Posted by: mcenter | July 14, 2007

Pesona Madura dari Udara


Madura dikenal karena pesona budaya dan masyarakatnya. Mulai karapan sapi, berbagai tarian dan musik, bekas kerajaan di Sumenep, hingga sebutan Pulau Garam.

Wilayahnya yang menghadap langsung ke Laut Jawa menjadikan sebagian penduduknya bekerja sebagai nelayan. Hamparan puluhan pulau di ujung timur dan utara Pulau Madura membuat wilayah ini juga kaya pesona alam. Keragaman budayanya lahir melalui akulturasi budaya dengan pelaut-pelaut tradisional dari berbagai daerah yang menyinggahinya.

Geografi Pulau Madura dan pulau-pulau di sekitarnya amat memesona saat dinikmati dari pesawat Nomad milik Skuadron Udara 800 Intai Taktis Wing Udara Komando Armada RI Kawasan Timur.

Pesawat yang biasa digunakan untuk tugas rutin patroli maritim TNI Angkatan Laut atau membantu SAR laut diterbangkan pilot Kapten Laut (P) M Ramdhan dan kopilot Letda Indra Kurniawan. Untuk bisa menikmati penerbangan berkecepatan 100 knot di ketinggian 50-200 kaki dengan manuver patroli ini, dibutuhkan ketahanan fisik dan mental.

Semua ketegangan itu terbayar oleh keindahan alam yang menghampar di bawah pesawat. Mulai dari bentangan pantai utara Pulau Madura, tanah merah Pulau Puteran, hingga petak sawah yang bagaikan lembaran permadani.

Hamparan tambak garam menguatkan sebutan Madura sebagai pulau garam. Deretan perahu nelayan dan dermaga yang menjorok ke laut menghiasi pesisir selatan Pulau Madura.

Puluhan pulau di sekitar Pulau Madura, dari yang besar seperti Kangean dan Sapudi hingga yang kecil tanpa penghuni, menyimpan pesona yang belum diungkap dan dimanfaatkan. Sungguh potensi besar yang terabaikan di tengah kemiskinan sebagian besar penduduknya.

Sumber : Kompas

Posted by: mcenter | July 14, 2007

Sastra Madura & Kekerasan

Sastra Madura yang penuh dengan pesan, kesan, kritik dan ajaran-ajaran sempat lenyap dari permukaan , di masa lampau sastra lisan madura sangat diminati oleh masyarakat dari kalangan grass root (rakyat jelata) sampai kalangan elit (kraton), karena dengan sastra tersebut rakyat madura dapat mengeskpresiankan diri, menyampaikan pesan moral, gejolak hati, ajaran agama. Orang Madura yang terkenal keras menghadapi hidup, maju menentang arus, masih sempat untuk mendendangkan sastra –sastra, dengan kondisi geokrafis yang panas, ombak lautan yang garang, maka sastra-satranya penuh dengan motifasi, pesan ajaran yang ketat.

Di antara sastra Madura yang sangat di gemari antara lain, dongeng, lok-olok, syi’ir, tembang, puisi mainan anak-anak. Dungeng madure adalah cerita atau kisah yang di ambil dari cerita-cerita rakyat madura, yang mengandung beberapa pesan, dan harapan. Dongeng ini sering di dendangkan dalam pengajian, perkumpulan-perkumpulan. Sehingga hal tersebut di anggap primer dalam menumbuhkan kembangkan tradisi-tradisi yang ada dipulau madura. Dan dongeng tersebut merupakan cermin kehidupan pada masa lampau. Sedangkan Syi’ir merupakan untaian kata-kata indah, dengan susunan kalimat-kalimat yang terpadu. Biasanya syi’ir ini di baca di pesantren-pesanten, majlis ta’lim, dan walimatul urs. Tembeng tidak jauh berbeda dengan syi’ir, biasanya tembang di baca ketika punya hajat atau akan mengawinkan anaknya, yang di baca oleh dua orang atau lebih sepanjang malam.

Sastra Madura yang akhir-akhir ini, disinyalir semakin melemah karena publik kurang memperhatikan sebagai mana diungkapkan oleh Prof Dr Suripan sadi Hotomo “Sastra Madura (modern) telah mati, sebab sastra ini tak lagi mempunyai majalah BM (Berbahasa Madura-Red). Buku-buku BM pun tak laku jual. Dan, sastra Madura tak lagi mempunyai kader-kader penulis muda, sebab yang muda-muda umumnya menulis dalam bahasa Indonesia” Meskipun demikian dewasa ini sedikit, bahkan dapat dikatakan tidak ada, yang berminat menulis sastra dalam bahasa Madura. Bahkan tokoh-tokoh sastrawan Madura, seperti Abdul Hadi WM, Moh. Fudoli, dan lain-lain lebih suka menulis dalam bahasa Indonesia. Sedangkan nama-nama penerjemah sastra Madura yang terkenal seperti SP Sastramihardja, R.Sosrodanoekoesoemo, R. Wongsosewojo kini telah tiada dan belum ada penggantinya. Mungkin hal ini merupakan sebuah proses sastra Madura sedang mengindonesiakan diri. Namun, meskipun demikian sastra Madura tidaklah lenyap dari peredaran tampa menyisakan bekas sedikitpun

Meskipun ada pendapat modern yang menyatakan bahwa sastra tidak harus menjadi cermin masyarakat, tidak dapat di buat rujukan terhadap fenomena yang berkembang dalam masyarkat tersebut, dan juga sastra bukanlah merupakan gambaran dari kehidupan yang ada pada masyarkat tersebut, namun berbeda dengan sastra Madura yang justru menjadi cermin dari kesanggupan menghadapi kehidupan; alam yang keras, panas yang menyengat, lautan yang garang, dan berbatu cadas, disinilah sastra Madura menjadi cermin kehidupan di samping sikap terhadap Tuhan yang menciptakan alam semesta.

Selama ini orang Madura yang terkenal dengan kekerasaanya, baik watak, sikap, kemauan, berpendapat, dan segala bentuk kekerasan ditujukan pada orang Madura. Sehingga image tentang Madura dihadapan publik buruk dan jauh dari sikap santun dan damai. Sastra Madura dalam hal ini sangat memberikan kesan dan peran , bahwa anggapan publik selama ini tentang kekerasan yang sering diidentikkan dengan jahat, marah, amoral, kasar, tidak bersahabat tidaklah benar. Kekerasan berbeda dengan keras, keras memang merupakan watak kebanyakan orang Madura, yang memang kondisi cultural dan geografisnya panas, ombak lautan yang garang, gunung-gunung yang terjal, bebatuan yang kokoh, menjadikan watak orang medura keras. Keras dalam hal ini, dalam kemauan, memegang prinsip, aqidah, dan keras terhadap ajaran-ajaran agama. maka sastra-satranya penuh dengan motifasi, pesan ajaran yang ketat, menentang kema’siatan, keras terhadap musuh-musuh yang mencoba menghancurkan aqidahnya. Sastra Madura (syair) , yang kebanyakan lewat pesatren dapat membuktikan bahwa isi dan kandunganya mengadung ajaran yang ketat.

Sosok Zawawi dengan celurit emasnya, mampu mengubah persepsi di hadapan publik bahwa celurit sebagai alat pembunuh menjadi alat yang bermamfaat bagi kehidupan orang Madura, yang memang menjadi ciri khas orang Madura. Yang jelas Sastra Madura mampu meluluhkan hati dan gejolak masyarakat Madura, dan menghilangkan kesan terhadap anggapan-anggapan bahwa orang Madura kasar, jahat dan amoral. Sastra yang selalu diindentikan dengan halus, indah maka demikian juga sastra Madura yang penuh dengan mutiara-mutiara kata, rangkain kalimat yang indah dan penuh dengan nuansa regilius.

Potena mata tak bisa ngobe karep
Biruna omba’ abernai kasab
Pangeran mareksane ngolapah ateh
Gelinah betoh, tebeleh bumi tak kobesa
Ngobe ngagelinah Pangeran


Halimi Zuhdi LS, Peneliti sastra, cerpenis dan Mahasiswa Pasca Sarjana PBA UIN Malang, Alumni Fakultas Humaniora Budaya, Jurusan sastra Arab UIN Malang, dan kini Ketua Linguistic and literature Malang

Posted by: mcenter | July 14, 2007

Madura Belum Layak Jadi Provinsi


TEMPO Interaktif, Kediri:Munculnya aspirasi dari masyarakat Pulau Madura untuk mendirikan provinsi sendiri, lepas dari Jawa Timur ditanggapi pesimistis anggota DPR RI asal Pamekasan, Jawa Timur, Mahfud M.D.

Menurut bekas Menteri Pertahanan dan Keamanan itu, Madura belum layak dijadikan provinsi karena kualitas sumber daya manusianya belum memadai.

“Tunggu sampai 15 tahun lagi kalau mau jadikan Madura
sebagai provinsi,” kata Mahfud saat berpamitan
dengan warga Kediri karena telah selesai menjalani 4
tahun masa kontrak sebagai Rektor Universitas
Islam Kadiri, Jumat siang tadi.

Menurutnya, alasan Madura tidak layak dijadikan
provinsi karena 70 persen dari 3,2 juta penduduk
Madura hanya lulusan setingkat sekolah dasar dan drop
out
.

“Itu hasil survei Azizs Dja’far, dosen Universitas
Trunojoyo Bangkalan. Saya benar-benar kaget melihat
survei itu dan membuat saya pesimis tentang provinsi
Madura,” kata Mahfud.

Menurutnya, tidak ada artinya mendirikan provinsi jika
untuk mengelolanya diserahkan penduduk dari luar
Madura. “Coba bayangkan, di Madura tidak ada satupun
toko buku dan perpustakaan,” katanya.

Mahfud mengatakan, pada 2001 wacana provinsi
Madura sudah mulai berkembang dan dia merupakan salah
satu pendukungnya. Bahkan Mahfud sempat didatangi tokoh
masyarakat Madura kepulauan seperti Pulau Kangean dan
Sepudi.

Mereka mendesak mendirikan Kabupaten Madura
Kepulauan agar syarat membentuk provinsi menimal
memiliki 5 kabupaten/kota terpenuhi.

“Tapi setelah melihat kenyataan tingkat sumber daya manusia yang rendah, saya menjadi tidak mendukung. Tunggu sampai masyarakat berpendidikan minimal SMA semua,” kata
Mahfud.

Secara yuridis Madura sangat memungkinkan menjadi
provinsi. Berdasarkan Undang Undang Nomor 32/2004
untuk menjadi provinsi, dibutuhkan minimal lima
wilayah setingkat kabupaten/kota. Saat ini di Madura
baru ada empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang,
Pamekasan dan Sumenep.

“Soal yuridis mudah penangannya. Pecah saja Pemekasan
menjadi kabupaten dan kota, sehingga syarat lima
kabupaten/kota terpenuhi. Soal dukungan politik saya
yakin semua anggota DPRD dan kepala daerah setuju.
Tapi masalah sumber daya manusia yang membuat tidak siap.”

Dwidjo U Maksum

Sumber Tempo

Jum’at, 05 Januari 2007 | 16:38 WIB

Posted by: mcenter | July 14, 2007

Tim Seni-Budaya Bertolak ke Bali


PAMEKASAN-Khazanah kesenian dan budaya etnik Madura (Pamekasan), kian mendapat tempat di pentas nasional. Buktinya, setelah berhasil meraih juara dua pada ekpo tahun 2005 lalu, kini tim seni-budaya Pamekasan kembali mengikuti ajang bergengsi di Nusa Dua Bali.

Menurut Bupati Pamekasan Ach. Syafii melalui Asisten II Atok Suhariyanto, tim seni-budaya pemkab akan berlaga di Bali. Menurut Atok, Pemkab Pamekasan tak hanya mengusung seni-budaya etnik. Melainkan, produk unggulan juga akan diikutsertakan dalam Expo Bali 2006 ini. Dia bilang, pada dimensi seni- budaya, telah disiapkan tari Topeng Gettak, Pecut, dan Pajuwen yang telah dimodifikasi berdarar nafas Gerbang Salam.

Tim pemkab pada aspek seni-budaya ini, difusi dari berbagai sanggar kesnian yang terdapat di Pamekasan. “Di bawah naungan pemkab, kantong-kantong seni tersebut berlebur menjadi satu,” uajrnya di kantor pemkab kemarin.

Sedangkan pada askepk kerajinan lokal, pemkab akan mengusung batik, kerajinan anyaman, kerang, dan makanan khas Pamekasan. Pada Expo Bali sebelumnya, Pamekasan dielu-elukan masyarakat yang menyaksikan expo ini. Termasuk, para wisatawan dari manca negara.

Saat ini, imbuhnya, expo lebih semarak karena bersamaan libur musim dingin di Eropa. Akibatnya, pada libur musim dingin tersebut, biasanya wisatawan berlibur termasuk ke Bali. Apalagi, pada saat yang sama ada lomba lari yang diikuti 15 ribu pelari dari dalam maupun luar negeri di dekat lokasi Expo Bali. “Makanya, kami upayakan tampil lebih optimal,” urainya.

Dia berharap, beberapa prestasi yang diraih Pamekasan baik bidang seni-budaya, pendidikan mapun lainnya, akan menarik perhatian publik. Setidak-tidaknya, akan memberi warna bagi kelangsungan pembangunan di Pamekasan.

Selain itu, katanya, terkait dengan pembangunan ini, pemkab dipercaya untuk menggelar bursa kerja yang memberi informasi seluas-luasnya kepada warga Pamekasan. Bahkan, warga tidak perlu datang ke luar Madura bahkan luar negeri untuk sekedar melamar menjadi calon pekerja profesional di lembaga yang memerlukan tenaga kerja. “Semua ini, karena komunikasi dan inovasi penyebaran informasi,” paparnya.

Ketua Komisi B Ismail A Rahim tidak menampik bahwa ada pemkab akan ambil bagian di Expo Bali 2006. Tim pemkab yang antara lain melibatkan komisi B, diharapkan Ismail ada titik balik. Yakni, keikutsertaan Pamekasan bukan hanya menjadi peserta. Melainkan, dapat mencuri perhatian publik agar tertarik berinvestasi di Pamekasan. Tujuannya, kata pria asal PPP ini. Ingin memajukan pembangunan Pamekasan. “Tak hanya seni-budaya, tetapi aspek yang lain juga,” katanya.

Menurut Ismail, pemkab sah-sah saja mengikuti kegiatan expo baik di Madura atau luar Madura. Tetapi, konsepnya harus jelas. Diantaranya, kata dia, tujuan dan inovasi apa yang akan diambil pasca keikutsertaan dalam expo.

Sekurang-kurangnya, ada pembelajaran setelah bersaing dengan daerah lain di acara yang sama. Namun, apabila ada yang menarik di satu wilayah dan belum dilaksanakan di Pamekasan, harus dilihat dulu kesesuaiannya. Alasannya, bisa jadi ada produk unggulan dan maju di daerah lain bisa tetapi bisa dilakukan di Pamekasan. “Kita tak harus meniru produknya, tapi spirit bagaimana daerah lain maju, itu harus,” pungkasnya dengan mimik serius. (abe)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 30 Agt 2006

Posted by: mcenter | July 14, 2007

Tembakau Campalok; Tembakau Madura yang Beraroma Khas


Harga Capai Rp 750 Ribu Per Kg, Diekspor ke Jerman
Tak ada yang meragukan mutu dan kualitas tembakau Madura. Selain aromanya yang khas, juga banyak disukai pabrikan. Namun, tak banyak masyarakat yang tahu keberadaan tembakau Campalok yang memiliki khas tinggi. Apa kelebihannya?

AKHMADI YASID, Sumenep

CERITA tembakau Campalok ibarat hikayat. Ia telah dikenal banyak warga, khususnya di Madura. Namun, tak banyak yang tahu apa dan bagaimana bentuk dan aromanya. Maklum, tembakau Campalok termasuk salah satu tembakau khas yang tiada duanya di Madura, bahkan mungkin di dunia.

Petani di Madura memang tak asing dengan tembakau Campalok. Meski tak semuanya mengerti keberadaan tembakau Campalok, namun mungkin pernah mendengar tentang tembakau kualitas sangat super itu. Itu karena tembakau Campalok telah melegenda.

Tembakau Campalok diambil dari istilah lokasi tempat penanamannya. Campalok merupakan salah satu lokasi pemakaman di Dusun Jambangan, Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep. Namun, sebagian warga sekitar ada yang menyebut Campalok sebagai daerah perbatasan. Sebab, tak jauh dari Campalok ada perbatasan Sumenep dan Pamekasan. Batasnya sangat tipis dibedakan oleh garis tanah.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, konon, di sekitar lahan Campalok menjadi peristirahatan Potre Koneng, seorang putri yang melegenda dari Keraton Sumenep. Campalok sendiri diambil dari nama pepohonan di sekitar tempat itu.

Suatu ketika, tanpa sengaja, bunga hias di rambut Potre Koneng jatuh di sekitar Campalok. Warga setempat meyakini, bunga itulah yang membuat lahan Campalok memiliki keistimewaan.

“Dari leluhur ceritanya begitu. Bunga yang dikenakan Potre Koneng jatuh di sini (Campalok, red). Kami yakin peristiwa itulah yang membawa berkah. Salah satunya yang terwujud pada tembakau di tempat ini,” ujar Sajai, 35, salah satu keluarga pewaris lahan Campalok.

Lahan Campalok sendiri berada di salah satu bukit di Dusun Jambangan. Bila dilihat selintas, sulit dipercaya di lahan Campalok memiliki keistimewaan. Menuju lahan Campalok membutuhkan waktu perjalanan kurang lebih 1 jam dari Kota Sumenep. Dari arah Kota Sumenep, menuju lahan Campalok harus melewati sedikitnya 4 kecamatan. Yakni, Kecamatan Batuan, Lenteng, Ganding, dan Guluk-Guluk. Diperkirakan, letaknya 55 km dari arah Kota Sumenep.

Setelah sampai di Desa Bakeong, harus melewati jalan sepanjang 5 km ke arah selatan. Perjalanan awal bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat dan roda dua sejauh kurang lebih 4 km. Namun, untuk mencapai puncak bukit harus ditempuh dengan jalan kaki sepanjang 1 kilometer.

Dari kejauhan, tak tampak jika di atas bukit banyak rumah penduduk. Sejauh mata memandang hanya terlihat areal tembakau dan beberapa rumah warga yang letaknya saling berjauhan. Tetapi, di puncak bukit, rumah penduduk semakin padat. Bahkan, tepat di atas bukit ada sekitar 5 rumah warga yang tak lain salah satunya kediaman Sajai. Lahan Campalok letaknya kurang lebih 100 meter dari arah rumah Sajai.

Ketika melihat lahan Campalok, siapa pun tak akan mengira lahan seluas 20×30 meter itu mempunyai keistimewaan. Lahannya tak jauh berbeda dengan yang lainnya. Begitu juga dengan tanaman tembakaunya. Sepintas, yang membedakan hanya pemandangan lahan yang dipisah kuburan. Di pinggirnya terdapat pohon Campalok yang sejak dulu ukurannya tidak mengalami perubahan.

Perbedaan lainnya, lahan Campalok terletak di puncak bukit. Bukitnya bukan sembarang bukit. Melainkan, bukit yang menjadi perbatasan Pamekasan-Sumenep. Namun, lahan Campalok masih masuk teritorial Sumenep.

Hal yang mulai tampak istimewa ketika mendekat ke pohon tembakau Campalok. Daunnya agak hijau kekuning-kuningan, dan aromanya sangat menyengat. Jika daun tembakau dipegang, terasa lengket di tangan. “Perawatan tembakau Campalok sama seperti tembakau lainnya. Ketika baru ditanam, harus disiram setiap hari. Setelah itu, penyiraman dilakukan 2 hari sekali. Begitupun pupuk yang digunakan, tidak jauh berbeda dengan tembakau lainnya,” jelas Sajai.

Menurut bapak 2 anak ini, aroma tembakau Campalok sangat khas, tiada duanya. Bahkan dipercaya, ketika tembakau biasa dicampur dengan sisa-sisa tembakau Campalok, kualitasnya akan jauh lebih bagus. “Tetapi, diyakini bukan karena tembakaunya. Melainkan, faktor tanah. Sebab, meski bibit tembakau diganti hasilnya tetap sama,” tuturnya.

Karena kepercayaan akan faktor tanah, setiap memasuki musim tanam tembakau, banyak warga dari berbagai daerah membawa tanah Campalok untuk ditabur di lahannya. Entah kebetulan atau tidak, kualitas tembakau ikut juga terangkat. “Kalau selain tembakau, hasilnya sama dengan di tempat lain. Di sini hanya khusus tembakau,” ungkap Sajai.

Selain aroma yang menyengat, keunggulan lain tembakau Campalok pada bobotnya yang relati lebih berat. Itu berakibat pada harga tembakau Campalok yang bisa 20 kali lipat dari tembakau lainnya. Jika tembakau gunung biasa harganya di kisaran tertinggi Rp 35 ribu per kg, tembakau Campalok bisa mencapai Rp 750 ribu per kg.

Untuk menjaga aroma, biasanya setelah kering, tembakau Campalok dibungkus dengan plastik. Berbeda halnya dengan tembakau biasa yang dibungkus dengan tikar. “Kalau penjualannya lebih mudah. Sebab, banyak pedagang khusus yang datang ke sini. Ada yang bilang sampai dijual ke Jerman oleh pedagang,” pungkas Sajai. (*/dari berbagai sumber)

Sumber: Jawapos, Selasa, 29 Agt 2006

Posted by: mcenter | July 14, 2007

Karapan Sapi, Madura

Karapan Sapi merupakan acara yang sangat populer dan diadakan 2 kali sebulan selama bulan September hingga Oktober. Acara ini dimulai pada pukul 09.00 WIB di Bangkalan, Sampang dan Pamekasan, Madura.
Karapan Sapi merupakan acara kebanggaan masyarakat Madura, terutama untuk kejuaraan tahunan yang biasanya diadakan oleh masyarakat lokal setelah musim panen di bulan September atau Oktober.
Babak final diselenggarakan di Pamekasan,Madura, sekali setahun.

Untuk informasi lanjut mengenai acara ini, hubungi Kantor Diparda Jawa Timur, Jl. Wisata Menanggal, Surabaya, dengan telepon: (031) 8531815, 8531820.

Posted by: mcenter | July 14, 2007

Mengenal manusia Madura

Berbicara tentang orang Madura sering kali kita langsung terbayang sosok orang yang  terstigmakan dengan hal-hal yang berbau kekerasan, angkuh, egois, mau menang sendiri, cepat tersinggung, penuh curiga, dan suka berkelahi (carok). Bahkan dianggap bersinonim dengan senjata tajam. Kemana mereka pergi bisa dipastikan membawa sada’ atau are’ (celurit), calo’ (parang berujung bengkok), baddhung (sejenis kapak besar) atau bahkan rajhang (linggis). Klise negatif itu selalu diidentikan hanya kepada manusia Madura dan sama sekali jarang dilekatkan pada suku-suku lain yang ada di nusantara ini.

Tak heran, satu dari tiga etnis terbesar (Jawa, Madura dan Sunda) di Indonesia ini sangat unik untuk kemudian kita amati dan pahami bersama. Selain itu, suku di suatu pulau di Jawa ini memang cukup populer bahkan telah “menguasai” tidak hanya di Indonesia tetapi juga hampir di seluruh penjuru dunia berkat dunia pelancongannya.

Di tengah keseharian dewasa ini, orang Madura selalu “ada” di sekeliling kita. Dengan berbagai keunikan dan ditambah lagi bahasanya yang terkesan “aneh” ditelinga orang non-Madura menjadikannya selalu hangat untuk diperbincangkan. Lelucon pun banyak diilhami dari tingkah laku dan bahasa orang Madura ini. Dibenci sekaligus disenangi. Mungkin itulah kesimpulan sederhana tentang manusia Madura.

Menilai manusia Madura memang butuh banyak perspektif untuk menghasilkan sebuah pemahaman yang benar akan siapa sejatinya manusia Madura. Sejauh ini telah banyak penelitian-penelitian yang menjadikan orang Madura sebagai obyeknya. Banyak doktor dan profesor yang terlahir dari berbagai aspek kepribadian, etos kerja, kecerdasan, pendidikan, sikap keberagamaan, dan cara bergaul manusia Madura yang menjadi bahan tesis dan disertasinya. Terlepas dari ini semua, perlu kejelian dan kearifan dalam berfikir untuk dapat mengenal sosok manusia Madura seutuhnya.

Emha Ainun Nadjib sempat mengungkapkan bahwa manusia Madura merupakan the most favorable people, yang watak dan kepribadiannya patut dipuji dan dikagumi dengan setulus hati. Belum lagi dari aspek cara berbicaranya, peribahasanya yang menggambarkan prinsip hidupnya, kegemarannya bermigrasi ke berbagai pelosok negeri dan lain-lain. Sebab, tidak ada kelompok masyarakat di muka bumi ini yang dalam menjaga perilaku dan moral hidupnya begitu berhati-hati seperti diperlihatkan oleh orang Madura.

Buku yang berjudul Manusia Madura, Pembawaan, Perilaku, Etos kerja, Penampilan, dan Pandangan Hidupnya seperti Dicitrakan Peribahasanya ini ditulis Prof. Mien A. Rifai, B.Sc., M.Sc., Ph.D. Peneliti senior di LIPI yang juga berdarah asli Madura. Pria kelahiran Sumenep, Madura, Jawa Timur, ini tak lupa akan akarnya. Melalui buku ini beliau mencoba mengupas seluk-beluk sebenarnya akan kehidupan (dirinya) manusia Madura. Mengupas secara verbal siapa sebenarnya mereka yang selama ini banyak distigmakan negatif.

Dalam buku ini, penulis mengungkapkan bahwa sejarah telah membuktikan kelompok etnis Madura adalah termasuk salah satu suku bangsa Indonesia yang tahan bantingan zaman. Terbukti dari kemampuannya beradaptasi dan sikap toleransi yang tinggi terhadap perubahan, keuletan kerja tak tertandingi, dan keteguhan berpegang pada asas falsafah hidup yang diyakininya. Walaupun diberikan dengan nada sinis, selanjutnya diakui pula bahwa orang Madura memiliki keberanian, kepetualangan, kelurusan, kesetiaan, kerajinan, kehematan (yang terkadang mengarah ke kepelitan), keceriaan dan rasa humor yang khas.

Akan tetapi ditambahkan juga bahwa sekalipun memiliki jiwa wirausaha, mereka jarang mau mengambil risiko tinggi, sehingga sedikit pengusaha Madura yang terdengar jatuh pailit namun kecil pula kemungkinan bagi mereka untuk tumbuh besar sampai menjadi konglomerat. Rata-rata orang Madura lalu dianggap tidak berjiwa pioner yang mau maju di garis terdepan yang belum dirambah orang, sebab mereka sangat percaya pada kemapanan tatanan yang tertib dan teratur rapi.

Dari sinilah penulis menyimpulkan, sebagai akibat stereotipe yang serba bertentangan tersebut, lalu timbul anggapan bahwa orang Madura tidak mau berprakarsa, berjiwa statis, dan menolak dibawa maju, apalagi berindustri yang sarat pengetahuan, ilmu, dan teknologi, serta rekayasa. Sebagai bukti ditunjukkan bahwa dari dulu penampilan wanda atau fisiognomi pulau Madura tetap saja seperti sekarang. Sangat terbelakang bila dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Timur yang tampak semakin berkembang sesuai dengan kemajuan zaman.

Di luar itu semua, buku yang ditulis oleh orang asli Madura ini cukup untuk dapat dijadikan cermin. Mengupas mulai dari bagaimana potret manusia Madura hingga peribahasa Madura itu sendiri. Tentunya menjadi acuan bagi siapapun yang tertarik akan seluk-beluk orang Madura. Memahami perilaku, stereotipe, karekteristiknya, juga sisi sosial, ekonomi dan politiknya. Bahkan dapat dijadikan sumber dalam memahami sejarah pulau di sebelah timur kota Surabaya itu. Selain itu, buku ini setidaknya telah melengkapi seri buku yang telah terbit sebelumnya, seperti buku Manusia Indonesia, Manusia Jawa dan Manusia Sunda.

Posted by: mcenter | July 14, 2007

Busana Tradisional Madura

Meskipun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa, kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. Oleh karena kebudayaan Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa, maka jenis dan bentuk busananya pun memiliki beberapa kesamaan dengan busana dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa. Secara umum masyarakat sukubangsa Madura mengenal perbedaan busana berdasarkan usia, jenis kelamin, status sosial maupun kegunaannya, baik sebagai busana sehari-hari maupun untuk keperluan upacara.

Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura, yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam, di dalamnya, lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. Sebenarnya, pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan, baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa, terutama kaos bergaris yang digunakan.

Dalam penggunaannya, baju pesa`an, celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. Kalangan pedagang kecil, seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih, dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa. Sebaliknya para nelayan, umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong.

Jaman dahulu, masyarakat mengenal baju pesa`an dalam dua warna, yaitu hitam dan putih. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang. Pada masa sekarang, baju pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. Warna hitam ini melambangkan keberanian. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. Garis-garis tegas merah, putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat, dalam menghadapi segala hal.

Bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya, teguh dan keras. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang, ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai.

Berbeda dengan rakyat kebanyakan, kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah, secara umum sebagaimana busana Solo dan Yogya. Perbedaannya adalah pada odheng, tutup kepala yang dikenakan. Untuk sehari-hari odheng yang digunakan adalah odheng peredhan dengan motif storjan, bera` songay atau toh biru. Perlengkapan busana seperti sap osap (sapu tangan), jam saku, jepit kain, stagen, sabuk katemang, dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin geleng akar (gelang dari akar bahar). Arloji rantai acap digunakan. Sebum dhungket atau tongkat, termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa.

Pada saat menghadiri acara resmi, rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota, bermotif modang, dulcendul, garik atau jingga. Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks, baik dari ukuran, motif maupun cara pemakaian. Ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala, sehingga membuat si pemakai harus sedikit mendongak ke atas agar odheng tetap dapat bertengger di atas kepalanya, mengandung makna “betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapangan dada”.

Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. Semakin tegak kelopak odheng tongkosan, semakin tinggi dewajat kebangsawananan. Semakin miring kelopaknya, maka derajat kebangsawanan semakin rendah. Untuk orang yang sudah sepuh (tua), sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda. Ikatan odheng juga memiliki arti tertentu. Pada odheng peredhan, pelintiran ujung simpul bagian belakang yang tegak lurus melambangkan huruf alif, yaitu huruf awal dalam bahasa Arab. Sementara itu, pada odheng tongkosan kota, simpul mati di bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif, yang merupakan simbol dari kalimat pengakuan akan keesaan Allah (Laa illaahaillallaah).

Kaum wanita Madura umumnya mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan. Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah, hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang atau menerawang. Kutang ini ukurannya ketat pas badan. Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek dan ada pula yang sampai perut.

Keindahan lekuk tubuh si pemakai akan tampak jelas dengan bentuk kebaya rancongan dengan kutang pas badan ini. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura, yang sangat menghargai keindahan tubuh. Ramuan jamu-jamu Madura diberikan semenjak seorang gadis cilik hendak berangkat remaja. Demikian pula berbagai pantangan makanan yang tidak boleh dilanggar, serta pemakaian penggel. Semuanya dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang indah dan padat.

Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak, pemberani, serta bersifat terbuka dan terus terang. Oleh karenaitu mereka tidak mengenal warna-warna lembut. Termasuk dalam memilih warna pakaian maupun aksesoris lainnya.

Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura, umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal, namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan, storjan atau lasem. Warna dasarnya putih dengan motif didominasi warna merah. Untuk penguat kain digunakan odhet. Odhet adalah semacam stagen Jawa, terbuat dari tenunan bermotif polos, dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1,5 meter. Warna biasanya merah, kuning atau hitam. Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan, yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit.

Perhiasan yang dikenakan oleh wanita Madura, mulai dari kepala sampai kaki, juga memiliki daya tarik yang unik. Sebagaimana senjata bagi laki-laki Madura, perhiasanpun menjadi pelengkap yang utama bagi busana kaum wanitanya. Hiasan rambut berupa cucuk sisir dan cucuk dinar, keduanya terbuat dari emas. Bentuknya seperti busur. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai. Adapun cucuk dinar, terdiri dari beberapa keping mata uang dollar. Rambut wanita Madura itu sendiri, biasanya disisir ke belakang, kemudian digelung sendhal. Bentuknya agak bulat dan penuh, padat dengan kuncir sisa rambut yang terletak tepat di tengah-tengah rambut. Letak sanggul umumnya agak tinggi. Sementara di daerah Madura Timur, bentuknya agak lonjong dan pipih letaknyapun miring. Hampir sama dengan gelung wanita Bali. Harnal bubut dari emas, bermata selong dengan panjang sekitaar 12 cm berukuran agak lebih besar dari harnal pada umumnya juga dipakai untuk menghiasi rambut. Sebuah tutup kepala, yang terbuat dari handul besar atau kain tebal disebut leng o leng, menjadi ciri tersendiri pada kelengkapan wanita Madura. Perhiasan lain yang umumnya dikenakan sebagai kelengkapan busana adalah anteng atau shentar penthol yang terbuat dari emas, bermotif polos dengan berbentuk bulat utuh sebesar biji jagung. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga.

Motif hiasan kalung Madurapun terkenal karena ciri khasnya. Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar (dinar) atau bunga matahari. Selain itu masih ada motif pale obi yang menyerupai batang ubi melintir, serta motif mon temon berupa untaian emas berbentuk biji mentimun. Berat kalung itu rata-rata 5-10 gram, namun adapula yang mencapai 100 gram, bahkan lebih. Tergantung kemampuan si pemakai. Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri dengan motif tebu saeres. berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. Sementara sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang dikenakan sebagai hiasan jari.

Sebagai pelengkap kebaya rancongan, digunakan peniti dinar renteng, terbuat dari emas dan bermotif polos. Semakin banyak jumlah dinarnya, semakin panjang untaiannya berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi pemakainya.

Dari seluruh jenis perhiasan yang biasa dikenakan wanita Madura, penggel adalah salah satu yang paling unik. Penggel merupakan hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kiri dan kanan. Penggel adalah simbol kebanggaan wanita Madura. Selain fungsi ekonomi yang juga dapat menunjukkan status ekonomi si pemakai, penggel juga berfungsi untuk membentuk keindahan tubuh wanita Madura. Gelang kaki yang terbuat dari emas atau perak, dengan berat perak ada yang mencapai 3 kg, aapabila digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tentunya akan menguatkan otot-otot tertentu.

Berbeda dengan yang dikenakan rakyat kebanyakan, wanita bangsawan tidak menonjolkan kekayaannya melalui bentukbentuk perhiasan yang menyolok dan cenderung berat. Bentuk perhiasan yang digunakan untuk rambut, telinga, leher, tangan dan kaki umumnya kecil. Namun, lebih banyak dihiasi intan atau berlian.

Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mengenakan kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. Alas kakinya berupa selop tutup. Bahan kebaya biasanya beludru. Warna gelap dan tidak bermotif. Ujung bawah kebaya berbentuk bulat. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas.

Rambut wanita muda digelung malang. Bentuknya seperti angka delapan melintang yang melambangkan tulisan Allah. di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat, digunakan gelung mager sereh. Bentuknya sama dengan gelung malang, tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari, dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek, yaitu hiasan dari bunga-bungaan.

Giwang kerambu dan kalung rantai berliontin markis yang terbuat dari emas bertaburan berlian juga dikenakan. Demikian pula gelang tangan dan hiasan jari berupa cincin emas bermata berlian.

Selain busana dan perhiasan khas wanita Madura, baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa, tatarias wajah wanita Madura pun cukup unik. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan, kiri atau dahi. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. Dahulu leng pelengan dibuat dengan cubitan tangan. Saat ini, kebanyakan berupan olesan alat kosmetik berupa garis membujur sekitar 1-2 cm dan berwarna merah. Mata dihiasi dengan celak Arab, sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan, berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina

Posted by: mcenter | July 14, 2007

Sate Madura

ate Madura adalah sate khas Madura. Sate Madura biasanya terbuat dari ayam. Madura selain terkenal sebagai pulau garam, juga terkenal dengan satenya. Sate madura sudah terkenal di seluruh Nusantara, Sate Madura dapat ditemukan hampir di semua daerah khususnya di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Konon di Madura sendiri sate susah dicari. Tetapi selain ayam sebagai bahan utama sate juga ada yang menggunakan kambing yang ditandai dengan digantungnya bagian kaki belakang si kambing di rombong sang penjual sate. Bumbunya adalah campuran kacang yang ditumbuk halus petis dan sedikit bawang merah. Memanggangnya dengan api dari batok kelapa yang dihanguskan lebih dulu yang disebut dengan arang batok kelapa. Rasanya gurih tapi dipantangkan kepada mereka yang berkolesterol tinggi dan yang pengidap asam urat akut.

Posted by: mcenter | July 14, 2007

Suku Madura

Suku Madura di Indonesia jumlahnya kira-kira ada 10 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Pulau Sapudi, Pulau Raas dan Kangean. Selain itu, orang Madura tinggal di bagian timur Jawa Timur, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo jumlahnya paling banyak, dan jarang yang bisa berbahasa Jawa.

Suku Madura juga banyak dijumpai di provinsi lain seperti Kalimantan, di tempat huruhara di Sampit dan Sambas. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang dan dominan di pasar-pasar. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan, buruh, pengumpul besi tua dan barang-barang rongsokan lainnya.

Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang keras dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin dan rajin bekerja. Untuk naik haji, orang Madura sekalipun miskin pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan Larung Sesaji).

Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa “Lebbi Bagus Pote Tollang, atembang Pote Mata”. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Tradisi carok juga berasal dari sifat itu.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.