Posted by: mcenter | July 14, 2007

PAKET TEKNOLOGI PENGELOLAAN TEMBAKAU MADURA RENDAH NIKOTIN

 


Ditulis oleh Mas Koko
Wednesday, 30 May 2007

 

 

Paket Teknologi Pengelolaan Tembakau Madura Rendah Nikotin
Q. Dadang Ernawanto1), G. Kartono 1), Suwarso 2), dan Moerdijati 2)
1)
Peneliti BPTP Jawa Timur, 2) Peneliti Balittas

 

PENDAHULUAN

 

            Dalam racikan rokok keretek, bahan baku utamanya adalah tembakau Temanggung dan Madura. Kadar nikotin tembakau Temanggung sangat tinggi terutama yang mutunya tinggi antara 4 – 8 %.  Dengan adanya tren produksi rokok kretek di Indonesia yang mengarah ke rokok yang lebih ringan (Anonim, 2002), maka kebutuhan tembakau Madura meningkat, sebaliknya tembakau Temanggung menurun. Pada waktu dulu menurut GAPPRI (1991) perkiraan penggunaan tembakau Madura untuk bahan baku rokok keretek antara 14 – 22 % (rata-rata 18%), dan tembakau Temanggung 14 – 26 % (rata-rata 20%),  saat ini menurut beberapa pabrik rokok keretek penggunaan tembakau Madura meningkat antara 25 – 30 %.   Hal ini juga terlihat dari perkembangan areal yang sangat pesat, sebelum tahun 1990 masih sekitar 30.000 – 40.000 ha, kemudian terus meningkat sehingga beberapa tahun terakhir mencapai 60.000 – 70.000 ha.  Hal tersebut diikuti pula dengan meningkatnya harga tembakau Madura. Kontribusi dari usahatani tembakau Madura terhadap total pendapatan keluarga petani berkisar 60 – 80 %.  Tembakau Madura mempunyai karakter yang spesifik, antara lain kadar nikotin sedang, kadar gula tinggi dan  aromatis yang khas sehingga tembakau ini berfungsi sebagai pemberi aroma dan rasa dalam racikan rokok keretek.

 

Tembakau Madura selama ini sangat variatif sekali, baik produktivitas maupun mutunya sehingga berpengaruh terhadap pemasaran yang pada akhirnya akan menurunkan pendapatan petani.  Pada tahun 2004 Balittas Malang telah melakukan sosialisasi tembakau Madura rendah nikotin (varietas Prancak N1) yang memiliki mutu yang baik (kadar nikotin rendah, kadar gula tinggi dan  aromatis) dan diminati oleh pasar (PR. Gudang Garam dan PR. Sampoerna).

PERMASALAHAN

 

            Permasalahan umum yang dihadapi komoditas tembakau terutama tembakau lokal dan industri rokok keretek adalah kampanye anti rokok yang dipelopori WHO (World Health Organization) sejak tahun 1974.  Pemerintah telah menerbitkan PP 38/2000, antara lain menetapkan pembatasan kadar nikotin dan tar (dalam asap) maksimum 1,5 dan 20 mg per batang rokok.

 

PP tersebut berdampak cukup besar, antara lain penurunan produksi rokok keretek dan harga tembakau lokal, sehingga akhirnya diperbarui dengan PP 19/2003 yang mencabut ketetapan kadar nikotin dan tar tersebut, tetapi setiap bungkus rokok tetap wajib mencantumkan kadar tar dan nikotin yang terkandung serta peringatan bahaya merokok bagi kesehatan.  Selain itu Departemen Pertanian wajib mencari tembakau dengan resiko kesehatan seminimal mungkin, di antaranya kadar nikotin dari tembakau cukup rendah.

 

            Upaya Balittas untuk menurunkan kadar nikotin tembakau lokal dimulai tahun 1993.  Tembakau Madura Prancak-95 disilangkan dengan beberapa varietas tembakau Oriental (Turki) yang berkadar nikotin < 1 %.  Hasil persilangan diseleksi untuk mendapatkan galur yang berkadar nikotin lebih rendah dari Prancak-95 dengan bentuk morfologi mirip Prancak-95 dan mewarisi sifat ketahanan terhadap penyakit lanas (Phytophthora nicotianae) dari Prancak-95.  Dari 10 galur yang diuji multilokasi terpilih galur 93/2 dan 90/1 yang kemudian dilepas pada bulan Mei 2004 sebagai Prancak N-1 dan Prancak N-2.  Keragaan Prancak N-1 dan Prancak N-2 dan Prancak-95 disajikan pada Tabel 1.

 

Tabel 1. Potensi hasil, mutu dan kadar nikotin varietas Prancak N-1 dan Prancak N-2

 

Varietas

Potensi hasil

(ton/ha)

Indeks mutu

Indeks

tanaman

Kadar nikotin

( % )

Prancak N-1

Prancak N-2

Prancak 95

(Pembanding)

0,9

0,8

0,8

62,45

68,52

57,12

60,07

56,07

45,22

1,76

2,00

2,31

 

Sumber : Moerdijati et al., 2004;  Suwarso et al., 2004.

 

            Kedua varietas baru ini telah disosialisasikan oleh Balittas kepada petani di Kabupaten Pamekasan dan Sumenep pada tahun 2004, seluas 50 ha.  Secara umum varietas tersebut dapat diterima oleh petani maupun gudang pabrik rokok besar.  Harga tembakau tersebut sampai tanggal 10 Agustus 2004 berkisar antara Rp. 16.000 – Rp. 24.000 per kg.  Kisaran harga yang cukup besar tersebut dikarenakan variasi  hasil dan mutu di tingkat petani yang disebabkan oleh variasi cara budidaya.  Dari pertemuan sosialisasi tersebut diperoleh informasi sebagai umpan balik sebagai berikut :

 

·         Saat tanam paling tepat tembakau Madura adalah pada awal – pertengahan Mei, agar panen dilakukan pada awal sampai pertengahan Agustus di mana gudang pabrik rokok besar sudah buka.  Patokan yang dipakai petani adalah umur 60 hari dipangkas, dan sebulan kemudian (umur 90 hari) panen. Tembakau yang ditanam sebelum bulan Mei membutuhkan banyak air hujan.  Sedangkan yang ditanam di atas bulan Mei akan melewati bulan September, sebelum panen tanaman akan banyak menyerap air kapiler yang mulai naik (“tanah ngompol”).  Kedua hal tersebut di atas dapat menurunkan mutu (aroma) tembakau.

 

·         Pemberian pupuk N dan air yang berlebihan, menyebabkan pertumbuhan tanaman terlalu tinggi dan besar.  Hal ini tidak dikehendaki karena walaupun hasilnya tinggi tetapi mutunya jatuh.

 

·         Status K tanah di Madura umumnya rendah sampai sedang (hasil analisis tanah terlampir).  Gejala kekurangan ZK mulai terlihat pada pertanaman umur satu bulan.  Daun-daun bawah tepi daunnya menguning dimulai dari ujung daun, selanjutnya bagian ini mengering dan terjadi perforasi.  Pada umur lebih lanjut daun-daun bawah cepat mengering sebelum waktunya (ngrosok).  Penggunaan 100 kg ZK per hektar dapat mencegah terjadinya hal tersebut, dan seringkali memperpanjang umur tanaman.  Beberapa petani agak bingung karena pada umur 90 hari belum siap panen.  Petani kooperator yang dibimbing oleh salah satu pabrik rokok besar diarahkan untuk panen bertahap.

 

·         Tidak tersedianya ZK menyebabkan petani ada yang memakai KCl atau Phonska, sehingga terjadi keluhan pabrik rokok akan tingginya Cl dalam daun tembakau.  Kandungan Cl yang dikehendaki kurang dari 1,5%.

 

·         Banyak petani yang menanam tembakau Jawa seperti Samporis, DB 101 dan Jepon Kasturi untuk memperoleh hasil yang tinggi.  Akan tetapi mutu yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginan pabrik rokok.  Nara sumber dari salah satu pabrik rokok besar sangat mengkhawatirkan akan hilangnya jenis tembakau Madura asli yang berakibat menurunnya mutu tembakau.

 

·         Menurut salah satu gudang pabrik rokok besar, varietas Prancak N-1 yang ditanam di lahan sawah dengan budidaya yang tepat, mutu aromanya menyamai tembakau tegal/gunung.

 

·         Ada pengelola gudang pabrik rokok keretek besar yang akan membuat pembibitan varietas Prancak N-1 seluas satu hektar tahun


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: