Posted by: mcenter | July 14, 2007

RAKITAN TEKNOLOGI TEMBAKAU MADURA

 

 

Umumnya petani Madura membudidayakan tembakau di tiga agroekosistem, yaitu (1) lahan ‘gunung’, merupakan lahan tadah hujan dengan kebutuhan airnya tergantung dari hujan, kurang lebih seluas 13% dari total areal tembakau Madura; (2) lahan tegal, dengan irigasi dari sumur atau air tanah dalam, kurang lebih 52% dari total areal tembakau Madura; dan (3) lahan sawah (35%). Jenis tanah dominansinya adalah Inceptisol, dicirikan oleh adanya epipedon okrik dan horison bawah kambik, dengan batuan aluvilium/batu kapur pada formasi geologi kuarter termuda sebagai bahan induk tanah. Hasil analisis tanah disajikan pada Tabel 2.

 

Keragaman produktivitas dan mutu tembakau Madura tergantung kondisi agroekosistemnya, di lahan gunung berkisar 0,4-0,5 ton/ha rajangan kering, tetapi mutunya tinggi dan sangat aromatis.  Produktivitas tembakau di lahan tegal 0,7 – 0,8 ton/ha, mutu tinggi dan aromatis; sedangkan di lahan sawah 1,1 – 1,2 ton/ha, namun mutunya agak rendah dan kurang aromatis (Murdiyati et al., 1999).  Kandungan nikotin tembakau yang dibudidayakan di lahan sawah relatif lebih rendah dibanding tegal dan gunung, sebaliknya kandungan gulanya lebih tinggi (Suwarso et al., 1992).  Dari beberapa penelitian diketahui, bahwa tembakau sawah kisaran nikotinnya antara 0,55 – 1,75 %, dan kadar gula 17 – 21 %.  Untuk tembakau tegal dan gunung kisaran kadar nikotin antara 2,00 – 4,73 %, dan kadar gula 14 – 18 % (Suwarso et al., 1992;  Rachman et al., 1992;  Suwarso et al., 1998).

 

Untuk memperbaiki mutu dan produktivitas hasil, dan merespon PP 19/2003 tentang pembatasan kadar nikotin dan tar dari setiap batang rokok, telah dilakukan introduksi varietas yaitu tembakau Madura rendah nikotin Prancak N-1 dengan teknologi budidayanya disajikan pada Tabel 3.

 

Tembakau Madura rendah nikotin varietas Prancak N-1 merupakan hasil silangan Tembakau Madura Prancak-95 dengan beberapa varietas tembakau Oriental (Turki) yang berkadar nikotin < 1 % oleh Suwarso et al dan telah dilepas pada bulan Mei 2004.  Dari hasil PRA yang telah dilakukan, tembakau ini sangat disenangi petani di kawasan pengkajian karena mutunya lebih baik, hasil rajangan hijau, krosok lebih sedikit dan daun lebih lemas sehingga mudah digulung dibandingkan dengan varietas yang umum dibudidayakan petani yaitu Jepon kenek dan Jepon Cangkring.

Tabel 2.  Hasil analisis tanah lokasi kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep

 

No.

Jenis Analisis

Nilai Penetapan

Kriteria Penilaian

1

pH H2O

pH KCl

7,6

6,6

Netral

2

C-organik  (%)

0,63

Sangat rendah

3

N-total (5)

0,11

Rendah

4

C/N ratio

6

Rendah

5

P-Olsen (ppm P)

18,07

Sedang

6

K (me/100 gr)

0,41

Sedang

7

Na

0,57

Sedang

8

Ca

29,42

Sangat tinggi

9

Mg

0,21

Sangat rendah

10

Tekstur

– Pasir (%)

– Debu (%)

– Liat (%)

Klas Tekstur Tanah

 

45

38

17

Lempung Liat Berpasir

11

Warna Tanah

Hitam

 

Tabel 3. Komponen teknologi pengelolaan tanaman tembakau Madura rendah nikotin

 

Uraian

Komponen Teknologi

Varietas Prencak N-1
Jarak tanam dalam gulud 0,4 x 0,35 m, dan antar gulud 0,9 m.
Umur Bibit Ditanam 35 hari dari persemaian
Penyiraman sampai umur 7 hari disiram setiap hari; antara umur 8 sampai 25 hari disiram 3 –5 hari sekali; umur 26 sampai pangkas disiram 5 – 7 hari sekali
Pemangkasan Pangkas dilakukan pada saat 10% populasi tanaman berbunga, dengan membuang calon bunga beserta 3 lembar daun pucuk.  Pembuangan sirung dilakukan secara mekanis 5 hari sekali atau dengan menggunakan zat penghambat tunas
Pemupukan ZA 200 kg/ha, (waktu pemberian 5-7 hst : 100 kg/ha; dan 21 hst 100 kg/ha)
  SP-36 100 kg/ha, saat tanam
  ZK 100 kg/ha, waktu pemberian 5-7 hst
  Pupuk Kandang 2 ton/ha, pupuk dasar
Pengendalian Hama-Penyakit Monitoring (PHT)
Penanganan Panen dan pasca Panen Panen dilakukan satu kali atau dua kali, tergantung kondisi tanaman.  Daun disortasi dan diperam.

Perajangan dilakukan malam hari, agar penjemuran dapat dilakukan sedini mungkin sehingga tembakau dapat kering dalam satu hari

 

Sumber : Moerdijati et al, 2004; Suwarso et al, 2004.

Keragaan pertumbuhan tembakau di lapang cukup baik dengan rataan jumlah daun berkisar 18-20 lembar, berbunga rataan berumur 52 hari, dan pemangkasan dilakukan saat tanaman berumur 55 hari dengan menyisakan daun berkisar 15 – 18 lembar daun per tanaman (Gambar 2, 3, dan 4).  Dari hasil diskusi dengan petani, diharapkan tanaman tembakau Madura rendah nikotin varietas Prancak N-1 ini dapat menghasilkan jumlah daun minimal 25 lembar per tanaman, seperti tembakau yang umum ditanam petani (non Prancak N-1).

 

            Kondisi cuaca yang tidak menentu tersebut tidak diduga oleh para petani tembakau, hal ini terlihat dari saluran-saluran darinase yang kurang memadai untuk mengantisipasi apabila turun hujan, sehingga air menggenang di areal pertanaman khususnya di lahan sawah dan tegal.  Untuk mengantisipasi kondisi cuaca yang demikian, para peneliti dan teknisi Balittas Malang, BPTP Jatim dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan kabupaten Sumenep, mengarahkan dan membina para petani agar segera dibuat saluran drainase, mendangir dengan tujuan memperbaiki aerasi di sekitar perakaran tanaman tembakau serta menambahkan pupuk ZA yang telah dilarutkan.  Perlakuan ini ternyata dapat menekan tingkat kerusakan tembakau, dan petani dapat memanennya walaupun jumlah daun yang dapat dipanen berkisar 4-6 lembar daun bagian atas atau pucuk.  Sedangkan di lahan gunung tingkat kerusakan (krosok) relatif lebih rendah tidak separah yang terjadi di lahan sawah dan tegal. Hal ini disebabkan petani di lahan gunung penanamannya lebih awal (yaitu awal Mei untuk mengantisipasi kekurangan air saat kemarau), sebaliknya di lahan sawah dan tegal (berkisar akhir Mei), disamping kondisi topografinya yang memungkinkan air mengalir secara gravitasi sehingga drainasenya lebih baik dan di areal pertanaman tembakau tidak mengalami penggenangan.

 

Teknologi pembuatan saluran drainase, pendangiran di sekitar perakaran, dan pemberian larutan pupuk ZA untuk menekan tingkat kerusakan tembakau (menekan krosok) akibat anomali iklim, berdampak positif dan telah ditiru atau diadopsi oleh petani non kooperator di sekitar areal pengkajian.

 

ANALISIS EKONOMI USAHATANI TEMBAKAU

 

MADURA RENDAH NIKOTIN

 

Produktivitas, mutu, dan kadar nikotin tembakau Madura rendah nikotin varietas Prancak N-1 dilakukan dengan cara mengambil 50 contoh petani kooperator dari 10 kelompok tani binaan masing-masing kelompok tani diwakili 5 orang, disamping itu untuk pembanding dikempulkan data dan informasi dari petani non kooperator (Tabel 4).

 

Tabel 13.        Rataan produktivitas, harga jual, dan kadar nikotin tembakau varietas Prancak N-1 di Gukuk-Guluk, Sumenep

 

Agroeko sistem

Petani Kooperator

(Varietas Prancak N-1)

Petani Non Kooperator

(Varietas Lainnya : Jepon Kenek, Bojonegoro, Samporis)

Hasil (kg/ha)

Harga Jual (Rp/kg)

Kadar Nikotin

(%)

 

Hasil (kg/ha)

Harga Jual (Rp/kg)

Kadar Nikotin

(%)

Sawah

552

16.467

2,64

705

15.800

3,49

Tegal

510

16.000

2,36

578

15.800

3,38

Gunung

539

21.400

2,24

608

17.000

2,90

Rataan

531

17.760

2,41

631

16.200

3,26

 

Tingginya kadar nikotin dari tembakau varietas Prancak N-1 maupun varietas lainnya disebabkan oleh kondisi pertanaman tembakau mengalami krosok, sehingga panen dilakukan pada daun-daun tembakau yang hijau yaitu pada bagian atas (pucuk), semakin ke atas posisi daun yang dipanen semakin tinggi pula kadar nikotinnya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Tso (1972) bahwa semakin ke atas poisi atau letak daun, semakin tinggi pula kadar nikotinnya.  Pada lahan-lahan dengan saat tanamnya terlambat (lahan sawah dan tegal), beberapa petani mengalami kerugian karena terpaksa dilakukan panen premateur akibat turun hujan pada bulan Agustus, menyebabkan hasil rajangan berwarna hijau dan mutunya rendah, rataan harga tembakau demikian berkisar Rp 4.000- Rp. 5.000 per kg (Tabel 5).

 

Tabel 5.    Rataan beaya produksi, penerimaan dan pendapatan petani tembakau di Guluk-Guluk, Sumenep

 

Agro-ekosis tem

Petani Kooperator

(Varietas Prancak N-1)

Petani Non Kooperator (Varietas Lainnya : Jepon Kenek, Bojonegoro, Samporis)

Beaya (Rp/ha)

Penerimaan

(Rp/ha)

Pendapatan

(Rp/ha)

Beaya (Rp/ha)

Penerimaan

(Rp/ha)

Pendapa tan

(Rp/ha)

Sawah

8.800.500

9.420.865

698.930

11.004.500

11.121.330

118.330

Tegal

9.406.125

8.250.455

-1.188.625

9.839.300

9.156.500

-6.828.330

Gunung

14.153.035

11.536.465

-2.616.565

14.193.500

10.358.830

-3.934.660

Rataan

10.648.510

9.587.980

-1.161.660

11.712.440

10.212.220

-2.699.500

 

PENUTUP

 

1.   Respon dan aktivitas kelompok tani kooperator cukup baik terhadap teknologi budidaya tembakau Madura rendah nikotin varietas Prancak N-, dismaping produktivitas dan mutu yang dihasilkan baik, tembakau ini dapat diterima pasar yaitu PR Gudang Garam dan PR Sampoerna.

 

2.   Diharapkan pengembangan areal tanam tembakau Madura rendah nikotin dapat meluas, untuk mengantisipasi PP 19/2003 tentang pembatasan kadar nikotin di setiap batang rokok.

 

3.   Produktivitas tembakau Madura rendah nikotin varietas Prancak N-1 dari petani kooperator berkisar 510-552 kg kering rajangan/ha atau dengan rataan 531 kg kering rajangan/ha dengan hasil tertinggi di agroekosistem sawah.   Kadar nikotin berkisar 2,24 – 2,64 % rataan 2,41; kadar nikotin tertinggi di agroekosistem sawah dan terendah di gunung.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: