Posted by: mcenter | July 14, 2007

Karena Cabe, Desa Bukek ke Nasional


Pamekasan – Surabaya Post

Kelompok Tani Mawar Desa Bukek Kecamatan Tlanakan terpilih sebagai wakil Jatim dalam pemilihan kelompok tani berprestasi tingkat nasional, untuk bidang agribisnis tanaman pangan dan holtikultura cabe merah. Sabtu (16/09) ini tim juri nasional datang ke desa itu.

Menyambut tim, suasana desa jadi meriah, seperti di Dusun Utara Desa Bukek sepanjang jalan berhias umbul-umbul berwarna warni. Di sudut kampung juga dipasang terop.

Ir HM Rajini M.Si, Ka Subdin Usaha Tani mendampingi Ka Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan Ir Ice Widarti M.Si, mengatakan di Jatim ada tiga desa yang menjadi wakil Jatim dalam pemilihan kelompok tani berprestasi tingkat nasional dengan bidang usaha yang berbeda. Kebetualan, kata dia, kelompok tani Mawar mewakili untuk lomba bidang pengembangan cabe merah. Dua kelompok tani lainnya berasal dari kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Kediri.

Dikatakan, pengembangan cabe merah sebenarnya bukan hanya terdapat di desa Bukek Pamekasan, namun di desa-desa di kabupaten lain juga memiliki usaha yang sama. Namun khusus pengembangan di desa Bukek utamanya yang dilakukan oleh Kelompok Tani Mawar memiliki keunggulan dibandingkan dengan pengembangan cabe merah di daerah lainnya.

“Karena kelebihan itulah, maka akhirnya tim penilai lomba tingkat Jatim memilih Kelompok Tani Mawar desa Bukek ini menjadi juara pertama dan menjadi wakil Jatim dalam pemilihan tingkat nasional,” terangnya. Di antara kelebihan pengembangan cabe merah Bukek adalah kegigihan petani dalam mengembangkan usahanya, kemudian juga kelebihan dari aspek administrasi kelompok usaha, dan kepedulian Pemerintah Kabupaten.
Dikatakan, dibandingkan dengan daerah lain, break even point (BIP) biaya yang dipakai untuk pengembangan cabe merah di daerah lain mencapai Rp 3 ribu/kilogram cabe merah basah. Sementara di Kelompok Tani Mawar Bukek, BIP hanya Rp 1.500/kilogram. Artinya, kalau di daerah lain cabe merah dijual dengan harga Rp 3 ribu/kilogram masih rugi, namun di Pamekasan dijual dengan harga Rp 2 ribu/kilogram sudah untung.

Menurut Rajini, kelebihan ini diperoleh karena petani di desa Bukek menanam cabe merah dengan sistem tumpang gilir dengan tanaman jagung atau tembakau. Artinya, ketika tanaman jagung atau tembakau mulai panen, maka cabe merah mulai ditanam di atas bedengan, atau di gundukan tanah tempat ditanamnya tembakau. (mas)

Sumber: Surabaya Post, 16/09/06


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: