Posted by: mcenter | July 14, 2007

Puisi Madura: Upaya Pertahankan Bahasa Daerah

Puisi Madura: Upaya Pertahankan Bahasa Daerah

Sidoarjo, Kompas – Tidak hanya bahasa Jawa yang terancam ditinggalkan oleh penggunanya, bahasa Madura pun mengalami kondisi yang tidak jauh berbeda. Sebagai upaya mengangkat derajat bahasa Madura, Balai Bahasa Surabaya menyelenggarakan lomba penulisan puisi berbahasa Madura.

Ketua Dewan Juri Lomba Penulisan Puisi Bahasa Madura D Zawawi Imron, Senin (18/9), menilai, sejumlah puisi yang diikutkan dalam lomba cukup bagus. Kemurnian penggunaan bahasa Madura masih terjamin.

“Sebagai penyair modern, sebagian dari mereka membuat puisi bernuansa kekinian,” katanya. Meski bercerita tentang situasi masa kini, rasa Maduranya masih ada. Jika karya puisi Madura lama cenderung melakukan permainan bunyi-bunyi yang bagus, puisi yang diciptakan penyair modern lebih kreatif. Tidak lagi seperti syiir dan papregan (parikan).

Dewan Juri yang terdiri dari budayawan D Zawawi Imron, Dosen Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya Sri Ratnawati, dan penyair Timur Budi Radja memutuskan juara pertama adalah Hesbullah dari Universitas Madura dengan puisi Nemor Mara, juara kedua Kadarisman dari STKIP PGRI Sumenep dengan puisi Pello Koneng, dan juara ketiga Meta Mega Silvia dari SMA Negeri 3 Pamekasan dengan puisi Na’kana’ Ni’ Keni’ Ko’ Ta’ Akato’.

Kepala Balai Bahasa Surabaya, Amir Mahmud, mengatakan, hasil penelitian pada tahun 2000 menunjukkan, penutur bahasa Madura mencapai 15 juta orang. Namun, dalam perkembangannya cenderung mengalami penurunan. Karena itu, Balai Bahasa Surabaya menitikberatkan pada pemartabatan bahasa Madura. “Selain lomba penulisan puisi bahasa Madura, Balai Bahasa Surabaya akan mengadakan lomba penulisan cerpen berbahasa Madura serta lomba pidato bahasa Madura,” katanya.

Sri Ratnawati mengatakan, dalam interaksi sosial ataupun dalam pergaulan keseharian kalangan orang muda Madura cenderung lebih suka berbahasa Indonesia daripada bahasa Madura.

“Sekitar tahun 1980 saya melakukan penelitian di kalangan ibu-ibu di wilayah Pendalungan, terutama ibu-ibu yang tingggal di kompleks perumahan. Ternyata mereka tidak menggunakan bahasa Madura dalam interaksi sosialnya, tetapi bahasa Indonesia,” katanya. (TIF)

Sumber: Kompas, 19/09/06


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: