Posted by: mcenter | July 14, 2007

Membangun Sukma Madura


Catatan dari Kongres Kebudayaan Madura
Oleh: ALEX MARTEN
Upaya orang-orang Madura menghapus stereotipe negatif yang sudah terlanjur melekat di benak banyak orang, seperti berjuang dalam sepi karena rendahnya dukungan masyarakat pendukungnya.


Suatu senja jelang pertengahan Maret 2007 di kota Sumenep, Madura. Tanah lapang berlapis rumput nan hijau yang cukup terrawat di halaman Hotel Utami basah kuyup. Genangan air hujan masih membekas. Sepasang penari berparas cantik berarak menuju panggung dengan kaki berjinjit. Tungkal mulus para penari kecipratan lumpur. Namun, mereka harus melupakannya karena hentakan musik sronen dari grup Kabut Hitam asal Pamekasan langsung mengajak mereka membawakan Ul Daul.

Tarian tersebut sekaligus menjadi pembuka Kongres Kebudayaan Madura (KKM) pertama yang berlangsung di kota Sumenep, 09-11 Maret 2007 lalu.

Kebudayaan Madura, sebagaimana kebudayaan masyarakat lainnya di Indonesia, unik. Kongres ini menampilkan beragam kekayaan kultural masyarakat Madura dari empat kabupaten, yaitu Sampang, Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep. Mien A. Rifai mencatat beragam kekhasan kultural mau pun karakteristik manusia Madura. Etnis Madura, kata ilmuwan LIPI ini, termasuk suku bangsa yang tahan banting.

Mereka mampu beradaptasi dan memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan. Orang-orang Madura dikenal ulet. Riset majalah Tempo pada tahun 1980-an pernah menempatkan suku Madura dalam lima besar suku yang paling sukses di Indonesia.

Orang-orang Madura di tanah rantau adalah saksi hidup dari semangat itu. Mereka berani melakukan pekerjaan apa saja demi hidup. Namun, dibalik kegigihan itu, masyarakat dari pulau garam ini memiliki rasa humor yang khas.

Karakter lain yang lekat dalam diri orang-orang Madura adalah perilaku yang selalu apa adanya dalam bertindak. Suara yang tegas dan ucapan yang jujur kiranya merupakan salah satu bentuk keseharian yang bisa kita rasakan jika berkumpul dengan orang Madura.

Sosok yang berpendirian teguh merupakan bentuk lain dari kepribadian umum yang dimiliki suku Madura. Mereka sangat berpegang pada falsafah yang diyakininya. Apa pun mereka lakukan untuk mempertahankan harga diri.

Masyarakat Madura sangat taat beragama. Selain ikatan kekerabatan, agama menjadi unsur penting sebagai penanda identitas etnik suku ini. Bagi orang Madura, agama Islam seakan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari jati dirinya. Akibatnya, jika ada warga Madura yang memeluk agama lain selain Islam, identitas kemaduraannya bisa hilang sama sekali. Lingkungan sosialnya ‘akan menolak’, dan orang yang bersangkutan bisa terasing dari akar Maduranya.

Hebatnya, meminjam ungkapan MH Said Abdullah, pendiri Said Abdullah Institute (SAI) yang juga menjadi sponsor acara Kongres Kebudayaan Madura ini, di luar urusan perkawinan, masyarakat Madura sangat terbuka dan menghargai perbedaan identitas keagamaan. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk menjalin kerja sama dengan orang lain.

“Tidak pernah ada pembakaran tempat ibadah di Madura hanya karena perbedaan keyakinan agama, kecuali karena konflik politik,” ujar tokoh Madura asal Sumenep ini.

Korban Stigmatisasi

Namun di luar nilai-nilai positif yang konstruktif tersebut – mengutip pidato kebudayaan Said Abdullah – terdapat sebuah stigma yang mendera suku Madura sejak lama.

“Terdapat sebuah stigma sosial yang sudah lama dipergunakan ‘orang luar’ untuk mengidentifikasi masyarakat Madura hingga kini, yaitu keterbelakangan dan kekerasan. Dua label yang belum tentu benar itu selalu muncul ketika orang-orang berbicara tentang Madura dan masyarakatnya,” kata Said yang juga penulis buku ‘Membangun Masyarakat Multikultural’ ini.

Kekasaran seakan-akan menjadi atribut yang melekat dalam jati diri masyarakat Madura. Banyak orang mencitrakan masyarakat dan kebudayaan Madura dengan sikap serba sangar, mudah menggunakan senjata dalam penyelesaian masalah, pendendam dan tidak mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Masyarakat Madura pada dasarnya adalah orang berwatak keras dan bertemperamen tinggi.

Tanpa bermaksud membenar pencitraan itu, sejarawan Kuntowijoyo coba mengaitkannya dengan kondisi alam. Alam Madura memang kurang subur, relatif kering dan gersang. Kondisi ini memaksa masyarakatnya bekerja keras.

Para petani harus berjuang keras untuk mempertahankan hidup. Bahkan demi sejengkal tanah, mereka rela meregang nyawa. Maklum, tanah adalah darah dagingnya petani.

Para nelayan juga harus berani melawan derasnya ombak di lautan. Kondisi tersebut menjadi faktor penyebab mengapa laju pembangunan di sini relatif tertinggal dibandingkan daerah lain, khususnya di wilayah Jawa Timur, dan mendorong sebagian besar warga Madura bermigrasi ke daerah lain sejak puluhan tahun silam.

Ada yang mengaitkan citra kekasaran masyarakat Madura dengan pengalaman masa lalu. Di masa kapitalisme kolonial, masyarakat Madura mengalami proses eksploatasi dan dan dehumanisasi. Perlakuan itu melahirkan perilaku kriminal di tengah masyarakat.

“Ketika itu kewibawaan penguasa menurun, kepercayaan kepada pemegang hukum adat hilang, sehingga muncul berbagai ketidakpastian yang selanjutnya menyebabkan maraknya tindakan sewenang-wenang di masyarakat,” tulis sosiolog asal Universita Nijmegen (Belanda) Dr Huub de Jonge yang juga menjadi salah satu pembicara dalam acara kongres ini.

Menurut Huub, kekerasan itu mulai tumbuh sekitar awal abad 19 ketika kaum nningrat dan penguasa dalam kehidupan konsumerisme yang segala pembiayaannya ditanggung rakyat.

Mengutip laporan Brest van Kempen, seorang pejabat pemerintahan kolonial di Bangkalan, Huub menyebut antara tahun 1847-1849 setiap hari terjadi pembunuhan dan mayat-mayat korban selalu dibuang di alun-alun kota. Angka kejahatan terus meningkat dibanding masa-masa sebelumnya.

Kondisi tersebut memicu pengungsian ribuan warga Madura atau menyeberang ke Jawa pada pertengahan abad 19. Mereka ingin menghindari segala bentuk penekanan, penindasan, dan pemerasan. Untuk berjaga-jaga, mereka selalu membawa pisau – satu kebiasaan yang masih bisa ditemukan hingga saat ini.

Sejak itu, orang Madura dan pisau adalah satu, mengutip sebuah artikel di Java Post terbitan Belanda 1922. Jika orang Madura dipermmalukan, dia akan menghunus pisaunya dan seketika itu pula akan menuntut balas atau menunggu kesempatan lain untuk melakukannya.

Meskipun sulit dibantah bahwa kekerasan telah menjadi bagian dari kehidupan orang Madura masa lalu, Edhi Setiawan – salah seorang pemakalah dalam kongres kebudayaan yang disponsori Said Abdullah Institute ini – menampik jika masyarakat Madura diidentikkan dengan kekerasan. Sepanjang perjalanan sejarah suku Madura, kata dia, amat sulit ditemui data-data mengenai tindakan-tidakan seperti perkelahian antar desa/kampung, kekerasan berbau SARA, dan sebagainya terjadi di Madura. Jenis pekerjaan seperti mengkondisikan mereka mengkondisikan mereka bersikap tegas, berani, dan terkadang berlaku kasar agar tetap eksis. Dalam kasus-kasus tertentu, temperamen orang-orang Madura yang ’serba keras’ itu dimanfatkan segelintir orang untuk menekan lawan (premanisme) dalam menyelesaikan masalah.

Kajian yang Jarang

Sayangnya, lanjut Edhi Setiawan, amat jarang kajian akademis mengenai masyarakat Madura di tempat leluhurnya dibandingkan penelitian tentang orang Madura di seberang lautan. Persoalan serupa diakui Dr Huub de Jonge, seorang peneliti Madura dari Universitas Nijmegen (Belanda). Kajian tentang orang-orang Madura di perantauan lebih banyak terkait dengan kekerasan. Padahal di pulau Madura sendiri terdapat hal positif, baik tata nilai, agama, maupun karya-karya seni seperti seni tari, ukiran, musik dan sebagainya. Bahkan, mengutip seorang peneliti luar, Mien A. Rifai mengatakan Madura bukan pulau melainkan benua. Madura memang kecil, tetapi unsur-unsur kebudayaannya sangat kaya.

Mungkin karena kuatnya pencitraan negatif tersebut, sebagian orang-orang Madura di perantauan, terutama kaum terpelajar, merasa malu menunjukkan jati dirinya sebagai orang Madura.

Kebudayaan Madura menghadapi tantangan dahsyat dewasa ini. Tantangan paling utama adalah bagaimana menghapus stereotipe negatif yang sudah terlanjur lengket di benak banyak orang tentang masyarakat Madura yang keras.

Huub de Jonge menyarankan anak-anak kandung Madura sendiri yang memprakarsainya. “Masyarakat Madura seharusnya jangan menanamkan pada diri sendiri sebagai orang keras. Kalau mereka menganggap dirinya keras, orang-orang lain akan melihatnya dan mempercayainya. Sama seperti orang yang setiap hari merasa dirinya bodoh, orang lain pun akan menilainya bodoh. Orang Madura harus berhenti menganggap dirinya orang keras.”

Tentu ada orang Madura yang kasar dan keras. Orang seperti itu ada di mana-mana. Mereka tidak mengenal suku, etnis, dan agama. Di sisi lain, penyair Zawawi Imron dan Said Abdullah mengingatkan bahaya dari derasnya arus globalisasi terhadap eksistensi kebudayaan Madura. Bayangkan, dari sekitar 13,5 juta warga Madura saat ini, hanya 3 juta yang tinggal di pulau garam ini, selebihnya mengadu nasib ditanah rantau. (*)

Sumber: Surabaya Post, 18/03/07


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: