik sapi Madura. Pros. Temu<br />
Ilmiah Hasil-hasil Penelitian Peternakan.<br />
Puslitbangnak. Ciawi-Bogor. Hal : 223 -228.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maduracenter.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maduracenter.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maduracenter.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maduracenter.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maduracenter.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maduracenter.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maduracenter.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maduracenter.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maduracenter.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maduracenter.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maduracenter.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maduracenter.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maduracenter.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maduracenter.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maduracenter.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maduracenter.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=46&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/potensi-dan-keragaman-sumberdaya-genetik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/68f0062c4be56801282728ec452d8c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcenter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ojung dari Madura Terancam Punah</title>
		<link>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/ojung-dari-madura-terancam-punah/</link>
		<comments>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/ojung-dari-madura-terancam-punah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 17:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcenter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/ojung-dari-madura-terancam-punah/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Sumenep, Rabu Seni adu ketangkasan dan kekebalan khas Madura, ojung, yang dimainkan satu lawan satu dengan menggunakan alat pemukul dari rotan sepanjang 1,5 meter, terancam punah. Atas dasar itu, sebuah stasiun radio dengan siaran-siaran bernuansa Madura di Sumenep menggelar pertunjukan seni tersebut pada Rabu ini (14/6). Untuk menampilkan ojung sebagai tontonan umum di Lapangan Kecamatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=45&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="txttagline"> </span></p>
<table align="right" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="327">
<tr>
<td width="6">&nbsp;</td>
<td width="318">
<p align="right"><a href="http://ad.sg.doubleclick.net/jump/N3977.Kompass_ID/B2374030;sz=300x300;ord=1184433100046?" target="_blank"><br />
</a></p>
<p><!---Dalam artikel 2---></td>
</tr>
</table>
<p><span class="txttagline"><br />
</span><span class="bodytext01"></p>
<p><strong>Sumenep, Rabu</strong><br />
Seni adu ketangkasan dan kekebalan khas Madura, ojung, yang dimainkan satu lawan satu dengan menggunakan alat pemukul dari rotan sepanjang 1,5 meter, terancam punah. Atas dasar itu, sebuah stasiun radio dengan siaran-siaran bernuansa Madura di Sumenep menggelar pertunjukan seni tersebut pada Rabu ini (14/6).</p>
<p>Untuk menampilkan ojung sebagai tontonan umum di Lapangan Kecamatan Gapura, Sumenep, pihak stasiun radio itu mengalami kesulitan dalam mendapatkan para pemain ojung di Kabupaten Sumenep.</p>
<p>Menurut dra Juli Rumiana, Direktris PT Radio Pesona Wisatama Sumenep, stasiun radio dimaksud, di wilayah tersebut kini hanya ada dua kelompok pemain, yaitu di Kecamatan Batuputih dan Kecamatan Batang-batang, Sumenep utara. Para pemain ojung haruslah orang-orang yang tangguh, termasuk dalam menahan rasa sakit akibat pukulan rotan.</p>
<p>Pengatur pelaksanaan ojung itu memberi waktu 30 menit untuk para pemain saling menundukkan lawan. Ketika digelar, ojung membuat merinding para penonton. Maklum, alat pukul rotan itu bisa membuat pemain yang belum kebal dan tangkas mengalami lecet dan memar pada tubuh bagian belakang.</p>
<p>Meskipun tak ada juri dalam pertandingan tersebut, pemain yang lebih banyak terkena pukulan rotan dianggap kalah oleh para penonton. Ada pemain yang sampai roboh karena tidak kuat menahan pukulan lawan.</p>
<p>&#8220;Sepintas, sangat mengerikan. Tapi, para pemain yang tidak luka dan lebih sedikit terkena pukulan rotan lawan menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga mereka,&#8221; ujar Juli. Lanjut Juli, hubungan antarpemain tetap baik di luar pertandingan.</p>
<p>Ojung digelar dengan iringan permainan alat-alat musik tradisional Madura seperti tong-tong, seruling, dan gendang kecil. Musik tersebut disajikan oleh 12 orang. Tepuk tangan dan seruan penyemangat dari para penonton pun memeriahkan suasana.</p>
<p>Salah satu tokoh ojung, Madra’e, mengatakan bahwa seni itu lahir di zaman emas Kerajaan Sumenep (Soengenep).</p>
<p>&#8220;Tempo dulu, pria yang ingin menyunting wanita, salah satu persyaratannya adalah memiliki kemampuan olah tanding dan kekebalan. Ini dimaksudkan, supaya sang calon istri merasa aman dari gangguan penjahat dengan memiliki suami seperti itu,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Kata Madra’e lagi, dalam perkembangannya ojung sampai ke pelosok-pelosok Sumenep. Pada 1980-an pun masih mudah didapati pertunjukan ojung. Namun demikian, kemudian, dengan semakin sedikitnya orang di sana yang mendalami ilmu kekebalan, ojung kian tak terdengar.</p>
<p>Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sumenep Edi Mustika mengatakan, ojung sangat sulit untuk dikembangkan lagi. Walaupun begitu, sambung Edi, ojung perlu dipertahankan. &#8220;Minimal kita pertahankan tetap ada ojung Madura, yakni dengan cara sesering mungkin menggelar pertunjukannya, ujarnya.</p>
<p><strong>Sumber: </strong>Antara<br />
<strong>Penulis</strong>: Ati Kamil</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maduracenter.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maduracenter.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maduracenter.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maduracenter.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maduracenter.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maduracenter.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maduracenter.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maduracenter.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maduracenter.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maduracenter.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maduracenter.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maduracenter.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maduracenter.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maduracenter.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maduracenter.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maduracenter.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=45&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/ojung-dari-madura-terancam-punah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/68f0062c4be56801282728ec452d8c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcenter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HASIL-HASIL PENELITIAN SAPI MADURA</title>
		<link>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/hasil-hasil-penelitian-sapi-madura/</link>
		<comments>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/hasil-hasil-penelitian-sapi-madura/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 17:14:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcenter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/hasil-hasil-penelitian-sapi-madura/</guid>
		<description><![CDATA[Sapi Madura adalah salah satu bangsa sapi asli Indonesia, banyak didapatkan di Pulau Madura. Salah satu kelebihan sapi Madura adalah tahan terhadap kondisi-pakan yang berkualitas rendah. Namun ada kecenderungan bahwa mutu sapi Madura menurun produktivitasnya atau terjadi pergeseran nilai (produktivitas) dari waktu ke waktu, yang sanipai saat ini pertyebabnya belum diketahui dengan jelas. Telah dilakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=44&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p align="justify">Sapi Madura adalah salah satu bangsa sapi asli Indonesia, banyak    didapatkan di Pulau Madura. Salah satu kelebihan sapi Madura adalah tahan terhadap    kondisi-pakan yang berkualitas rendah. Namun ada kecenderungan bahwa mutu sapi    Madura menurun produktivitasnya atau terjadi pergeseran nilai (produktivitas)    dari waktu ke waktu, yang sanipai saat ini pertyebabnya belum diketahui dengan    jelas.<br />
Telah dilakukan penelitian yang diarahkan kepada peningkatan produktivitas melalui    seleksi bibit dan perbaikan pakan, tatalaksana pemeliharaan dan penanganan faktor    sosial ekonomi pemeliharaan sapi Madura.<br />
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa dari 535 ekor sapi jantan muda yang diamati    di P.Madura, ternyata sapi yang baik terseleksi sebanyak 30 ekor. Libido sapi    Madura calon pejantan sangat kuat, tetapi produksi semen masih agak rendah,    yaitu: rata-rata 1,0-1,3 ml/ejakulasi dengan konsentrasi 409 juta spermatozoa.    Pemberian gliricidia sebanyak20% + dedak 1,5%bobotbadandenganjerami kedelaiad    libitum meningkatkan bobot badan 451 gr/ekor/hari. Hasil pengamatar di Rumah    Potong Hewan (RPH) Surabaya menunjukkan, bobot hidup dari sapi yang dipotong    masih dibawah 250 kg dengan bobot karkas antara 50,96% &#8211; 51,72%. Dari segi tatalaksana    pemeliharaan menunjukkan, sekitar 80% petani pemelihara menggunakan sapi Madura    sebagai sapi kerja denganjumlah kisaran pemeliharaan 1,25-2,5 unitternak. Status    pemilikan sapi Madura di peternak, antara lain: sebagai sapi sendiri dan sapi    gaduhan. Ratio antara jumlah sapi gaduhan dengan jumlah tenaga kerja keluarga    produktif masih rendah, berkisar antara 1,0 &#8211; 1,5.<br />
Disimpulkan bahwa seleksi calon pejantan sapi Madura merupakan salah satu cara    untuk meningkatkan mutu sapi Madura yang cenderung menurun. Gliricidia merupakan    salah satu jenis tana man yang dapat dipakai untuk memperbaiki penampilansapi    Madura.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maduracenter.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maduracenter.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maduracenter.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maduracenter.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maduracenter.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maduracenter.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maduracenter.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maduracenter.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maduracenter.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maduracenter.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maduracenter.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maduracenter.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maduracenter.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maduracenter.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maduracenter.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maduracenter.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=44&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/hasil-hasil-penelitian-sapi-madura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/68f0062c4be56801282728ec452d8c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcenter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kek Lapis Ketan Madura</title>
		<link>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/kek-lapis-ketan-madura/</link>
		<comments>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/kek-lapis-ketan-madura/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 17:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcenter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/kek-lapis-ketan-madura/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Majalah Jelita, April 1991 &#160; &#160; Bahan-Bahan: 20 biji kuning telur, disejukkan 5 biji putih telur 230 gm gula halus 160 gm tepung pulut 1 camca teh serbuk penaik 350 gm mentega 2 sudu besar madu 2 sudu besar susu pekat 1 camca teh esen pandan 1 camca teh esen limau 1 camca teh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=43&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellpadding="6" width="100%">
<tr>
<td bgcolor="#fffff9" valign="middle" width="50%"><font face="Arial" size="1"> </font><br />
<font face="Arial" size="1">Sumber: Majalah Jelita, April 1991                   </font><br />
<font face="Arial" size="1"><br />
</font></td>
<td bgcolor="#fffff9" valign="middle" width="50%">
<p align="right">
<table border="0" cellpadding="5" cellspacing="1">
<tr>
<td align="right" valign="top">&nbsp;</td>
<td align="right" valign="top">&nbsp;</td>
</tr>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" bgcolor="#f2f7ff" valign="top" width="100%"><strong><font face="MS Sans Serif" size="1">Bahan-Bahan:</font></strong></td>
</tr>
<tr>
<td bgcolor="#fffff9" valign="top" width="50%"><font face="Verdana" size="1">20 biji kuning telur, disejukkan<br />
5 biji putih telur<br />
230 gm gula halus<br />
160 gm tepung pulut<br />
1 camca teh serbuk penaik<br />
350 gm mentega</font></td>
<td bgcolor="#fffff9" valign="top" width="50%"><font face="Verdana" size="1">2 sudu besar madu<br />
2 sudu besar susu pekat<br />
1 camca teh esen pandan<br />
1 camca teh esen limau<br />
1 camca teh esen pisang</font></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" bgcolor="#f2f7ff" valign="top" width="100%"><strong><font face="MS Sans Serif" size="1">Cara:</font></strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" bgcolor="#fffff9" valign="top" width="100%"><font face="Verdana" size="1">Pukul mentega bersama susu dan madu hingga putih.</p>
<p>Pukul telur bersama gula hingga naik. Masukkan tepung dicampur serbuk penaik. Pukul lagi hingga pekat.</p>
<p>Masukkan adunan mentega. Gaul rata.</p>
<p>Bahagikan adunan kepada tiga bahagian. Satu campurkan esen pandan, esen limau dan juga esen pisang.</p>
<p>Bakar adunan berselang-seli hingga habis.</font></td>
</tr>
</table>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maduracenter.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maduracenter.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maduracenter.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maduracenter.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maduracenter.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maduracenter.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maduracenter.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maduracenter.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maduracenter.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maduracenter.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maduracenter.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maduracenter.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maduracenter.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maduracenter.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maduracenter.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maduracenter.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=43&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/kek-lapis-ketan-madura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/68f0062c4be56801282728ec452d8c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcenter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Soto Ayam Madura</title>
		<link>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/soto-ayam-madura/</link>
		<comments>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/soto-ayam-madura/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 17:12:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcenter</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/soto-ayam-madura/</guid>
		<description><![CDATA[Udara mulai dingin&#8230;suasana Ramadhan masih terasa&#8230;untuk menu buka puasa, enak juga makan Soto ayam&#8230; Soto Ayam Madura Bahan: 1 ekor ayam, belah 2-4 2 liter kaldu ayam 1 batang sereh, memarkan 3 lbr daun jeruk purut 3 batang daun bawang 2 batang daun seledri (jika ada) 75 gr keripik kentang (bisa diganti dgn chips:-)) 50 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=42&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="post-title"></h3>
<p>Udara mulai dingin&#8230;suasana Ramadhan masih terasa&#8230;untuk menu buka puasa, enak juga makan Soto ayam&#8230;</p>
<p><span style="font-size:130%;"><strong>Soto Ayam Madura</strong></span><br />
<strong><span style="font-size:130%;"></span></strong><br />
<img src="http://img.photobucket.com/albums/v285/iswahjudi/sotoayam.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com" /></p>
<p><strong>Bahan:</strong><br />
1 ekor ayam, belah 2-4</p>
<p>2 liter kaldu ayam</p>
<p>1 batang sereh, memarkan</p>
<p>3 lbr daun jeruk purut</p>
<p>3 batang daun bawang</p>
<p>2 batang daun seledri (jika ada)</p>
<p>75 gr keripik kentang (bisa diganti dgn chips:-))</p>
<p>50 gr soun, potong-potong, rendam hingga lunak, tiriskan</p>
<p>4 butir telur rebus belah 2-4</p>
<p>1-2 sdm bawang goreng</p>
<p>100 gram taoge, seduh air mendidih, tiriskan</p>
<p>2 buah jeruk nipis &amp; kecap manis<br />
<strong>Bumbu:</strong><br />
3 buah bawang merah<br />
5 siung bawang putih<br />
1 cm jahe<br />
2 sdt kunir bubuk<br />
4 buah kemiri, yang sudah disangrai<br />
1 sdt ketumbar bubuk</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong><br />
1. Rebus ayam dengan 2 liter air hingga lunak.<br />
2. Semua bumbu dirajang (iris) halus. kemudian ditumis bersama dengan sereh &amp; daun jeruk, tumis setengah matang hingga harum. Kemudian diulek dgn garam &amp; merica. Masukkan ke dalam panci yang berisi rebusan ayam &amp; kaldu. Lanjutkan, masak dengan api kecil. *Angkat ayam. Masukkan 1 blok kaldu sapi Maggi (jika suka) serta sebagian irisan daun bawang kedalam kuah rebusan ayam tadi.<br />
3. *Angkat ayam, suwir-suwir. Kemudian goreng hingga kecoklatan &amp; agak mengering.</p>
<p><strong>Cara menghidangkan:</strong><br />
Susun dalam mangkuk: soun, taoge, daging ayam, daun bawang, seledri &amp; bawang goreng. Tuangi kuah panas, taburi keripik kentang dan irisan telur. Hidangkan dengan sambal, kecap dan jeruk nipis.</p>
<p><em><strong>Sambal Soto:</strong><br />
</em>Rebus 10 buah cabe merah, tiriskan. Ulek kasar bersama kemiri &amp; garam. Tuangi edikit kuah soto, aduk rata.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maduracenter.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maduracenter.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maduracenter.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maduracenter.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maduracenter.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maduracenter.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maduracenter.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maduracenter.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maduracenter.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maduracenter.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maduracenter.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maduracenter.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maduracenter.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maduracenter.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maduracenter.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maduracenter.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maduracenter.wordpress.com&amp;blog=1368083&amp;post=42&amp;subd=maduracenter&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maduracenter.wordpress.com/2007/07/14/soto-ayam-madura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/68f0062c4be56801282728ec452d8c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcenter</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.photobucket.com/albums/v285/iswahjudi/sotoayam.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Image hosted by Photobucket.com</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
