Posted by: mcenter | July 14, 2007

Ojung dari Madura Terancam Punah

 



Sumenep, Rabu
Seni adu ketangkasan dan kekebalan khas Madura, ojung, yang dimainkan satu lawan satu dengan menggunakan alat pemukul dari rotan sepanjang 1,5 meter, terancam punah. Atas dasar itu, sebuah stasiun radio dengan siaran-siaran bernuansa Madura di Sumenep menggelar pertunjukan seni tersebut pada Rabu ini (14/6).

Untuk menampilkan ojung sebagai tontonan umum di Lapangan Kecamatan Gapura, Sumenep, pihak stasiun radio itu mengalami kesulitan dalam mendapatkan para pemain ojung di Kabupaten Sumenep.

Menurut dra Juli Rumiana, Direktris PT Radio Pesona Wisatama Sumenep, stasiun radio dimaksud, di wilayah tersebut kini hanya ada dua kelompok pemain, yaitu di Kecamatan Batuputih dan Kecamatan Batang-batang, Sumenep utara. Para pemain ojung haruslah orang-orang yang tangguh, termasuk dalam menahan rasa sakit akibat pukulan rotan.

Pengatur pelaksanaan ojung itu memberi waktu 30 menit untuk para pemain saling menundukkan lawan. Ketika digelar, ojung membuat merinding para penonton. Maklum, alat pukul rotan itu bisa membuat pemain yang belum kebal dan tangkas mengalami lecet dan memar pada tubuh bagian belakang.

Meskipun tak ada juri dalam pertandingan tersebut, pemain yang lebih banyak terkena pukulan rotan dianggap kalah oleh para penonton. Ada pemain yang sampai roboh karena tidak kuat menahan pukulan lawan.

“Sepintas, sangat mengerikan. Tapi, para pemain yang tidak luka dan lebih sedikit terkena pukulan rotan lawan menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga mereka,” ujar Juli. Lanjut Juli, hubungan antarpemain tetap baik di luar pertandingan.

Ojung digelar dengan iringan permainan alat-alat musik tradisional Madura seperti tong-tong, seruling, dan gendang kecil. Musik tersebut disajikan oleh 12 orang. Tepuk tangan dan seruan penyemangat dari para penonton pun memeriahkan suasana.

Salah satu tokoh ojung, Madra’e, mengatakan bahwa seni itu lahir di zaman emas Kerajaan Sumenep (Soengenep).

“Tempo dulu, pria yang ingin menyunting wanita, salah satu persyaratannya adalah memiliki kemampuan olah tanding dan kekebalan. Ini dimaksudkan, supaya sang calon istri merasa aman dari gangguan penjahat dengan memiliki suami seperti itu,” ucapnya.

Kata Madra’e lagi, dalam perkembangannya ojung sampai ke pelosok-pelosok Sumenep. Pada 1980-an pun masih mudah didapati pertunjukan ojung. Namun demikian, kemudian, dengan semakin sedikitnya orang di sana yang mendalami ilmu kekebalan, ojung kian tak terdengar.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sumenep Edi Mustika mengatakan, ojung sangat sulit untuk dikembangkan lagi. Walaupun begitu, sambung Edi, ojung perlu dipertahankan. “Minimal kita pertahankan tetap ada ojung Madura, yakni dengan cara sesering mungkin menggelar pertunjukannya, ujarnya.

Sumber: Antara
Penulis: Ati Kamil


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: