Posted by: mcenter | July 14, 2007

Temabakau madura

Tembakau Madura mempunyai mutu spesifik yang
sangat dibutuhkan oleh pabrik rokok sebagai bahan
baku utama. Oleh karena itu, tembakau Madura ditanam
secara terus-menerus pada berbagai tipe lahan, mulai lahan
sawah, tegal, sampai pegunungan (dataran tinggi). Pengolahan
tembakau rajangan umumnya juga berbeda sesuai
dengan tipe lahan.
Mutu dan hasil akhir tembakau, baik dalam bentuk
krosok maupun rajangan, sangat ditentukan oleh faktor
alam, budi daya, jenis lahan, waktu tanam, serta waktu dan
cara panen. Salah satu kegiatan panen yang perlu dipelajari
adalah cara pemetikan daun karena pemetikan yang tidak
tepat akan menyebabkan mutu dan hasil yang rendah.
Daun yang dipetik terlalu muda (daun berwarna hijau
muda), bila diperam akan sulit masak (menguning) dan bila
dirajang akan menghasilkan tembakau rajangan kering yang
berwarna hijau mati. Sebaliknya bila daun dipetik terlalu tua
atau sudah melewati tingkat kemasakan (daun berwarna
kekuningan dan bernoda cokelat), bila diperam akan banyak
yang busuk dan bila dirajang akan menghasilkan rajangan
kering dengan banyak noda hitam. Untuk mendapatkan mutu
dan hasil yang maksimal, pemetikan perlu dilakukan pada
saat daun sudah cukup tua, yang ditandai dengan warna
daun hijau kekuningan dan ujung daun berwarna cokelat
(Lembaga Tembakau Surabaya, 1993). Menurut Hartana
(1978), kandungan senyawa penentu mutu, antara lain
karbohidrat, klorofil, karotin, dan xantofil, terdapat pada
tembakau yang telah masak optimal. Pada saat tersebut,
tembakau paling menguntungkan untuk diolah menjadi
tembakau bermutu baik. Hamid (1979) juga menyatakan
bahwa pemetikan daun yang tepat masak, selain menghasilkan
krosok yang tinggi, juga akan menghasilkan krosok
yang mempunyai sifat-sifat kimia dan fisik terbaik, mudah
diolah, aman disimpan, memberikan aroma dan cita rasa yang
enak, serta warna yang cerah.
Tujuan penulisan ini adalah untuk menginformasikan
teknik pemetikan daun tembakau Madura yang ditanam di
lahan sawah, tegal, dan pegunungan.
BAHAN DAN METODE
Pengamatan teknik pemetikan daun tembakau Madura
dilakukan di lahan sawah, tegal, dan pegunungan pada tahun
1999. Pengamatan cara panen untuk tembakau lahan sawah
dilakukan di Desa Muangan dan Talang, Kecamatan
Saronggi, Sumenep. Untuk tembakau lahan tegalan,
pengamatan dilakukan di Desa Kambingan Timur, Kecamatan
Saronggi, dan Desa Guluk-guluk Kecamatan Guluk-guluk,
Sumenep, sedangkan untuk tembakau gunung di Desa Sera
Barat, Kecamatan Bluto, Sumenep.
Cara pemetikan dibedakan menurut jenis lahan, yaitu:
(1) di lahan sawah dan tegal dengan cara pemetikan serentak
dan (2) di lahan pegunungan/dataran tinggi dengan cara
pemetikan bertahap.
Pengamatan menggunakan teknik observasi lapang dan
wawancara kemudian hasilnya dibandingkan dengan hasil
penelitian yang ada. Informasi dikumpulkan dengan
berpedoman pada daftar pernyataan ringkas. Wawancara
dilakukan pada petani yang pernah menjadi petani
kooperator pada on farm research (OFR). Pengamatan
dilakukan pada tanaman tembakau milik petani di tiga daerah
pengamatan tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Panen Serentak pada Satu Batang
Tembakau yang ditanam di lahan sawah maupun tegal
dengan pengairan dari P2AT atau sumber dipetik secara
serentak dalam satu batang tanaman. Jumlah daun yang
dipanen dengan cara petani tidak berbeda dengan hasil
penelitian Hartono et al. (1991; 1993) seperti disajikan pada
Tabel 1.
Cara panen petani di lahan sawah, daun dipanen setelah
24 hari tembakau di-topping, menghasilkan jumlah daun 12
lembar, sesuai hasil penelitian Rachman et al. (1992). Di
lahan tegal, pemetikan daun setelah 24 hari di-topping dan
dilakukan secara serentak menghasilkan jumlah daun 12
lembar, sesuai hasil penelitian Heliyanto et al. (1988). Untuk
tembakau lahan sawah, cara petik yang direkomendasikan
sesuai hasil penelitian adalah 12 lembar daun atas dengan
TEKNIK PEMETIKAN DAUN TEMBAKAU MADURA
Heri Istiana1
1Ajun Teknisi Litkayasa Madya pada Balai Penelitian Tanaman
Tembakau dan Serat, Jln. Raya Karangploso, Kotak Pos 199 Malang,
Telp. (0341) 491447
Buletin Teknik Pertanian Vol. 8. Nomor 1, 2003 23
membiarkan daun di bawahnya menjadi krosok, sedangkan
di lahan tegal adalah dengan membiarkan daun di bawah
daun ke 8-12 daun dari atas menjadi krosok.
Teknik petani dan teknik yang direkomendasikan
menghasilkan jumlah daun yang terpanen sama. Namun
demikian, kedua teknik tersebut ada perbedaannya yaitu
kapan tembakau dipanen. Pada cara petani, panen dilakukan
setelah 24 hari di-topping, sedangkan berdasarkan hasil
penelitian, tembakau dipanen setelah daun di bawah daun
ke-12 dari atas (lahan sawah) atau di bawah daun ke-8-12
dari atas menjadi krosok. Petani melakukan cara panen yang
demikian karena ada beberapa pertimbangan, yaitu:
1. Untuk mendapatkan tenaga kerja perajang dan widig,
petani harus mendaftar saat tembakau baru di-topping.
Petani sulit menerima teknik yang direkomendasikan,
karena dengan teknik tersebut, petani tidak dapat
mengetahui jauh sebelumnya kapan tembakau dipanen.
2. Harga tembakau rajangan daun bawah cukup rendah
bahkan tidak laku dijual.
3. Harga hasil rajangan kering daun atas tidak berbeda
dengan tembakau yang dipanen secara serentak.
4. Kepemilikan lahan cukup sempit, sehingga panen secara
serentak diperlukan untuk bisa menghasilkan rajangan
daun kering lebih 25 kg. Hal ini untuk memudahkan petani
dalam pemasaran karena pemilik gudang tembakau hanya
dapat membeli tembakau dengan kemasan 25 kg/bal atau
minimal 25 kg/bungkus.
Petik Bertahap Sesuai Dengan Tingkat Kemasakan
Daun
Cara panen bertahap 2-3 kali dalam satu batang dilakukan
oleh petani yang menanam tembakau di daerah pegunungan
(dataran tinggi). Di daerah tersebut pengairan bergantung
pada curah hujan, sehingga tembakau ditanam pada saat
masih ada hujan. Cara petani sejalan dengan hasil penelitian
Hartono et al. (1993). Berdasarkan harga yang dicerminkan
oleh indeks mutu dan pendapatan petani yang dicerminkan
oleh indeks tanaman, petik daun bertahap 2-3 kali memberikan
hasil yang lebih baik dibanding petik serentak.
Sesuai hasil penelitian yang direkomendasikan, petik
daun tembakau yang terbaik untuk daerah dataran tinggi
(pegunungan) adalah memetik 8 daun dari atas dengan
membiarkan 4-6 daun di bawah menjadi krosok. Cara ini lebih
baik dibanding petik 12 lembar daun secara bertahap
(Hartono et al., 1993), walaupun pemetikan bertahap
memberikan hasil indeks tanaman dan mutu lebih tinggi. Hal
ini karena petik bertahap memerlukan tenaga, biaya dan
waktu lebih banyak. Namun demikian, cara yang
direkomendasikan peneliti sulit diterima petani, karena petik
dengan berpedoman pada jumlah daun tertentu dengan
membiarkan daun di bawah menjadi krosok, akan
menyulitkan petani karena ada beberapa faktor yang harus
dipertimbangkan, antara lain keterbatasan air sehingga daun
tembakau cepat masak (menguning) sebelum daun bagian
pucuk layak dipetik. Oleh karena itu, untuk menghindari
daun tembakau banyak yang menjadi krosok, petani
melakukan petik daun sesuai dengan tingkat kemasakan,
yaitu 2-3 kali dalam satu batang.
Bagi petani yang memiliki lahan sempit, panen
tembakau sampai tiga kali menghasilkan tembakau rajangan
kering kurang dari 25 kg untuk setiap kali petik. Oleh karena
itu, dalam mengolah daun tembakau, petani perlu bergabung
dengan petani lainnya. Petani yang tidak bergabung biasanya
akan menjual daun basah di lapang atau ditebaskan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Teknik petikan tembakau secara serentak menurut petani atau
menurut hasil penelitian menghasilkan jumlah daun yang
sama, baik untuk tembakau lahan sawah maupun lahan tegal
yang pengairannya dari sumber atau P2AT. Namun, teknik
petani dinilai lebih praktis dibanding menurut hasil
penelitian, yaitu pemetikan dilakukan setelah 24 hari ditopping.
Tembakau yang diusahakan di dataran tinggi
dipetik secara bertahap 2-3 kali untuk tiap batang.
Untuk memperoleh teknik pemetikan daun yang
optimal perlu dilakukan penelitian mengenai berapa hari
daun tembakau harus dipanen setelah topping pada tiap
daerah (gunung, tegal, dan sawah). Dengan demikian,
teknologi yang didapat tidak mengubah kebiasaan petani
namun hanya memperbaiki cara yang sudah ada.
Tabel 1. Jumlah daun yang terpanen menurut hasil penelitian dan
cara petani
Cara panen Jumlah daun
Hasil penelitian (daun dipanen setelah
di bawah daun tertentu menjadi krosok)
Lahan tegal (Hartono et al., 1991) 8-12
Lahan sawah (Hartono et al., 1993) 1 2
Cara petani (panen setelah 24 hari di-topping)
Lahan tegal (Heliyanto et al., 1988) 1 2
Lahan sawah (Rachman et al., 1992) 1 2
24 Buletin Teknik Pertanian Vol. 8. Nomor 1, 2003
DAFTAR PUSTAKA
Hamid, A. 1979. Hubungan waktu pemetikan daun dengan kualitas
pada tembakau Virginia. Pemberitaan Penelitian Tanaman
Industri 32: 25-38.
Hartana, I. 1978. Budi daya tembakau cerutu I. Masa prapanen.
Balai Penelitian Perkebunan, Jember. hlm. 55.
Hartono, J., A.D. Hastono, dan A.S. Murdiyati. 1991. Pengaruh
jumlah daun yang dipanen terhadap hasil dan mutu tembakau
Madura di daerah dataran tinggi. Penelitian Tanaman
Tembakau dan Serat XVII (1): 20-26.
Hartono, J., H. Istiana, Lestari, dan Suwarso. 1993. Pengujian
beberapa cara panen terhadap produksi dan mutu tembakau
Madura di lahan sawah. Jurnal Penelitian Teknologi Hasil


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: